90 Persen Warga Filipina Dukung Perang Narkotika Duterte

MANILA – Hampir 90 persen warga Filipina mendukung perang melawan narkotika  yang dilakukan Presiden Rodrgido Duterte. Meskipun dari responden jajak pendapat tersebut, dua pertiga di antara pendukung Duterte mereka meyakini telah terjadi pembunuhan di luar hukum dalam kebijakan tersebut.

Ribuan warga Filipina dilaporkan tewas dalam kebijakan perang melawan narkotika Duterte. Kondisi tersebut memicu kecaman keras dari masyarakat internasional. Pegiat hak asasi manusia menuding kepolisian Filipina membunuh orang yang diduga menggunakan dan mengedarkan narkotika tanpa melalui proses pengadilan.

Namun, kepolisian setempat menolak tudingan itu. Pihak kepolisian menyebut bahwa lebih dari 3.900 korban dalam gerakan melawan narkotika, yang mereka jalankan. Korban tersebut  dalam kondisi terbunuh karena melakukan perlawanan bersenjata saat hendak ditangkap.

Sebanyak 88 persen dari 1.200 petanggap jajak pendapat yang dilakukan Pulse Asia bulan lalu mengatakan, bahwa mereka mendukung kebijakan keras Duterte tersebut. “Hanya dua persen menolak dengan tegas, sementara sembilan persen sisanya mengaku belum bisa memutuskan,” ujar Pulse saat mengumumkan hasil jajak pendapat yang dilakukannya.

Namun, 73 persen petanggap juga meyakini terjadi pembunuhan di luar hukum, atau naik dari 67 persen dari jajak pendapat serupa yang di gelar pada Juni. Sekitar seperlima petanggap yakin semua pembunuhan dijalankan sesuai dengan hukum, turun dari 29 persen dari Juni.

Pembunuhan ekstra judisial adalah persoalan politik yang diperdebatkan dengan hangat di Filipina saat ini. Banyak pihak mendefinisikan konsep tersebut berbeda dengan yang sering digunakan oleh organisasi internasional ataupun kelompok pembela hak asasi manusia.

Pulse Asia dalam surveinya mendefinisikan konsep tersebut sebagai pembunuhan yang dilakukan oleh orang yang punya otoritas, seperti polisi atau tentara. Pembunuhan yang bertentangan dengan aturan hukum yang berlaku.

Kepala kepolisian nasional Ronald dela Rosa mengatakan, para pengkritik terlalu fokus pada tudingan pembunuhan di luar jalur hukum. Hal tersebut mengakibatkan adanya pengaruh persepsi publik Filipina terhadap kebijakan presiden.

“Mereka selalu menyebut soal pembunuhan ekstra judisial untuk mempengaruhi pendapat warga,” katanya.

Juru bicara presiden Ernesto Abella mengatakan bahwa jajak pendapat Pulse Asia menunjukkan bahwa warga Filipina sangat mengapresiasi upaya pemerintah untuk menghancurkan jaringan narkoba di negara tersebut.

Dia mengatakan bahwa Duterte sudah bersikap tegas terhadap pembunuhan yang tidak sesuai dengan hukum.  “Bahwa mencabut nyawa para terduga yang tidak bersenjata dan tidak melawan penangkapan tidak akan dibiarkan dan akan mendapatkan hukuman,” tandasnya.

Sementara itu, pengamat politik Ramon Casiple mengatakan bahwa jajak pendapat itu menunjukkan dukungan dari warga yang merasa tingkat kriminalitas menurun. Namun hal yang berbeda ditunjukkan oleh pihak yang terdampak oleh perang anti-narkoba.

“Masyarakat yang anggotanya tewas, yang biasanya berasal dari kelompok miskin kota, semakin menentang pembunuhan itu,” kata dia. (Ant)

Lihat juga...