MALANG — Sate adalah salah satu kuliner tradisional Indonesia yang banyak diminati masyarakat, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. Di Malang sendiri, tidak sulit untuk mendapatkan kuliner tersebut, karena cukup banyak pedagang yang menawarkan panganan serupa.
Namun dari sekian banyak penjual, Sate Bunul Haji Paino adalah yang paling terkenal dan menjadi favorit masyarakat. Selain karena telah berdiri sejak lama, yakni tahun 1973, cita rasa khas sate H. Paino yang tetap terjaga hingga sekarang membuat kuliner sate yang satu ini tidak pernah kehilangan langganannya.
Manager rumah makan sate H.Paino, Ari Ardiansyah menceritakan, Almarhum H.Paino mengawali usaha kulinernya dengan berjualan sate menggunakan gerobak. Dengan semakin banyaknya pelanggan, H.Paino kemudian membuka warung sederhana berlokasi di Jalan Memberamo, Kelurahan Bunulrejo, Kecamatan Blimbing, Kota Malang yang berkembang hingga sekarang.
“Sekarang warung sate ini di pegang oleh generasi kedua yakni Abah Durianto yang merupakan putra dari H.Paino. Dan sejak lima tahun yang lalu sudah memiliki cabang di daerah Singosari,” jelasnya kepada Cendana News.
Disebutkan, dalam sehari, warung sate H.Paino bisa menyembelih tidak kurang dari 25 ekor kambing dan mampu menyediakan lima ribu tusuk sate dalam sehari.
“Kita sudah ada suplier kambingnya sendiri yang sudah kerja sama sejak lama. Jadi kita butuh kambing berapapun pasti mereka menyediakan,” ujar Ari.
Untuk menjamin kehalalan dan agar tetap higienis, sate Bunul H.Paino melakukan penyembelihan kambing melalui Rumah Potong Hewan (RPH). Dimana di tempat tersebut juga terdapat dokter hewan untuk melihat kondisi kesehatan kambing yang akan di sembelih.
Lebih lanjut Ari menyampaikan, yang membedakan sate bunul H.Paino dengan sate lainnya adalah dari rasa dan keempukan dagingnya. Karena bahan dasar bumbunya langsung di proses sendiri oleh Abah Darianto dengan menggunakan resep keluarga turun temurun.

Menurutnya, untuk bisa mendapat daging kambing yang tidak keras, sate Bunul H.Paino sengaja memilih kambing yang usianya masih muda untuk disembelih dan dijadikan sate sehingga dagingnya masih empuk dan memiliki cita rasa manis. Menurutnya, tidak semua daging bisa di pakai untuk sate karena ada daging yang keras. Daging yang keras ini biasanya di gunakan untuk gulai. Sedangkan khusus untuk sate memang di pakai daging yang empuk.
“Selain itu kami hanya menggunakan kambing betina, bukan kambing jantan, karena kambing jantan aroma kambingnya lebih keras,” ucapnya.
Begitu pula dengan kacang yang digunakan untuk bumbu sate merupakan kacang pilihan bukan kacang sembarangan.
“Jadi kita pilih kacang kualitas nomor satu sehingga rasa bumbu kacangnya berbeda dengan bumbu kacang pada umumnya,” terangnya.
Selain disajikan dengan bumbu kacang, sate H.Paino juga sengaja memberikan cukup banyak taburan bawang merah dan acar timun yang menurut Ari mampu menanggulangi resiko darah tinggi.
Mengenai harganya, Ari mengatakan tidak perlu khawatir karena cukup terjangkau. Untuk 10 tusuk sate daging dan lemak kambing dihargai 30 ribu Rupiah. Sedangkan untu 10 tusuk daging kambing tanpa lemak dihargai 38 ribu Rupiah. Selain itu juga menyiapkan paket untuk syukuran dan Aqiqah.

Sementara itu salah satu pembeli, Nana mengaku sudah kerap kali datang ke warung sate Bunul H.Paino. Menurutnya daging sate yang disediakan di warung tersebut tidak keras dan memiliki cita rasa yang khas.
“Dan yang paling penting sate H.Paino sama sekali tidak berbau kambing,” akunya.