Suka Duka Pengusaha Kelapa di Tengah Seretnya Perputaran Uang

LAMPUNG — Bekerja sebagai tukang petik, mengupas hingga menjual kelapa serta hasil pembuatan kopra sejak belum menikah hingga kini, tak menyurutkan semangat Julianto (30), warga Desa Tanjungsari Kecamatan Palas, Lampung Selatan untuk bertahan dalam usaha jual beli komoditas tersebut. Berbagai jenis kelapa ia tampung, mulai hibrida dan hingga dari beberapa wilayah seperti Penengahan, Sidomulyo, Sragi.

Sebelum terjun dalam bidang bisnis pertanian, ia sempat bekerja di industri garmen di Jakarta dengan penghasilan yang cukup untuk kebutuhan sehari hari, termasuk membayar kontrakan dan menabung sebagai modal usaha. Setelah pemutusan hubungan kerja, ia kembali ke Lampung dan mulai mencoba peruntungan dalam bisnis jual beli hasil pertanian berupa kelapa, buah pepaya, nangka dan pisang.

“Awalnya saya hanya membeli dari petani selanjutnya saya setor ke pengepul namun setelah modal cukup saya menjadi pemilik usaha jual beli kelapa dan mulai mengirim langsung ke Bekasi dan Bandung,” terang Julianto saat ditemui Cendana News di tempat penggarangan kopra sekaligus pengumpulan kelapa miliknya, Selasa (26/9/2017).

Usaha kecil dengan modal awal Rp5 juta untuk pembuatan tempat penggarangan (pengasapan kopra) serta operasional pengiriman dengan sistem jasa ekspedisi, ia memulai usaha jual beli. Dalam perjalanan awal, ia sempat ditipu oleh rekanan yang akhirnya kabur dengan membawa uang penjualan senilai Rp10juta.

“Namun hal tersebut tidak membuat saya kapok,” sebutnya.

Ia menyabutkan, pasokan buah kelapa diakuinya menyesuaikan musim panen, dimana akan memasuki puncak masa panen saat musim penghujan sementara saat musim kemarau pasokan mengalami pengurangan. Kurangnya pasokan belum bisa ikut mendongkrak hasil penjualan bahkan cenderung mengalami penurunan.

Khusus untuk kelapa kupas yang dibeli secara gelondongan dari petani proses penyortiran dilakukan sebagai komoditas yang dijual dalam bentuk kelapa butir dan kelapa sortiran yang tidak masuk dalam ukuran akan dipecah dan dijemur serta digarang menjadi kopra. Harga kopra kering yang semula seharga Rp9 ribu per kilogram bahkan kini hanya mencapai harga Rp7 ribu.

“Kopra yang saya buat dikirim ke perusahaan pengolahan minyak goreng di Bandarlampung, sementara kelapa utuh dikirim ke Jakarta dan Bekasi,” terang Julianto.

Anjloknya harga kelapa dan kopra masih ditambah dengan lambatnya perputaran uang dari pemilik lapak di Jakarta dan Bekasi. Saat barang dikirim dirinya kerap tidak menerima uang secara tunai bahkan jikalau menerima bukan uang hasil penjualan kelapa melainkan biaya pengangkutan dari Lampung ke Jakarta.

Resiko menerima pembayaran secara bertahap hingga rentang waktu dua pekan setiap bulan terkadang memaksanya harus mencari modal pinjaman. Setiap dua kali pengiriman dalam satu pekan dirinya menyebut mengirimkan sebanyak 3.000 butir dalam satu unit kendaraan L300 dan dikirim dua kali dalam sepekan.

Julianto (kanan) menyortir kelapa yang akan dijual ke Bekasi dan Jakarta sebagai bisnis yang ditekuninya di Desa Tanjungsari Kecamatan Palas [Foto: Henk Widi]
Pengiriman satu kendaraan L300 dengan nilai penjualan sekitar Rp12 juta kerap masih diangsur saat pengiriman dengan hanya dibayarkan ongkos angkut kendaraan yang dalam sekali pengiriman mengeluarkan sebesar Rp2juta. Uang penjualan kelapa yang dibayarkan dua pekan kemudian bahkan diakuinya kerap hanya dijual separo dan sisanya disusulkan ketika pengiriman tahap selanjutnya dilakukan.

“Bagi pemilik bisnis jual beli hasil pertanian kelapa, pisang serta komoditas lain sistemnya umum seperti itu sehingga kiatnya harus saling percaya dan bisa mempertahankan pasokan,” bebernya.

Ia menyebut meski nilai penjualan kelapa dan kopra cukup besar kerap hanya berwujud nota namun terkadang uang tunai serta sebagian ditransfer kerap dibayarkan dalam waktu yang lama. Perputaran uang tersebut diakuinya menyesuaikan banyaknya permintaan akan kelapa terutama saat menjelang hari raya dan hari keagamaan tertentu dengan tingkat kebutuhan kelapa tinggi.

Andika, salah satu pemilik usaha pembelian kelapa yang bekerjasama dengan Julianto juga memahami sistem bisnis hasil pertanian yang ditekuninya kerap tidak mendapatkan uang tunai secara langsung. Proses menunggu perputaran barang dan perputaran uang menjadikan bisnis usaha jual beli kelapa. Harus siap mengambil resiko menerima perputaran uang yang terlambat.

“Meski perputaran uang lambat saya tetap mantap dalam usaha bisnis pertanian karena hanya membutuhkan ketekunan dan kesabaran meski terkadang modal minim,” beber Andika.

Resiko perputaran uang yang terlambat dibandingkan bisnis lain yang sebagian dengan sistem pembayaran tunai tersebut tidak lantas menyurutkan niat Andika menekuni usaha kecil jual beli hasil pertanian. Ia bahkan terus melakukan proses pengiriman kelapa ke Jakarta dan Bekasi dengan nilai pengiriman mencapai Rp24 juta per pekan.

Upaya menyiasati seretnya perputaran uang ia melakukan bisnis jual beli buah buahan lainnya seperti semangka dan pepaya yang dibeli dengan sistem tunai. Selain harus menunggu musim berbeda dengan kelapa yang banyak diperoleh dari petani jual beli buah buahan hasilnya dipergunakan untuk kelancaran usaha sehingga sistem subsidi silang dalam menjalankan modal dilakukan agar usahanya tetap bisa berjalan lancar.

Lihat juga...