Pindang Baung Sungai Way Pisang Menggugah Selera

LAMPUNG — Muara Sungai Way Pisang di Kecamatan Palas, merupakan kawasan yang bersentuhan langsung dengan Sungai Way Sekampung yang lebih besar berhulu di Gunung Rajabasa, dengan sungai-sungai kecil lain penghasil ikan air tawar sumber kekayaan kuliner khas masyarakat setempat.

Siti Aminah, juru masak di Rumah Makan Pindang Baung Jalan Lintas Palas-Sragi penyedia menu pindang baung dan sambal mangga. [Foto: Henk Widi]
Ikan baung yang merupakan ikan air tawar sebagai bahan kuliner khas sungai merupakan sejenis ikan mirip patin dan lele. Ikan tersebut kerap diolah menjadi kuliner khas pindang dengan kekhasan masakan asli Palembang yang banyak terdapat di Provinsi Lampung.

Banyaknya masyarakat Suku Semendo Palembang, semakin menambah khasanah kuliner di wilayah Lampung yang juga digemari oleh lidah masyarakat suku lain akan makanan berkuah tersebut.

Siti Aminah, juru masak di Rumah Makan Palembang Pindang Baung dengan ciri khas rumah panggung bambu di Jalan Lintas Palas-Sragi, tepat di tanggul penangkis banjir Sungai Way Pisang atau dikenal sebagai kawasan muara, menyebut menu pindang merupakan kuliner primadona bagi masyarakat sekitar.

Menurutnya, pindang identik dengan makanan khas berbahan ikan, seperti baung atau lele sungai dan patin yang banyak terdapat di wilayah tersebut sebagai sajian penggugah selera.

“Menu kuliner sajian kami memang ciri khasnya sup ikan atau masakan berkuah yang dipadukan dengan bumbu rempah-rempah yang segar, sehingga cocok di lidah. Ditambah dengan sambal mangga kuweni yang pedas,” ungkap Siti Aminah, yang menyajikan hidangan khas pindang baung tersebut kepada Cendana News di Rumah Makan Pindang Baung Palembang, pekan kemarin.

Siti menjelaskan, ikan baung diperoleh dari budidaya keramba dengan air yang dialirkan ke kolam-kolam, dan sebagian dibudidayakan di Sungai Way Pisang pada saat musim kemarau dengan debit air yang masih mengalir lancar dan aman dari banjir. Kondisi ikan yang selalu segar diambil dari keramba membuat pelanggan harus sabar menunggu sebelum menyantap pindang baung. Namun, kesejukan rumah makan dengan pemandangan sawah menghijau bisa memberi kesabaran bagi pelanggan.

Setelah ikan dibersihkan dengan satu ekor ikan utuh disiapkan proses pembuatan bumbu disiapkan, di antaranya terdiri dari cabai merah, serai, lengkuas, daun salam, daun jeruk, bawang merah, bawang putih, kunyit, garam dan penyedap rasa serta sedikit lada. Keunikan khas pindang baung Palembang diakui Siti dengan adanya tambahan irisan nanas serta potongan daun bawang sekaligus daun kemangi penambah aroma wangi dan segar manis dan asam.

Butuh waktu setengah jam untuk mengolah menu pindang baung, ungkap Siti Aminah, yang telah menyiapkan semua bumbu yang harus digerus lalu bahan-bahan tersebut diolah dalam wajan khusus bersama ikan baung yang sudah dibersihkan. Panas yang cukup dari bahan bakar kayu bakar dengan tungku tanah menjadi ciri khas pengolahan ikan pindang baung, meski kini penggunaan kompor gas sudah marak digunakan.

“Pindang ikan baung lebih nikmat disajikan dalam kondisi panas, terutama saat cuaca hujan, bahkan justru bisa menjadi obat dengan rasa hangat yang khas bumbu yang kami gunakan”, terang Siti Aminah.

Siti Aminah mengaku, jenis ikan pindang yang dipilih berukuran setengah kilogram, sehingga satu ekor kerap bisa disantap dua orang dengan ramuan kuah penggugah selera yang oleh pelanggan diminta dengan jumlah yang banyak. Air rebusan pindang baung dengan tambahan bumbu rempah sebagian sengaja dipisahkan dalam mangkuk khusus saat menyantapnya.

Setelah pindang baung matang, penyajian dilakukan dalam sebuah piring lengkap dengan kuah segar yang menggugah gairah untuk menyantapnya dalam kondisi hangat. Sebagai pelengkap satu bakul nasi disiapkan dalam kondisi hangat yang bisa disantap oleh dua orang dalam satu kali pemesanan.

Sajian tersebut masih dilengkapi dengan lalapan segar berupa jengkol, jaling, irisan mentimun, daun kemangi serta penggugah selera lain tak kalah pentingnya berupa sambal mangga.

Proses pembuatan sambal mangga khas Palembang pelengkap untuk menyantap pindang ikan baung diakuinya cukup sederhana, dengan bahan irisan mangga kuweni mengkal setengah matang yang wangi diiris kecil-kecil, cabe merah keriting, gula merah, garam dan air. Bahan-bahan yang sudah disiapkan berupa gula merah, cabe, setelah halus dimasukkan dalam air mendidih untuk dipanaskan dalam wajan.

Semua bahan sambal yang sudah matang dan cukup kental dengan rasa yang sudah pas dengan penambahan gula atau garam, selanjutnya ditaburi dengan irisan mangga kuweni. Mangga kuweni yang beraoma wangi dicampur dengan cara diaduk, sehingga menyatu dengan sambal pedas untuk disantap bersama kuah pindang baung.

Semua sajian yang bisa disantap sebagai penggugah selera saat pagi hingga malam hari tersebut, menurut salah satu pelanggan, Hendra, menjadi sajian yang kerap dinikmatinya kala akhir pekan. Ia mengaku kerap memesan sajian pindang ikan baung untuk dibawa pulang, sehingga bisa disantap bersama keluarga, meski terkadang bersama kawannya kerap menyantapnya di rumah makan tersebut.

Kelezatan dan gairah menyantap menu kuliner pindang baung tersebut pun terbilang tidak menguras kantong, karena dengan menu lengkap pemburu kuliner cukup merogoh kocek sebesar Rp45ribu dengan sajian pindang, nasi, lalapan dan sambal mangga. Sajian untuk dibawa pulang hanya dengan menu pindang baung, bahkan bisa dibawa pulang dengan harga Rp30ribu sehingga bisa dinikmati bersama keluarga oleh para pembelinya.

Kelezatan pindang baung berpadu dengan sambal mangga, meski disajikan di sebuah rumah makan sederhana, namun Siti Aminah menyebut pelanggan menu pindang baung banyak berasal dari kalangan pejabat dan orang biasa.

Lihat juga...