Minimalisir Polusi dan Kelangkaan Pakan, Petani Lampung Stop Bakar Jerami

LAMPUNG—Ratusan petani Kecamatan Ketapang dan Kecamatan Penengahan mulai memasuki masa panen.  Mereka melakukan proses pengumpulan jerami yang dilakukan dengan cara pengikatan menggunakan tali bambu dan tali rafia.

Kemudian para petani mengumpulkan jerami pada satu lokasi menunggu proses pengangkutan menggunakan kendaraan roda empat maupun roda dua. Sebagian besar jerami sisa limbah hasil panen padi sebelumnya kerap dibakar seusai panen dengan tujuan mempercepat proses pembersihan lahan untuk musim tanam berikutnya.

Supadi, salah satu petani di Desa Sripendowo Kecamatan Ketapang menyebut ia mengumpulkan jerami dengan jumlah ratusan ikat (dibongkok) atas pesanan seorang pemilik ternak sapi di desa setempat yang mulai kesulitan mencari pakan hijauan segar saat kemarau melanda wilayah tersebut. Aktivitas tersebut diakuinya sudah dilakukan semenjak tiga tahun terakhir seiring dengan tingginya permintaan akan pakan ternak yang memanfaatkan jerami.

“Lima tahun sebelumnya sebagian besar petani lebih memilih membakar jerami seusai memanen padinya dengan tujuan mempercepat proses pembersihan lahan meski berimbas polusi udara bahkan asap pekat kerap ditimbulkan akibat pembakaran jerami,” papar Supadi saat ditemui Cendana News di areal persawahan miliknya, Rabu (13/9/2017).

Proses pembakaran jerami seusai panen padi di wilayah tersebut diakui Supadi oleh sebagian warga kini mulai dikurangi dengan adanya kesadaran sisi negatif terkait kualitas udara dari proses pembakaran jerami bahkan sebagian petani melakukan pembersihan proses pencacahan jerami sebagai pupuk organik. Kesulitan pakan bagi petani yang dominan memiliki ternak tersebut sekaligus ikut mendorong berkurangnya proses pembakaran jerami yang ada di areal persawahan.

Menurut Supardi proses pencacahan jerami dengan cara menebarkan ke areal persawahan untuk pelapukan serta pembusukan dipadukan dengan pencacahan batang pisang bisa mengembalikan unsur hara bagi lahan sawah miliknya.

Dirinya juga menyebut pemanfaatan jerami sebagai sumber pakan akibat kelangkaan kebutuhan pakan saat musim kemarau mendorong petani melakukan proses penyimpanan melalui gudang pakan.

Pada beberapa lahan sawah di wilayah Kecamatan Ketapang sebagian jerami yang diambil oleh petani lokal disediakan secara gratis meski sebagian petani pemilik limbah jerami mulai mengkomersilkan dengan cara menjualnya kepada pemilik ternak.

Harga perikat jerami Rp1.000 bahkan dijual kepada pemilik ternak yang mulai kekurangan pakan saat kemarau terutama peternak dari wilayah Kabupaten Lampung Timur dan Lampung Tengah.

“Saya mempersilakan peternak mengambil jerami di lahan saya karena membantu mempercepat pembersihan lahan sekaligus mengurangi polusi udara jika dibakar,” ujar Supadi.

Turipto mempersiapkan pakan ternak sapi sebagian dari cacahan jerami hasil limbah pertanian dan pakan lain dari jenjet jagung /Foto: Henk Widi.

Turipto, warga Desa Sripendowo pemilik puluhan ekor ternak sapi jenis Limousin dan Simental merasakan dampak kekurangan sumber pakan salah satunya dari jerami. Kekurangan jerami terutama adanya petani yang memilih membakarnya dan melarang peternak mengambil untuk pakan.

Dirinya bahkan menyebut beberapa petani masih mempertahankan pembakaran limbah pertanian berupa tebon jagung serta jerami padi meski berimbas udara yang tidak bersih akibat pembakaran tersebut.

Penuhi kebutuhan akan pakan saat musim kemarau Turipto bahkan menyimpan jerami kering yang tidak dibakar petani serta sebagian dari lahan miliknya sebagai stok pakan tambahan disamping pakan dari jenjet,dedak padi serta cacahan tebon jagung dan hijauan.

“Saya pribadi sebagai petani menyayangkan pembakaran jerami yang secara pasti berdampak menurunnya kualitas udara dan kesadaran petani perlu diingatkan,” kata Turipto prihatin.

Beberapa petani yang masih melakukan aktivitas pembakaran sebagian besar merupakan petani yang tidak memiliki ternak  Sementara sebagian petani lagi hanya membakar limbah pertanian seusai tebon jagung dan jerami berkualitas baik untuk pakan telah diambil.

Jerami sisa panen padi dikumpulkan tanpa dibakar sebagai sumbet pakan alami bagi peternak sapi /Foto: Henk Widi.

Pemanfaatan jerami dengan menghentikan proses pembakaran diakuinya bisa ikut menghemat biaya pakan petani dan ikut menjaga kualitas lingkungan tanpa adanya asap. Selain itu jerami serta tebon jagung yang dibusukkan diakuinya justru ikut menyuburkan tanah pertanian menjadi pupuk organik yang bermanfaat bagi tanaman padi maupun jagung.

 

Lihat juga...