Usaha Permak Pakaian, Pemuda Karawang Sukses di Lampung
LAMPUNG — Ketekunan dan kerja keras menjadikan sebuah usaha bisa menjadi pegangan sumber mata pencaharian. Pemuda bernama Marwan Mardiansah (26) merupakan salah stau contohnya. Dia rela merantau dari kampung halamannya di Karawang Jawa Barat ke Lampung dengan membuka usaha tukang permak levis, juga pakaian segala jenis.
Sebagai seorang pemuda lulusan SMP yang sejak kecil melihat usaha keluarga mulai dari ayah hingga dua kakak lelakinya bekerja sebagai tukang permak levis dirinya mencoba peruntungan dalam usaha tersebut dengan belajar menjahit.
Proses belajar menjahit awalnya dilakukan oleh Marwan enam tahun silam dari sang ayah dengan cara membantu menjahit pesanan pakaian segala jenis yang akan dipermak. Selanjutnya setelah cukup mahir ia melamar pekerjaan di sebuah perusahaan konveksi di Bandung.
Sebagai seorang pemuda yang memiliki keahlian Marwan menyebut bekerja sebagai karyawan atau ikut orang justru membuatnya tidak berkembang secara finansial,keahlian dan pengalaman dengan mengandalkan sistem gaji dari pemilik usaha.
“Bermodalkan alat warisan dari ayah karena beliau sudah tua dan tidak bisa keliling saya mulai mandiri dan mencoba membuka usaha sendiri dengan merantau ke daerah Cilegon sebagai tukang permak levis serta berbagai pakaian jenis lain,” beber Marwan Mardiansah yang ditemui Cendana News tengah menyelesaikan pesanan mengecilkan kaos olahraga milik satu warga di Desa Bakauheni,Selasa (17/10/2017)
Marwan menyebut istilah vermak atau permak dengan merombak atau memanfaatkan kembali pakaian yang kekecilan, longgar, kepanjangan. Awalnya berupa jenis jins yang di Indonesia merk levis lebih dikenal sehingga usaha permak (ada yang menyebutnya vermak ) lebih dikenal sebagai permak levis. Padahal usaha tersebut tidak hanya permak levis melainkan berbagai pakaian di antaranya kaos, baju, kemeja dengan berbagai jenis kain untuk diperbaiki.
Pada awal hijrah ke Cilegon Marwan mengaku awalnya masih bekerja dengan menggunakan sistem gerobak dorong persis seperti yang dilakukan sang ayah berkeliling menggunakan gerobak dorong yang dimodifikasi dengan alat jahit serta dilengkapi kursi untuk duduk.
Gerobak roda dua yang biasa dipergunakan pedagang lain untuk berjualan tersebut diakuinya dibuat kala itu dengan modal sekitar Rp500.000 lengkap dengan peralatan menjahit berupa mesin jahit, benang, kancing, gunting, meteran serta pernak pernik lain dengan total modal sekitar Rp2 juta.
Ia menyebut modal utama usaha kecil tersebut adalah menyingkirkan rasa malu dan siap berlelah lelah mendorong gerobak memasuki komplek perumahan warga atau mangkal di sebuah lokasi yang cukup dikenal.
Berbekal gerobak meski biaya jasa jahit atau vermak levis masih Rp5.000 hingga Rp10.000 sesuai jasa yang diberikan dan tingkat kesulitan, dirinya mulai bisa memperoleh penghasilan jutaan rupiah perbulan dengan hasil harian di atas Rp100.000.
Hasil dari uang yang dikumpulkan dengan rata rata perhari berhasil menjahit pakaian sekitar puluhan potong berupa menambal pakaian sobek, kekecilan, terlalu longgar dan berbagai jenis masalah pakaian seperti lepas kancing atau kerusakan resleting digunakan untuk membeli kendaraan roda dua bekas. Berbekal kendaraan roda dua tersebut ia memberanikan diri menyeberangi Selat Sunda untuk memulai usaha di Lampung.
“Saya pindah ke Lampung setelah sebelumnya melakukan survei selama dua hari ke Lampung Timur dan Lampung Selatan peluang vermak levis terbuka karena belum ada usaha sejenis,” terang Marwan.
Ia menyebut usaha jahit menjahit di Lampung memang banyak namun usaha vermak levis keliling seperti dirinya masih terbuka lebar dan ia mulai berusaha di Mataram Baru Kabupaten Lampung Timur.
Menggunakan kendaraan roda dua yang sudah dimodifikasi menempuh perjalanan rata rata puluhan kilometer perhari di wilayah Lampung Timur bisa memberinya keuntungan ratusan ribu perhari dari puluhan pelanggan yang menggunakan jasanya.
Marwan tak mematok harga yang tinggi untuk ongkos jasa menjahit dengan masih menggunakan sistem manual digenjot dengan dua kakinya seperti saat awal bekerja. Saat ini ia sudah mempergunakan alat jahit elektrik.
Dengan alat jahit elektrik ia tidak harus kesusahan menggenjot mesin jahit model lama. Ia juga menyebut kerap satu pelanggan bisa membawa lebih dari lima potong pakaian dengan sistem borongan hingga ratusan ribu dan diterimanya dengan senang hati.
“Kunci agar konsumen nyaman ya berusaha merebut hati konsumen salah satunya memberi diskon atau harga murah agar saat saya datang mereka tetap menggunakan jasa saya,” terang Marwan.
Setelah beberapa lama di Lampung Timur Marwan mencoba menjajaki wilayah Lampung Selatan dan kini menetap di wilayah Muara Bakau dengan mengontrak. Beberapa kecamatan pun dikelilingi setiap hari meski terkadang di satu lokasi dirinya sudah mendapat pelanggan lebih dari lima pekerjaan setiap hari sehingga harus diselesaikan saat itu juga, sebelum ia pindah ke lokasi lain.
Sebagai usaha kecil dengan tingkat keahlian yang jarang dimiliki orang bukan berarti Marwan semaunya menetapkan harga bahkan kini saat ongkos jahit sudah mencapai Rp25.000 hingga maksimal Rp50.000 dirinya masih mau ditawar pelanggan dalam menentukan harga.
Uang ratusan ribu yang diakuinya diperoleh setiap hari dengan jutaan rupiah setiap bulan dipergunakan sebagian untuk biaya hidup, membayar kontrakan dan sebagian untuk ditabung.
“Setelah mendapatkan modal banyak saya ingin membuka konveksi dan sablon di kampung halaman karena tidak selamanya saya bekerja keliling seperti ini yang pasti ingin mandiri,” paparnya.
Haji Aras,salah satu pelanggan yang mengecilkan jubah untuk pakaian ibadah mengaku pekerjaan menjahit dan mengecilkan pakaian yang dikerjakan oleh Marwan cukup rapi dan dengan biaya murah hanya Rp15.000 jubah yang terlalu besar tersebut bisa dikecilkan karena dirinya tidak bisa melakukan proses pengecilan sendiri.
“Kalau mau dibawa ke tukang jahit jauh untungnya tukang permak keliling rutin datang ke sini sehingga saya bisa mengecilkan pakaian saya”beber Haji Aras.
Ia juga salut dengan Marwan si tukang vermak levis keliling yang meski masih muda memiliki jiwa usaha yang mandiri dan bisa membuka lapangan pekerjaan bagi dirinya sendiri meski pekerjaan tersebut bukan pekerjaan yang membutuhkan modal besar. Berkat ketekunan usaha kecil tersebut bahkan bisa menghasilkan pundi pundi uang yang cukup menjanjikan setiap hari.
