PADANG — Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit mengimbau semua pihak untuk aktif mencarikan solusi persoalan harga komoditas bawang merah di daerah itu yang seringkali anjlok di bawah harga normal sehingga merugikan petani.
“Pemerintah dan instansi lain terkait, seperti Bulog, BI, dan masyarakat petani bawang harus duduk bersama mencari solusi,” kata dia ketika dihubungi dari Padang, Jumat (29/9).
Ia mengatakan hal itu terkait turunnya harga bawang merah hingga Rp10 ribu per kilogram pada tingkat petani di Kabupaten Solok sejak dua minggu terakhir.
Ia mengatakan selama ini harga komoditas bawang merah sepenuhnya bergantung pada mekanisme pasar. Jika stok berlebih sementara kebutuhan tetap, secara otomatis harga akan turun.
Mekanisme pasar seringkali membuat petani merugi karena tidak ada jaminan harga yang pasti. Ditambah pula ada komoditas yang sama masuk dari luar Sumbar hingga jumlah stok di pasar makin melimpah yang akibatnya harga makin tertekan.
Nasrul khawatir jika persoalan itu terus berlanjut, petani yang menanam bawang merah di daerah itu akan beralih pada komoditas lain dan potensi Sumbar sebagai sentra bawang merah di Sumatera tidak akan terwujud.
Padahal, luas lahan tanam bawang merah di Sumbar saat ini cukup besar, mencapai sekitar 8.000 hektare dengan rata-rata panen tujuh ton per hektare per tahun.
Melihat statistik itu, hasil panen bawang merah Sumbar harusnya bisa memenuhi kebutuhan beberapa provinsi tetangga.
Kepala Bulog Divre Sumbar Benhur Ngkaimi pada kesempatan sebelumnya, mengatakan kendala penyerapan dan distribusi bawang merah adalah belum adanya teknologi penyimpanan yang sesuai untuk komoditas itu.
Ia mencontohkan untuk komoditas beras, ada standar seperti kadar air dan patahan bulir yang dipertimbangkan dalam proses penyimpanan, sedangkan untuk bawang merah, standar itu belum ada.
Jika persoalan itu bisa diatasi, menurut dia, Bulog Sumbar bisa berkoordinasi dengan Bulog provinsi tetangga dalam hal distribusi dan pemasaran (Ant).