Sempat Kehabisan Bahan, Penerima Bedah Rumah Mulai Selesaikan Bangunan

LAMPUNG — Puluhan keluarga penerima program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) di Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan sebagian mulai menyelesaikan proses pembangunan rumah layak huni bantuan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Kuwadi, salah satu warga Dusun Karanganyar Desa Klaten penerima BSPS mengungkapkan, membangun rumah berukuran 6 x 6 meter dari bata merah yang akan menggantikan rumah sebelumnya terbuat dari geribik dengan alas lantai tanah.

Kuwadi, salah satu warga dari 53 penerima menyebutkan, sebagian besar warga di Desa Klaten sedang menyelesaikan proses pembangunan dan sisanya sudah menyelesaikan seusai menerima bantuan.

Kuwadi menyebut, sebagian warga terkendala material bangunan yang sempat sulit dicari di pasaran akibat keterlambatan di sejumlah toko bangunan berupa semen, kayu serta batu bata yang kewalahan memenuhi kebutuhan warga penerima program bedah rumah.

“Sebagian warga sudah mempersiapkan diri dengan menyiapkan bahan bangunan hasil mengumpulkan dari kebun berupa kayu dan batu mencari di sungai namun sebagian mengandalkan material dari membeli di toko bangunan salah satunya keluarga saya,” terang Kuwadi warga Dusun Karanganyar Desa Klaten penerima manfaat yang tengah menyelesaikan pembangunan rumah pada bagian tembok, Sabtu (9/9/2017).

Banyaknya warga yang membangun rumah berbarengan dengan ratusan warga lain terdampak proyek Jalan Tol Trans Sumatera membuat pasokan kebutuhan bahan bangunan terhambat. Kuwadi bahkan harus menunggu kiriman sekitar 10.000 batu bata untuk menyelesaikan pembuatan rumahnya karena kehabisan stok.

Selain batu bata semen dengan jenis yang telah ditentukan berupa semen Baturaja mengalami keterlambatan pasokan. Bantuan stimulan tersebut bagi Kuwadi dan sebagian warga lain merupakan bantuan yang ditunggu karena sebagian warga penerima masih tinggal di rumah geribik dengan beralaskan lantai tanah.

“Bagi warga yang sudah sejak lama menyiapkan bahan baku berupa bata, pasir segera bisa mencairkan bantuan di rekening berdasarkan kebutuhan bahan bangunan dari toko bangunan karena dana tidak bisa diambil tunai,” terang Kuwadi.

Kidal, penerima bantuan yang sudah memiliki semua bahan bangunan jauh sebelum ada bantuan bahkan sudah menyelesaikan bangunan pada bagian dinding. Nilai bantuan sebesar Rp15 juta tersebut sebagian besar dibelikan genteng, batu bata, besi, semen sementara sisanya dibelikan material bangunan lain karena uang tidak bisa dicairkan dalam bentuk tunai tanpa menggunakan bukti nota pembelian bahan bangunan.

“Biaya tukang bangunan menjadi tanggunan penerima bantuan sehingga kalkulasi biaya rumah yang saya dirikan menghabiskan lebih dari 20juta hingga selesai belum termasuk pemasangan keramik atau mengampar dinding,” terang Kidal.

Kidal bersyukur rumahnya yang semula hanya terbuat dari dinding papan berlantai semen kini sudah berubah menjadi rumah berdinding batu bata ditambah dengan kelengkapan ventilasi dan jendela yang lebih banyak sehingga rumah yang ditempatinya lebih sehat. Selain menambah beberapa jendela dirinya bahkan mengaku program bedah rumah meringankan dirinya dan warga lain untuk memiliki rumah layak huni.

Sebagian rumah penerima program BSPS di Kecamatan Penengahan telah memasuki tahap penyelesaian [Foto: Henk Widi]
Kuwadi dan Kidal merupakan penerima manfaat bersama ratusan warga lain di Kecamatan Penengahan yang menerima bantuan stimulan perumahan swadaya diantaranya sebanyak 31 unit rumah warga Desa Kuripan, 28 unit rumah warga Desa Tetaan, 28 unit rumah warga Desa Sukajaya, 31 unit rumah warga Desa Rawi, 32 unit rumah warga Desa Pisang, 51 unit rumah warga Desa Penengahan,25 unit rumah warga Desa Blambangan dan 53 unit rumah warga Desa Klaten.

Lihat juga...