Es Pocong di Kota Depok Laris Manis
DEPOK – Sebuah warung kuliner nan unik menonjolkan nuansa horor mulai dari nama tempatnya dan menu yang dihidangkan serba berbau berbagai jenis nama makhluk halus dapat Anda jumpai di Kota Depok, Jawa Barat, di bilangan Jalan Margonda Raya dari arah Jakarta.
Warung Es Pocong, begitu nama warung itu dikenal masyarakat, awal berdiri pada medio 2006 berada di pinggir jalan utama Jalan Margonda Raya Nomor 476, Kelurahan Pondok Cina, Kecamatan Beji, Kota Depok, arah ke Jakarta. Sejak Februari 2017 telah pindah tempat, tidak jauh dari lokasi sebelumnya. Hanya pindah di seberang jalan dari arah Jakarta. Tidak jauh dari gapura “Selamat Datang di Kota Depok”.
Lokasinya yang strategis bukan hanya lantaran berada di titik jalan utama Margonda, tetapi juga dekat perguruan tinggi negeri dan swasta kenamaan, seperti Universitas Indonesia, Universitas Gunadarma, kampus Bina Sarana Informatika, serta Universitas Pancasila.
Boleh dibilang, para mahasiswa menjadi salah satu di antara para penikmat dominan kuliner Warung Es Pocong ini. Pada hari libur dipenuhi pengunjung bersama para keluarganya. Sejumlah artis juga pernah mampir, sebut saja misalnya, Bopak, para personel Coboy Band saat ada acara manggung di Depok dan menyempatkan mampir.
Di antara menu minuman dan makanan yang ada, kuliner Es Pocong adalah menu minuman andalan yang dihidangkan kepada para pembeli dan pelanggan di warung ini.
Es Pocong sebagai menu minuman andalan warung ini, bentuknya ternyata tidak mengerikan selayaknya pocong seperti dalam film-film horor. Owner Warung Es Pocong, Rahmat Ramadhani, menyebutkan, nama Es Pocong dimaksudkan agar banyak orang penasaran, untuk memudahkan orang mengenal dan menghafal nama produk minuman tersebut.
“Sebenarnya tidak ada pemberian nama khusus. Pada waktu itu saya pilih-pilih ada 16 nama. Ada Belahan Jiwa, Jatuh Cinta, Jenderal, Kuntilanak, Es Pocong, Es Kopral. Semua saya baca ulang-ulang di teras, yang pas enak disebut itu Es Pocong,” kisah Rahmat kepada Cendana News.

Terus yang paling membuat penasaran orang dari nama-nama itu, Rahmat mengira-ngira, itu Es Pocong. “Ya, sudah kita tetapin saja nama itu untuk minuman, karena bukan nama untuk kedai sebenarnya (awalnya). Kedai mendoan kita dulu, sudah ada namanya Kedai Lorong,” imbuhnya.
Ia menambahkan, jadi Es Pocong itu nama menu sebenarnya, bukan nama brand. “Cuma karena orang-orang tahunya Es Pocong, lama-lama kita ganti jadi Kedai Es Pocong. Sempat ada yang usil, diutak-atik hurufnya. Untung para pedagang di kanan kiri, kayak somai, gorengan, batagor, otak-otak, tukang koran, mereka salut sama kita. Karena mereka kecipratan rezeki dari kita,” ujarnya.
Karena keunikan namanya, menjadikan penikmat kuliner penasaran dengan menu minuman Es Pocong, sehingga warung ini pun menjadi populer. Saat itu, orang-orang bahkan sampai mengantre. Karena karyawan masih sedikit, sehingga sang owner meminta para anak buahnya itu melayani per sepuluh orang.
“Antrean itu bisa sampai tiga hingga empat sap. Saya tidak bisa nerapin antre, merapikan antre. Kalau bikin antre panjang banget itu. Akhirnya semua karyawan saya minta berhadapan dengan pembeli, satu layani sepuluh pembeli, hafalin,” kata Rahmat.
Keadaan yang membludak, di dalam ada 50 orang, hingga antrean panjang sampai menutup jalan orang, akhirnya dibuat tiga sap. Rahmat menjelaskan, sampai-sampai karyawan yang di dalam tidak bisa keluar, karyawan yang di luar tidak bisa masuk. Akhirnya oper-operan, termasuk pembeli juga sering membantu.
“Salah satu pelanggan, mahasiswa UI, pulang dari kampus dia langsung datang bantu,” cerita Rahmat.
Soal nama warung ini, ketepatan saat itu Warung Es Pocong terletak di seberang Gang Kober, dalam Bahasa Betawi maknanya adalah kuburan. Sehingga semakin menambah nuansa keberadaan warung tersebut.
“Itu kebetulan, tidak ada kaitan nama sebenarnya. Cuma kebetulan di seberang itu Gang Kober, pemakaman. Yang bikin kejutan lagi, salah satu warga cerita, ini dulu zaman Belanda, di titik saya dagang adalah tempat pembuangan mayat. ‘Bisa pas gitu situ kasih nama?’ katanya ke saya. Dan saya kaget, lagi siapin konsep ada cerita kayak gitu,” ujar Rahmat.
Sebelum ada UI, kata Rahmat, dulu adalah hutan. Secara kebetulan dekat Gang Kober, orang cerita horor lagi naik. Secara kebetulan juga ia beri nama warung dan menu-menunya, nama-nama horor.

Lalu apa saja isi racikan menu minuman Es Pocong? Tidak lain adalah paduan bubur sumsum yang dicampur dengan potongan-potongan kecil pisang dan kue moci, lalu diberi es batu, dan di atasnya disiram sirup merek Tjampolay berwarna merah muda.
“Racikan Es Pocong bahan dasarnya bubur sumsum dicampur kue moci dari Sukabumi, sirup Tjampolay Cirebon, pisang kukus, sisanya topping-topping, durian, bluebery. Itu sudah dimodifikasi,” kata Rahmat.
Penggunaan pisang dan sirup Tjampolay pada Es Pocong ini, dapat membuat tekstur lembut bubur sumsum makin menonjol.
Sedangkan sirup Tjampolay dengan aromanya yang khas ini untuk menyempurnakan rasa bubur. Rasa manis bertambah kuat dengan menyatunya bubur, pisang, dan sirup.
Boleh dibilang, Es Pocong merupakan hasil inovasi penggabungan kuliner tradisional yang dibalut dengan nuansa modern. Karena di dalam segelas Es Pocong memiliki kombinasi bahan yang digunakan untuk membuatnya, seperti bubur sumsum, kue moci, pisang, yang diberi es batu, sirup, lalu di atasnya diberi topping untuk mempercantik tampilan.
Ada banyak varian Es Pocong dengan aneka rasa yang dapat dipilih sesuai dengan selera, ada rasa marshmallow blue, cheese chocochip, tanggo waffle, durian, oreo, dan original yang dibandrol dengan harga kisaran Rp10 ribu hingga Rp15 ribu.

Salah seorang pengunjung warung, Deni Maulana dari Pasar Minggu Jakarta Selatan, yang datang bersama keluarganya, mengaku sudah dua kali ini datang ke Warung Es Pocong. Ia memesan minuman Es Pocong.
“Citarasa Es Pocong enak. Selain itu murah,” ujarnya.
Ia menambahkan, mengetahui ada Warung Es Pocong di Kota Depok dari internet dan media sosial. Keluarga Deni Maulana juga menyantap roti bakar.
Memang, Warung Es Pocong juga menyediakan aneka menu minuman dan makanan unik lainnya yang tak kalah menyeramkan. Ada Mendoan I-Blish, Mie Ronggeng, minuman Black Magic, Jalangkung, Sundel Bolong, Setan Brekele, Voodoo, Hantu Laut, Kolor Ijo, Sundel Bolong, Setan Merah.
Untuk menghilangkan kesan menyeramkan, juga ada minuman Pinki, Sunshine, Veluet, Green Gobin, dan Bulir Cinta mulai dari Red Pisang Susu, Jeruk Yellow, Purple Pepsi Blue Pisang Susu, Yellow Green, Pepsi Blue Jeruk, Air Kelapa Green Melon.
Untuk mendukung suasana saat pembeli menikmati hidangan dengan menu-menu gunakan nama makhluk halus, tata ruang di tempat baru dibuat jauh dari kesan mengerikan dengan pilihan warna hitam, goresan hitam-putih, kotak hitam-putih pada dinding-dindingnya, serta penerangan yang memadai.
Ini jauh berbeda saat warung berada di seberang jalan sebelumnya, di mana pilihan warna cat, lighting, dan aksesoris di sekelilingnya juga disesuaikan dengan konsep horor. Dindingnya dicat merah di bagian atas hingga setengah tembok, sisanya warna hitam. Di sekeliling tembok dipasang topeng-topeng Panthom, bahkan kedua tiang gerobak di dalam warung dulu juga ditempeli dengan pocong mini.
Sementara untuk lighting, saat itu menggunakan bohlam berwarna kuning yang tak terlampau terang untuk menciptakan efek remang-remang mengerikan.
Konsep warung bernuansa horor di tempat lama, mulai dari nama warung, nama menu, tata ruang hingga aksesorisnya tersebut, merupakan buah kreasi Rahmat Ramadhani bersama dua saudaranya yang diajaknya untuk membuat usaha bersama. Rahmat pun menjual sepeda milik anaknya yang dihargai Rp. 250.000 untuk modal usaha.
Seiring waktu, sejak awal mula berdiri pada pertengahan 2006 kemudian berkembang pesat. Warung Es Pocong memiliki usaha di 30 titik operasional dengan jumlah karyawan 26 orang. 14 karyawan bekerja di Kober dan lainnya disebar di sejumlah bazar.
Operasional Warung Es Pocong yang tersebar di sejumlah titik itu hanya sempat berjalan sekira satu tahun. Sehingga kemudian usaha kuliner lebih difokuskan pada Warung Es Pocong di Kober.
Es Pocong Reborn, Memulai dari Awal
Rahmat Ramadhani mengaku usaha kuliner Warung Es Pocong sempat tutup pada Juni 2015. Suami dari Irma Faizah itu, kemudian banting stir, melakoni jasa ojek online, mulai dari Gojek, Uber, hingga Deliveree (usaha paket online barang milik negara Thailand).
Namun pada 2017, tepatnya bulan Februari, Rahmat bersama sang istri kembali membuka usaha Warung Es Pocong. Irma berperan besar dalam menentukan resep dan membantu proses pengolahan menu-menu yang telah dipesan oleh pembeli atau pelanggan.

Pasangan suami istri berputra tiga itu, kembali menghidupkan Warung Es Pocong di tempat baru yang dibuka mulai pukul 11.00 hingga pukul 23.00 WIB, tak jauh dari tempat awal mendirikan Warung Es Pocong pada 2006 lalu.
Nama warung dan menu-menu, beberapa masih menggunakan nama-nama jenis mahkluk halus. Yang berbeda, tata ruang dan lighting dibuat lebih menyejukkan dan jauh dari kesan angker.
Poster-poster bintang film dalam papan yang terpampang di dinding dengan berbagai tulisan menonjol menu-menu seperti Es Pocong Reborn, Ayam Foollback, Kopi Letoy, Labirin, Mendoan Iblis, melengkapi kenyamanan suasana ruangan. Sentuhan itu tidak lepas dari sosok Rahmat juga seorang yang pernah bekerja di film.
Tiga lukisan besar Marilyn Monroe dengan senyum merekah juga terpajang pada dinding, lukisan buah tangan kawan Rahmat yang diberikan khusus untuknya sebagai owner Warung Es Pocong.
Nah, bagi Anda para pecinta kuliner saat sedang jalan-jalan di Kota Depok, tidak ada salahnya singgah ke Warung Es Pocong sekaligus mencicipi Es Pocong dan aneka menu hidangan lainnya. Siapa mau mencoba?
