Sejumlah Turis Asing Ikut Berebut Gunungan Garebeg Besar
YOGYAKARTA — Sejumlah turis asing ikut ambil bagian dalam acara Garebeg Besar yang bertempat di Alun-Alun Utara dan Kompleks Masjid Gede Kauman Yogyakarta, Sabtu (2/9/2017) siang. Para turis dari mancanegara itu bahkan ikut ‘merayah’ berupa hasil bumi yang memang dipersembahkan oleh raja Kraton Yogyakarta kepada warga.
Salah seorang turis asing asal Denmark, Betchele (20) mengaku terkesan dengan tradisi Kraton Yogyakarta yang rutin digelar setiap perayaan Idul Adha yang jatuh pada bulan Besar saat dalam penanggalan Jawa itu. Ia mengaku baru pertama kali melihat perayaan Garebek Besar itu, ia nampak ikut merayah gunungan berupa makanan tradisional ketan yang terdapat pada salah satu gunungan.
“Sangat bagus sekali, sangat menarik, saya belum pernah melihat acara tradisi seperti ini. Ini (ketan) akan saya bawa bawa pulang kembali ke negara saya,” katanya yang mengaku berlibur selama lima hari di Yogyakarta.

Sementara itu turis lainnya, Frank Walsh (23) dan Jay Arms (28) asal Amerika, bahkan ikut terlibat dalam perayaan upacara Garebek Besar ini. Keduanya nampak mengenakan pakaian adat khas Abdi Dalem Kraton, Pranakan.
Tak hanya ikut merayah, mereka juga ikut berjalan mengiringi Gunungan. Frank sendiri mengaku berlibur kembali ke Yogyakarta setelah dua tahun lalu ia sempat belajar bahasa Indonesia di UGM. Sementara Jay datang ke Yogyakarta untuk melakukan penelitian tentang musik.
“Saya sudah beberapa kali melihat upacara adat ini. Sangat bagus, saya memang senang melihat acara adat tradisional di Kraton seperti ini karena dulu skripsi saya juga mengenai bahasa dan budaya Indonesia,” kata Frank.
Sementara itu Jay mengaku antusias melihat acata Garebek karena baru pertama kali melihat. Ia menyebut tradisi ini sangat menarik karena melibatkan banyak orang. Ia bahkan heran lima buah gunungan dapat habis seketika dalam hitungan menit.
“Sangat cepat sekali habis. Saya tadi mencoba ikut berebut tapi ternyata sudah habis, sehingga tidak dapat,”katanya.

Sementara itu GBPH Yudhaningrat selaku Manggala Yuda atau pemimpin pasukan mengatakan, pelaksanaan upacara Garebeg Besar rutin digelar Kraton Yogyakarta sebagai bagian tradisi saat perayaan Idul Fitri atau hari raya Qurban. Gunungan juga menjadi simbolisasi kemakmuran bagi rakyat Yogyakarta.
“Tradisi Garebeg ini sudah ada sejak jaman kerajaan Demak. Dalam setahun Kraton menggelar Garebeg sebanyak tiga kali yakni Maulud, Syawal dan Besar. Ada tujuh buah gunungan yang dikeluarkan. lima buah untuk Masjid Gede Kauman Yogyakarta, satu gunungan untuk Kepatihan dan satu gunungan untuk Puro Pakualaman,” katanya.