PADANG — Menyikapi adanya kelangkaan gas elpiji 3 kg di Kota Padang, Sumatera Barat, sejumlah masayarakat menduga, kelangkaan yang terjadi dikarenakan PT. Pertamina tengah melakukan upaya menghilangkan gas elpiji bersubsidi, dan mengarahkan untuk menggunakan Bright Gas 5,5 kg.
Seperti yang dikatakan salah seorang warga di Kelurahan Air Pacah, Padang, Hendri. Ia menyebutkan, kelangkaan gas “melon” bulan ini, seperti Pertamina yang mulai membatasi menjual bahan bakar minyak premiun dan mengarahkan untuk menggunakan pertalite.
“Dulu memang pernah ada agak susah mendapatkan gas elpiji 3 kg nya, dari warung ke warung, dan dari agen ke agen, hasilnya yang ada hanya tabung kosong. Sekarang, sudah hampir satu bulan, kondisinya masih saja begitu. Atau, mungkinkah Pertamina ingin menghilangkan gas elpiji 3 kg ini, layaknya seperti BBM premiun yang mulai hilang dari pasaran,” ucapnya, Selasa (26/9/2017).

Ia berharap, pemerintah melalui PT. Pertamina, jangalah membuat masyarakat panik dan kesulitan seperti ini, karena cukup banyak masrayakat yang rumah tangga kurang mampu menggunakannya.
“Jika pun ada didapatkan, harga elpiji nya pun bisa mencapai Rp23.000 per tabung 3 kg nya. Kalau biasanya, hanya Rp17-18.000 per tabungnya. Padahal, informasi kenaikan harga elpiji 3 kg pun tidak ada,” ungkapnya.
Warga Kota Padang lainnya, Dazul mengatakan, belum ada cara yang bisa dilakukan supaya pemakaian gas elpiji 3 kg ini lebih hemat. Karena, pemakaian yang ada saat ini sudah sewajarnya yang digunakan oleh istrinya yang di rumah. Untuk satu tabung gas elpiji 3 kg, biasanya mampu bertahan 2-3 minggu, dengan kegunaan memasak dan merebus air.
“Kondisi seperti ini, saya sudah tanya-tanya ke agen. Ternyata harga Bright Gas 5,5 Kg per tabungnya itu Rp300.000 lebih, dan isi ulang gas nya Rp70.000 hingga Rp80.000 per tabungnya. Harga yang demikian, bagi saya yang hanya berpenghasilan pas-pasan per bulan, terasa sangat berat,” ujarnya.
Ia berharp, jika benar ada upaya PT. Pertamina untuk menghilang gas elpiji 3 kg itu, harap dikaji dan dipertimbangkan lagi. Karena jika menggunakan Bright Gas 5,5 Kg, sangat menyulitkan masyarakat yang kurang mampu.
Sementara itu, menanggapi kekhawatiran dari sejumlah masyarakat tersebut, dari pihak PT. Pertamina, Officer Communication and Relations Sumbagut, Herdiyanti Dwi Lestari menjelaskan, untuk memenuhi permintaan masyarakat terkait gas elpiji 3 kg, Pertamina telah menggelar operasi pasar elpiji 3 kg di Kota Padang pada tanggal 21-22 September 2017 lalu, sebagai untuk memenuhi kebutuhan LPG bersubsidi. Pertamina mengklaim melalui operasi pasar itu, saat ini kondisi sudah berangsur normal.
Ia menyebutkan, pertamina menyalurkan elpiji bersubsidi 3 kg sesuai dengan penyaluran dan kebutuhan normal harian di Kota Padang sebesar 24.000 tabung per hari, melalui 23 agen dan 683 pangkalan sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET). Pertamina hanya menjual di outlet resmi yaitu Agen dan Pangkalan yang memasang plank HET.
“Kami harap dengan adanya operasi pasar, kebutuhan LPG masyarakat dapat terpenuhi dengan baik. Tentunya, Pertamina akan terus melakukan koordinasi dengan dinas perdagangan setempat untuk memantau penyaluran gas elpiji 3 kg bersubsidi,” jelasnya.
Yanti juga membantah adanya dugaan dan kekhawatiran masyarakat, terkait adanya kemungkinan peralihan penggunan gas elpiji 3 kg ke Bright Gas 5,5 kg. Dikatakannya, elpiji 3 kg merupakan produk subsidi yang diperuntukan bagi kalangan tidak mampu dan kuotanya ditentukan oleh pemerintah.
Menurutnya, untuk memenuhi kebutuhan gas, Pertamina telah menyediakan berbagai varian produk elpiji bagi yang mampu antara lain Bright Gas 5,5 kg dan LPG 12 kg. Serta 50 kg bagi kebutuhan konsumen hotel dan rumah makan.