Sungai Padas Miwang, Tumpuan Masyarakat Tetap Bisa Bertani Meski Kemarau
LAMPUNG – Sumber air padas miwang memiliki nama yang cukup dikenal oleh masyarakat di wilayah Desa Kemukus, Desa Gandri serta sebagian masyarakat di wilayah Kecamatan Penengahan.
Berlokasi di bukit padas yang semula ditumbuhi berbagai pohon besar jenis bendo, laban serta jenis kayu lain. Padas Miwang berasal dari bahasa Lampung, Padas berarti padas dan Miwang berarti menangis.
Demikian diungkapkan Ali Mursid (30) warga Desa Gandri yang memiliki lahan pertanian sawah dan jagung di dekat aliran sungai yang dikenal dengan Sungai Padas Miwang. Meski debit air berkurang saat kemarau sebagian masyarakat diakui Ali Mursid tak perlu khawatir kekurangan air dengan menggunakan fasilitas mesin pompa yang berguna untuk mengaliri air lahan pertanian.
Ali Mursid menyebut Sungai Padas Miwang juga mengalir hingga ke wilayah Desa Kelau yang memiliki Dusun Kantong Cintamulya. Air sungai tersebut dimanfaatkan masyarakat sebagai sumber pengairan bagi lahan pertanian di wilayah tersebut. Pada bagian mata air Sungai Padas Miwang saat ini sudah mulai ditumbuhi rumput-rumput rawa sehingga aliran air yang sempat menjadi sebuah bendungan tidak lagi terlihat genangan airnya. Ditambah musim kemarau membuat debit air mulai berkurang.
“Meski terlihat hanya ditumbuhi rumput saat kemarau, namun saat musim hujan aliran mata air padas miwang menyerupai danau. Bahkan air kerap dibendung untuk menahan banjir di lahan pertanian bagian bawah. Saat kemarau air masih tetap mengalir di aliran sungai,” terang Ali Mursid saat ditemui Cendana News tengah mengairi lahan pertanian sawah dan jagung yang memasuki masa menjelang penuaan buah serta membutuhkan air, Rabu (13/9/2017).

Ali Mursid menyebut, saat musim kemarau beberapa meter aliran Sungai Padas Miwang mulai dilakukan normalisasi atas permintaan masyarakat dengan pembuatan talud menggunakan alat berat. Pembuatan talud tersebut diakuinya dilakukan saat musim kemarau dengan tujuan menghindari meluapnya air sungai ke areal lahan pertanian milik petani di sekitar bantaran sungai.
“Saat musim penghujan sebagian petani di dekat bantaran Sungai Padas Miwang justru was-was terkena banjir yang kerap disertai pasir sehingga normalisasi sungai dilakukan,” terang Ali Mursid.
Laki-laki yang tengah menunggu tanaman jagung miliknya berusia 66 hari dengan masa panen akan dilakukan pada usia 110 hari tersebut menyebut, terpaksa melakukan penyedotan air Sungai Padas Miwang akibat proses normalisasi sungai mengakibatkan sungai menjadi lebih dalam. Sementara saluran irigasi miliknya sudah tak mampu menaikkan air dari sungai. Ia mengaku, rela mengeluarkan uang untuk bahan bakar mesin sedot air karena harga jagung terbilang lumayan dengan harga Rp420 ribu per kuintal atau Rp4200 per kilogram pada masa panen tahun ini.
Petani lain di wilayah daerah aliran Sungai Padas Miwang, Zubaidi, menyebut awalnya Sungai Padas Miwang yang mengalir dari sumber mata air memiliki lebar puluhan meter dan terus menyempit akibat pendangkalan padas serta pasir. Sebagian masyarakat termasuk dirinya memanfaatkan bantaran sungai untuk menanam padi, pisang dan kelapa sawit pada lahan tanah berpasir yang kerap terendam saat musim penghujan.
“Kami memilih menanam berbagai tanaman yang berumur pendek dengan memanfaatkan pengairan Sungai Padas Miwang. Sementara saat musim penghujan lahan ada yang dibiarkan menjadi belukar serta rawa karena rentan banjir,” ungkap Zubaidi.
Berkat adanya aliran Sungai Padas Miwang, Zubaidi juga bisa menanam ratusan tanaman pisang yang diakuinya memberi sumber penghasilan secara rutin seiring dengan membaiknya harga pisang yang semula jenis asalan janten, ambon, kepok serta jenis lain yang dihargai Rp7 ribu hingga Rp10 ribu. Kini mulai naik dari Rp9 ribu hingga Rp13 ribu sementara jenis pisang kualitas bagus semula hanya seharga Rp15 ribu hingga Rp18 ribu per tandan. Kini sudah kembali naik mulai harga Rp20 ribu hingga Rp25 ribu.
Ia bahkan menyambut baik adanya normalisasi sungai di wilayah tersebut yang bisa berimbas pada lancarnya pasokan air dari Sungai Padas Miwang dan bisa bermanfaat untuk lahan pertanian masyarakat. Proses normalisasi dengan pendalaman alur sungai dan pembuatan talud permanen sekaligus mengantisipasi longsor dan gerusan air saat musim penghujan turun yang kerap mengakibatkan banjir.
