Menkes Khawatirkan Kondisi Lansia di Indonesia

PADANG — Menteri Kesehatan RI, Nila Djuwita Farid Moeloek, memperkirakan pada 2030 mendatang jumlah penduduk lanjut usia (lansia) di Indonesia mengalami peningkatan 40 juta jiwa.

Sementara sampai saat ini, lansia di Indonesai telah mencapai 20 juta jiwa, hal ini dinilai Menkes perlu ada perhatian khusus untuk para lansia, agar bisa menjalani kehidupan yang lebih layak.

“Saya inginkan para lansia benar-benar mendapatkan perhatian, baik dari keluarga ataupun saat mendapatkan pemeriksaan kesehatan di rumah sakit. Karena harus diakui, perhatian ke lansia belum optimal,” katanya, di Padang, pada Kongres Nasional VII Perhimpunan Gerontologi Medik Indonesia yang diselenggarakan di Padang, Sabtu (30/9/2017).

Ia menyebut, dari data online rumah sakit di Indonesia saat ini telah mencapai 2.703 unit. Namun, hal demikian hanya 0,5 persen atau 14 rumah sakit saja yang memiliki klinik geriatri (perawatan lansia) terpadu. Sementara untuk memberikan perhatian, perlu adanya klinik geriatri yang memadai, sehingga dinilai perlu ditambah, agar lansia mendapat pelayanan kesehatan yang mudah dan cepat.

“Kalau bisa memang layanan untuk lansia disatukan. Coba bayangkan kalau lansia harus berobat ke poli gigi, lalu jalan lagi ke poli yang lain. Kasihan mereka, kadang untuk jalan saja butuh tenaga banyak,” ujarnya.

Menkes menyatakan, penyakit yang paling banyak diidap lansia saat ini seperti hipertensi. Bahkan, hampir separuh lansia di Indonesia mengidap hipertensi. Jika tidak diperhatikan, kata Nila, maka dikhawatirkan akan berujung stroke. Untuk itu, pemerintah telah melakukan metode pendekatan pada lansia melalui metode keluarga.

Menurutnya, pendekatan secara keluarga sangat penting, karena mungkin para lansia jarang sekali mendapat asupan perhatian dari keluarganya. Dampaknya, banyak lansia yang mengalami gangguan secara psikologis.

“Ketika anak atau menantu di rumah sibuk, lansia jarang terurus, nantinya mereka jadi terabaikan, dan kasus seperti ini juga banyak kita temukan di lapangan,” ungkapnya.

Sementara itu, Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno, mengatakan lansia sangat rawan mengalami gangguan sosial dan psikologis akibat kurangnya perhatian keluarga. “Lansia itu psikologisnya cenderung kembali seperti anak-anak. Untuk, selaku seorang anak perlu memberukan perhatian,” katanya.

Irwan menyebut, banyak cara yang bisa dilakukan oleh anak untuk memberikan perhatian kepada kedua orang tua yang telah lansia. Seperti sering mengajak mereka mengobrol, selalu duduk bersama, saat makan, atapun mengumpul dengan keluarga, atau bahkan mengajak mereka sesekali jalan-jalan.

Ia menegaskan, merawat kedua orang tua juga merupakan tanggungjawab seorang anak, karena melihat pada ke waktu sebelumnya, anak dibesarkan berkat kerja susah payah kedua orang tua. Kini, dengan kondisi kedua orang tua yang sudah tidak kuat lagi beraktivitas seperti waktu dulu, saatnya anak menunjukan baktinya kepada kedua orang tuanya, bukanlah mengabaikan mereka, akibat dari kesibukan masing-masing.

Lihat juga...