Posdaya Rejosari Olah Sampah jadi Solar
YOGYAKARTA – Posdaya Rejosari, di Dusun Rejosari, Jogotirto, Berbah, Sleman, berhasil mengubah sampah menjadi barang-barang bermanfaat. Selain berkontribusi menjaga kebersihan lingkungan, sampah juga berhasil mereka sulap menjadi pupuk organik, aneka kerajinan dari barang bekas, bahkan bahan bakar berupa solar.

Adalah Ketua Posdaya Rejosari, Kusnadi, penggerak Posdaya pengelola sampah mandiri tersebut. Berawal dari keprihatinannya melihat banyaknya sampah di dusunnya, ia berupaya menggerakkan warga sekitar untuk mengelola sampah tersebut sejak berdirinya Posdaya pada 2013 silam.
Menggandeng pemuda dusun, ia mengambil sampah milik warga dengan iuran sukarela. Sampah yang terkumpul kemudian ditempatkan di sebuah ruang penampungan untuk dipilah. Sampah organik seperti daun-daunan, dikelompokkan secara terpisah untuk selanjutnya diolah menjadi pupuk organik.
“Pupuk organik ini kita manfaatkan untuk tanaman milik warga. Kebetulan di daerah sini merupakan sentra Jambu Air Dalhari. Hampir setiap rumah menanam jambu ini di pekarangan masing-masing, sehingga pupuk yang dihasilkan sangat bermanfaat,” katanya, Selasa (12/9/2017).
Sementara itu, sampah yang memiliki nilai jual seperti botol plastik bekas, kaca, besi dan sebagainya dikumpulkan untuk kemudian dijual ke pengepul. Biasanya, penjualan sampah dilakukan setiap satu atau dua bulan sekali. Uang hasil penjualan sampah lantas dikembalikan ke pemuda untuk berbagai kegiatan.
“Untuk sampah yang tidak bisa dijual, kita olah menjadi aneka kerajinan. Mulai dari tas, dompet, bando, vas, aneka bunga, hingga replika motor, mobil atau helikopter. Yang membuat para ibu-ibu dusun,” ujarnya.

Sementara itu, sampah lainnya yang juga berasal dari plastik juga mereka olah menjadi bahan bakar berupa solar. Kusnadi mengatakan pengolahan sampah plastik menjadi solar itu dilakukan dengan memanfaatkan sebuah mesin yang dibuat sendiri.
“Prinsipnya, plastik itu kan dibuat dari minyak bumi mentah. Nah, melalui proses ini kita ubah kembali menjadi minyak. Caranya dengan dipanaskan kemudian didestilasi. Mesinnya kita buat meniru di internet. Karena jika membeli, harganya mahal bisa sampai Rp20 juta,” paparnya.
Dengan membuat mesin sendiri, memanfaatkan aluminium bekas, mereka pun hanya membutuhkan biaya Rp3 juta. Biasanya 5 kilogram sampah plastik dapat diolah menjadi 1 liter solar.
“Salah satu kendala kami adalah naik turunnya minat warga untuk mau terlibat dalam kegiatan Posdaya, ini. Dulu saat awal semua semangat, tapi sekarang sedang turun. Selain itu, kita juga kesulitan menjual produk kerajinan daur ulang yang dihasilkan. Termasuk membiayai pembuatan mesin pengolah sampah jadi solar,” bebernya.
Meski begitu, keberadaan Posdaya Rejosari melalui kegiatan pengelolaan sampah mandiri itu sedikit banyak telah ikut membantu menggerakkan dan meningkatkan kesejahteraan warga dusun setempat. Kusnadi mengaku hanya bisa secara perlahan mengajak kembali warga, agar mau ikut mengembangkan Posdaya.
“Memang kita belum banyak membantu meningkatkan kesejahteraan warga sekitar, khususnya dari sisi ekonomi. Tapi, paling tidak kita bisa menyadarkan warga, bahwa jika mau kita sebenarnya bisa mandiri,” katanya.
Dengan capaian tersebut, Posdaya Rejosari yang merupakan binaan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta ini pun telah meraih sejumlah prestasi. Di antaranya juara 3 lomba Posdaya tingkat LPPM UIN Sunan Kalijaga tingkat Yogyakarta hingga juara VII lomba Posdaya tingkat Korwil UIN Sunan Kalijaga se-Jateng DIY pada 2014.