Pemilu Liberal Jadi Biang Buruknya Produk Perundangan yang Dihasilkan DPR
YOGYAKARTA — Sekretaris Pimpinan Kolektif Majelis Nasional KAHMI yang juga Anggota Komisi X DPR RI, Reni Marlinawati menyebutkan, realita kehidupan berbangsa dan bernegara yang berjalan saat ini sudah jauh melenceng dan tidak sesuai dengan apa yang dicita-citakan para pendiri bangsa.
Proses politik yang berjalan melalui sistem demokrasi dengan pemilu-nya dianggap tidak akan bisa menciptakan atau mencetak para pemimpin, termasuk anggota DPR, yang mampu menghasilkan produk perundangan terlebih konsep dasar bernegara seperti sebelum masa reformasi.
“Pemilu yang sekarang tidak akan bisa menciptakan anggota DPR yang mengasilkan Undang-Undang seperti dulu. Orde lama berhasil menciptakan Pancasila sebagai konsep negara, yang katanya terbaik di dunia, karena anggota DPR-nya merupakan orang-orang hebat dan kompeten dibidangnya,” katanya dalam Dialog Kebangsaan KAHMI DIY di Pemkab Bantul, Sabtu (09/09/2017).
“Orde Baru meski otoriter, tetapi konsep-konsep perundangan yang dihasilkan juga sangat bagus dan berkualitas. Itu karena saat itu anggota DPR-nya merupakan para polisiti ulung yang kompeten. Tapi setelah reformasi, banyak Undang-Undang yang dipermasalahkan. Sampai MK kuwalahan. Artinya ada persoalan di legislasi,” imbuhnya.

Menurut kader PPP itu, banyaknya persoalan produk perundangan yang dihasilkan DPR disebabkan karena kualitas anggota DPR itu sendiri. Dimana melalui sistim demokrasi pemilu liberal, memungkinkan siapapun menjadi anggota DPR. Bahkan kini partai pun tidak lagi memiliki hak veto untuk menentukan siapa saja kadernya yang dapat mengisi kursi DPR.
“Realitanya banyak pengusaha atau artis yang memiliki dukungan kuat modal finansial justru masuk sebagai anggota DPR. Sementara calon yang memiliki kompetensi serta ditempatkan di urutan teratas oleh parpol justru tidak masuk. Ini artinya tantangan kita tidak hanya soal pengikisan Pancasila saja, namun juga realitas sosial, politik, pedidikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” katanya.
Sementara itu pembicara lainnya, Kolonel Puji Setiono, dari Kodam IV Diponegoro Semarang mengatakan, kemerdekaan Indonesia direbut dari perjuangan yang panjang dan tidak tiba-tiba. Salah satu komponen masyarakat yang berperan penting dalam perjuangan kemerdekaan itu umat Islam, alim ulama.
Ia menyebut setidaknya ada enam hal yang dikontribusikan para ulama dalam proses perjalanan berbangsa dan bernegara. Yakni menyadarkan masyarakat tentang konsep kemerdekaan dan kebangsaan, pergerakan non kooperatif kepada para penjajah, mengobarkan perang sabil untuk menghadapi penjajah, memobilisasi masa, mengukuhkan persatuan bangsa, hingga mengisi kemerdekaan.