Sering Jadi Pusat Gempa, Mentawai Ternyata Tidak Punya Shelter

PADANG — Bupati Kepulauan Mentawai Yudas Sabaggalet mengatakan sampai saat ini tidak ada satupun bangunan shelter (tempat perlindungan) yang berdiri di daerah Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, meski di daerah tersebut sering terjadi pusat gempa yang kekuatannya mencapai di atas angka 6 Skala Richter (SR).

“Kami di Mentawai tidak ada shelter.  Ketika terjadi gempa masyarakat diminta untuk naik ke bukit-bukit yang di sekitar tempat tinggal,” kata Yudas yang ditemui di Padang, Rabu (6/9/2017).

Ia menyebutkan, selama ini meski Mentawai sering terjadi pusat gempa, tidak membuat masyarakat panik ketika gempa mengguncang daerah tersebut. Karena, shelter alami yakni perbukitan cukup mudah dijangkau oleh masyarakat. Bahkan, mengingat sejumlah pakar geologi yang menyebutkan ada potensi terjadi gempa berkekuatan yang lebih tinggi yang mencapai di atas angka 8 SR, kesadaran masyarakat tentang kesiapsiagaan bencana alam terbilang sangat bagus.

“Kesiapsiagaan masyarakat di Mentawai sudah bagus, mau ada atau tidak potensi tsunami, masyarakat tetap melakukan evakuasi ke perbukitan. Jadi kami dari pemerintah tidak ada melakukan intruksi apapun ketika usai terjadi gempa. Akan tetapi kami dari pemerintah telah mensosialisasikan, apabila gempa terjadi, segeralah melakukan evakuasi, tanpa menunggu perintah dari pihak manapun,” tegasnya.

Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai telah pernah mengajukan pembangunan shaler ke Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, akan tetapi hingga saat ini belum terpenuhi. Yudas mengaku, terakhir ia mengajukan pembangunan shelter di Mentawai sekira empat tahun yang lalu, buktinya sampai sekarang tak ada satupun shelter yang dibangun di Bumi Sikerei tersebut.

Meski telah pernah diajukan dan melihat belum adanya respon yang bagus dari Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, hingga periode kedua kepimpinannya di Mentawai itu, belum memiliki rencana untuk mengajukan kembali pembangunan shelter di daerah Mentawai.

“Yang dibangun shelter itu ya seperti Kota Padang, Pesisir Selatan, Pariaman dan yang lainnya, sementara di Mentawai shelter nya ya shelter alam saja yakni perbukitan. Jadi, saya rasa tidak perlulah diajukan lagi untuk pembangunan shelter di Mentawai,” ucapnya.

Kepulauan Mentawai memang disebut sering terjadinya pusat gempa, bahkan baru-baru ini gempa berkekuatan 6,2 SR disebut berpusat di Mentawai. Seperti halnya diungkapkan oleh Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sumatera Barat Ade Edward. Ia menyebutkan, gempa yang terjadi di Mentawai mulai memperlihatkan peningkatakan, dari yang biasanya berada di angka 5 SR, kini gempa di Mentawai naik di angka di atas 6 SR.

“Kondisi yang seperti itu harus diwaspadai, apalagi gempa yang terjadi 6,2 kemarin tersebut berada pada megathrust Mentawai,” ujarnya.

Ade menjelaskan megathrust disebut merupakan zona tumbukan antara Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia. Artinya, daerah lepas pantai barat Kepulauan Mentawai berada pada titik nol permukaan pertemuan lempeng yang menunjam ke bawah. Hal buruk dari pertemuan lempeng yang menunjam ke bawah itu ialah, di ring of fire dengan kedalaman 150 kilometer, yang apabila makin ke barat makin dangkal, maka efek kerusakan dari lempeng dimaksud akan semakin tinggi.

Ia menilai, kondisi demikian diperkirakan akan adanya potensi gempa megathrust di Mentawai. Menurutnya, zona tumbukan yang sudah terkunci akibat gempa dini hari lalu turut membuat ketahanan dari lempenang tersebut berkurang.

Lihat juga...