Nikmatnya Tempe Benguk Khas Jogja di Lampung

LAMPUNG — Umumnya bahan baku tempe terbuat dari kacang kedelai yang diolah melalui proses fermentasi hingga menjadi tempe berbungkus daun maupun plastik. Namun, warga Desa Gandri, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan, membuat tempe berbahan kacang benguk.

Suryati,warga Desa Gandri Kecamatan Penengahan menyiapkan tempe benguk untuk diolah menjadi tempe benguk bacem dan goreng [Foto: Henk Widi]
Suryati, warga Desa Gandri yang sejak 1980 tinggal di Lampung Selatan, mengungkapkan, sebagai warga asal Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta, tempe benguk sudah dikenalnya turun-temurun sejak masih tinggal di tempat keluarganya di Kulonprogo. Ia lalu mendatangkan bibit kacang benguk dari Kulonprogo dan dikembangkan di Lampung.

“Sama persis dengan proses pembuatan tempe kedelai, proses pembuatan tempe benguk cukup mudah dengan bahan ragi dan benguk yang difermentasi dalam bungkus daun waru, jati maupun daun pisang. Lalu, siap diolah menjadi berbagai makanan seperti besengek tempe maupun bacem goreng,” beber Suryati, sambil memperlihatkan tempe benguk yang masih terbungkus dalam daun pisang kepada Cendana News, untuk diolah menjadi bacem tempe benguk dan digoreng.

Fitri menggoreng tempe benguk bacem yang siap dihidangkan dengan rasa lezat yang khas dari bumbu bacem [Foto: Henk Widi]
Kuliner tempe benguk, katanya, menjadi makanan khas yang kini sudah sulit ditemui, karena hanya sedikit orang membuat tempe benguk di Lampung. Bagi Suryati, tempe benguk menjadi kenangan akan kehidupannya saat masih di Kulonprogo yang serba kekurangan.

Suryati menuturkan, saat dirinya masih kecil, tempe kedelai merupakan menu mewah. Sedangkan tempe benguk dibuat oleh sang ibu akibat tidak mampu membeli tempe kedelai, dan hanya menanam benguk sebagai makanan kaum bawah seperti keluarganya.

Kini kondisi justru berbalik, karena kemudahan dalam pembuatan tempe kedelai, sementara sedikit saja orang yang membuat tempe benguk, menjadikan tempe benguk hanya disajikan saat hari istimewa dan banyak diburu oleh orang berada. Alasannya, bahan baku yang sulit diperoleh karena hanya sedikit orang yang menanam benguk dan bisa mengolahnya menjadi tempe. Kacang benguk dalam kondisi masih mentah bisa langsung dimasak menjadi sayuran yang lezat.

Proses pembuatan tempe benguk, menurut Suryati, cukup sederhana. Caranya, satu kilogram benguk yang sudah kering direbus hingga mengeluarkan cairan menyerupai tinta. Setelah matang, kacang benguk yang sudah terpisah dari kulit ari dibilas berkali-kali hingga bersih, lalu dihamparkan dalam sebuah tampah bambu beralaskan daun.

“Proses selanjutnya kacang benguk yang sudah dingin dicampur dengan ragi yang akan ditaburkan hingga merata sebagai bibit jamur pengikat benguk, lalu dibungkus dengan daun pisang, selanjutnya didiamkan dalam kamar gelap selama tiga hari,” jelas Suryati.

Tempe benguk bacem goreng disajikan sebagai lauk bersama menu lain [Foto: Henk Widi]
Ukuran benguk yang besar besar terkadang oleh Suryati sengaja diiris atau dibelah. Namun, sebagian justru dibiarkan sesuai ukuran aslinya menjadikan tempe benguk lebih khas, meski terlihat tampilan tempe benguk yang sudah jadi tidak menarik, tak beraturan bahkan lebih ‘badeg’ atau kotor. Meski demikian, tampilan tersebut diakuinya berbanding terbalik dengan rasanya, terlebih saat diolah menjadi tempe bacem goreng kering, menjadi camilan nan lezat.

Proses pembuatan kuliner berbahan tempe benguk yang mudah diakui Fitri saat melakukan proses pengolahan tempe benguk menjadi bacem dan digoreng untuk disajikan dalam momen ‘sambatan’ atau gotong royong membuat rumah milik keluarga Suryati.

Sebelum digoreng, Fitri menyebut tempe benguk terlebih dahulu harus dibacem dengan bahan bumbu berupa santan, daun salam, garam, bawang merah, bawang putih, ketumbar, gula merah dan serai yang dihaluskan sebagai bumbu tempe. Semua bumbu yang sudah dicampur digunakan untuk mengungkep atau merebus tempe benguk dalam wajan hingga meresap.

“Bagi pecinta tempe benguk dalam kondisi matang, saat dibacem dengan sedikit kuah yang masih lengkap tempe bacem bisa langsung disantap, tapi ada yang suka dalam kondisi sudah digoreng”, terang Fitri.

Setelah tempe benguk diberi bumbu bacem dan sudah menjadi tempe benguk bacem, proses penggorengan dilakukan untuk membuat tempe bacem goreng dengan rasa khas ketumbar dan bumbu-bumbu lain. Proses penggorengan menggunakan wajan dengan bahan bakar kayu menjadikan kelezatan tempe benguk bacem goreng lebih terasa nikmat.

Tempe benguk bacem yang sudah digoreng tersebut selanjutnya bisa dihidangkan sebagai camilan maupun lauk makan nasi dalam berbagai kesempatan sarapan pagi hingga makan malam. Namun, bagi Fitri, Suryati dan warga Gandri lainnya, umumnya tempe benguk bacem goreng sebagai makanan khas Yogyakarta tersebut kerap dijadikan camilan disertai makanan lain sebagai pelengkap, seperti jadah dan lemper ketan.

Kuwadi, salah satu menantu Suryati, mengaku menyukai menu tempe benguk bacem goreng untuk dimakan sebagai camilan dan disantap bersama lemper dan jadah ditemani secangkir teh manis, saat istirahat mengerjakan pembuatan rumah. Sebagai generasi ketiga keluarga asal Yogyakarta, ia mengaku memakan tempe benguk menjadi kerinduan akan tempat tinggal leluhurnya dan mengenang susahnya sebagai orang tak punya.

“Memakan tempe benguk sekaligus menjadi kenangan dan agar kami tidak lupa kampung halaman, sehingga kami bisa bersyukur dan bahkan kini di Lampung bisa menanam benguk dalam jumlah banyak”, ungkap Kuwadi.

Kecintaan keluarga dan masyarakat pada tempe benguk, diakuinya cukup terasa sehingga kini benguk banyak disimpan dalam jangka lama dalam wadah kedap udara, sehingga bisa diolah menjadi tempe benguk untuk dibacem atau digoreng. Di beberapa pasar tradisional dengan menu benguk yang sudah dibacem atau digoreng, ia menyebut harganya bisa mencapai Rp2ribu untuk tiga buah atau dalam porsi makanan bacem benguk lengkap bersama nasi dijual seharga Rp10ribu per porsi, lengkap dengan sayuran. Sementara bagi yang bisa membuatnya, tempe benguk bisa dinikmati secara gratis.

Lihat juga...