Musim Kemarau Pengaruhi Turunnya Produksi TBS Sawit di Lampung Selatan

LAMPUNG—Sejumlah petani penanam kelapa sawit yang masih mempertahankan komoditas pertanian bahan baku pembuat minyak goreng mulai mengalami persoalan terkait turunnya produktivitas tandan buah segar (TBS).

Maksun (40) salah satu petani di Desa Batuliman Kecamatan Candipuro mengungkapkan salah satu penyebab penurunan produksi tandan buah segar akibat kondisi cuaca yang memasuki musim kemarau berimbas produksi sawit masyarakat.

Bambang memaparkan penurunan tersebut sudah terlihat sejak sebulan terakhir secara kasat mata, yaitu kondisi buah sawit yang berukuran lebih kecil setiap tandan dan juga mempengaruhi berat kotor sawit saat ditimbang.

Pada saat ditimbang dengan kondisi masih memiliki tandan sawit memiliki bobot sekitar 8-10 kilogram namun saat ini hanya berkisar 5-6 kilogram pada setiap pohon sawit yang ditanamnya pada lahan seluas dua hektare.

Bobot tandan buah segar sawit mengalami penurunan saat kemarau melanda /Foto: Henk Widi.

“Meski hasilnya menurun namun petani masih tetap memanen tandan buah segar untuk dijual kepada pengepul yang datang ke kebun setiap setengah bulan atau sebulan sekali. Hasilnya masih lumayan sebagai sumber penghasilan bulanan dari berjualan sawit,” ujar Bambang kepada Cendana News di Desa Batuliman Kecamatan Candipuro, Senin (18/9/2017).

Turunnya produktivitas sawit pada lahan pertanian yang dimiliki oleh petani di Kecamatan Candipuro akibat musim kemarau juga diakui oleh petani di wilayah Kecamatan Sragi. Salah satunya dialami oleh Johan, petani penanam satu hektare sawit di lahan miliknya.

Kendati produksi turun namun tidak mempengaruhi nasib para petani dengan harga tandan buah segar sawit yang lebih mahal dari sebelumnya. Bahan baku minyak goreng tersebut diakui sejumlah petani termasuk Johan sebelumnya hanya mencapai level Rp800 hingga Rp900 per kilogram di tingkat pengepul sejak awal Agustus ini.

Areal perkebunan sawit di Kecamatan Sragi Lampung Selatan /Foto: Henk Widi.

Memasuki awal September dengan kemarau yang mulai melanda, gairah kenaikan harga sawit sudah mulai terlihat dengan harga seribu rupiah hingga mencapai level Rp1.200 per kilogram dengan sistem penjualan petani mengumpulkan tandan buah segar di tepi jalan yang dekat dengan perkebunan kelapa sawit.

“Pengepul akan datang ke kebun kami lalu menimbang dan memberi nota selanjutnya kami tinggal menukarkan notanya ke bos yang ada di gudang untuk dicairkan uang, ” papar Johan.

Sawit yang dipanen dengan sistem parsial sepanjang berbuah diakuinya bisa memberinya penghasilan ratusan ribu bahkan pada puncak panen dengan harga yang lumayan bisa menghasilkan jutaan rupiah dari berkuintal kuintal produksi TBS sawit miliknya.

Meski sebagai pemilik kebun sawit pada umumnya petani di wilayah tersebut juga membudidayakan tanaman lain berupa jagung dan pisang sebagai sumber penghasilan berkelanjutan sekaligus mata pencaharian.

Bagi Johan peningkatan produktivitas sawit bisa dilakukan dengan pemberian pupuk yang cukup sesuai dengan kebutuhan pupuk oleh kelompok petani sawit di wilayah tersebut untuk memenuhi kebutuhan pupuk jenis urea. Sebagian petani bahkan memanfaatkan pupuk organik pabrikan dan memanfaatkan kotoran ternak sapi dan kambing yang bisa meningkatkan hasil produksi sawit dengan maksimal.

“Kita taburkan pupuk kandang di sekitar pohon sawit saat kemarau dengan harapan saat hujan langsung meresap namun tetap kita lakukan penyiraman dengan mesin pompa dari sungai airnya dialirkan menggunakan selang,” beber Johan.

Kemarau yang melanda diakuinya juga membuat dirinya harus rajin mengontrol lahan sawit dengan membuat tandon penampung air mengantisipasi kebakaran lahan akibat pembakaran tidak sengaja maupun ulah oknum tak bertanggungjawab.

Keringnya dahan sawit di sekitar lahan diakuinya bisa berdampak kebakaran lahan bahkan meski hanya ada pengendara membuang puntung rokok bisa berimbas terbakarnya kebun sawit yang dimilikinya.

Lahan sawit yang kering akibat kemarau/Foto; Henk Widi.

 

Lihat juga...