LOMBOK — Kekeringan yang melanda sebagian wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) terutama Pulau Lombok dalam beberapa bulan terakhir, tidak saja mengakibatkan sebagian masyarakat mengalami kesulitan air bersih.
Dampak kekeringan juga dirasakan langsung oleh masyarakat peternak, khususnya peternak sampi yang mulai kesulitan mendapatkan rumput untuk pakan ternak peliharaan.
“Kalau sudah musim kemarau begini langka, rerumputan hijau yang tumbuh sedikit, kebanyakan mengering dan mati, akibat kekeringan,” kata Marzuki peternak Kambing,, Kabupaten Lombok Tengah, Senin (11/9/2017).
Ia mengatakan, rerumputan hijauan hanya ada di tempat tertentu saja, itupun pertumbuhannya sedikit. Keberadaan rumput hanya ada di tempat tertentu, sementara sebagian petani menanam tembakau maupun semangka di sawahnya.
Rumput yang ada harus berbagi dengan peternak lain, belum lagi peternak luar juga banyak yang datang berkeliaran dengan jumlah banyak menggunakan truk atau pickup mencari rumput sebagai pakan ternak peliharaan.
Murdi, peternak lain mengatakan dirinya bahkan harus keluar meninggalkan desanya menuju desa lain secara bergerombolan bersama warga lain hanya untuk mendapatkan rumput sebagai pakan ternak sapi peliharaannya.
“Mencari rumput sampai jauh terpaksa dilakukan, karena kalau tidak begitu, ternak bisa tidak dapat makan” katanya.
Murdi pun berharap, musim hujan akan segera tiba dan rumput bisa tumbuh banyak, supaya dirinya bersama warga lain tidak lagi kesusahan mendapatkan rumput untuk pakan ternak peliharaan.
Berbeda dengan Jamuhur, peternak Kambing, Desa Banyu Urip, Lombok Tengah punya cara menyiasati kesulitan mendapatkan rumput. Dirinya menyiasati dengan menanam pohon turi sewaktu musim hujan, sehingga saat musim kering seperti sekarang, dirinya tidak harus pusing mencari pakan.