Lahan Terbatas, Balai Benih Ikan Yogyakarta tak Mampu Cukupi Kebutuhan Bibit Nila
YOGYAKARTA – Keterbatasan lahan serta kondisi air yang tercemar menjadi kendala utama proses pembibitan benih ikan nila di Balai Benih Ikan (BBI) Mendungan, Giwangan, Yogyakarta. Dengan luas sekitar 3.000 meter persegi BBI Mendungan hanya mampu memproduksi benih ikan nila sebanyak 4000 ekor per bulan.
Penanggung jawab Balai Benih Ikan Mendungan, Warjio, mengatakan, hasil produksi sebanyak 4000 ekor benih ikan tersebut hanya cukup memenuhi kebutuhan bibit petani ikan di sebagian kecil wilayah kota Yogyakarta dan Bantul. Yakni Yogyakarta bagian selatan dan sebagian wilayah Bantul bagian utara.
“Kita hanya memiliki lahan 3.000 meter persegi dengan sebanyak 9 kolam ikan. Sangat terbatas untuk pembenihan. Jadi kita hanya bisa memenuhi untuk sekitar daerah sini saja. Padahal permintaan banyak. Kita juga hanya fokus untuk satu jenis pembibitan yakni ikan nila saja,” katanya.
Tak hanya keterbatasan lahan, kondisi air di sekitar kawasan Balai Benih Ikan Mendungan yang tercemar juga menjadi kendala tersendiri bagi upaya pembenihan. Pasalnya selain aliran air sungai banyak tercemar limbah rumah tangga perkampungan perkotaan, di sekitar kawasan BBI Mendungan juga banyak terdapat industri logam.
“Kita tahu sendiri di sekitar kawasan ini banyak terdapat industri logam pembuatan perkakas rumah tangga. Sehingga membuat air mengandung zat yang tidak seharusnya. Termasuk bakteri ekoli dari limbah rumah tangga,” tuturnya.
Untuk mengatasi hal itu, sebelum dimanfaatkan untuk pengairan kolam, BBI Mendungan sendiri harus terlebih dahulu mengolah air dengan membuat semacam filter alami. Hal itu dilakukan dengan memanfaatkan sejumlah kolam berisi enceng gondok guna mengurangi atau meminimalisir kandungan zat kurang menguntungkan.
“Kendala lainnya saat musim kemarau debit air berkurang. Selain itu juga predator yakni burung kutul. Namun itu bisa disiasati dengan memasang jaring di atas kolam,” ujarnya.
Memilih bibit ikan nila unggul tersertifikasi yakni jenis Nilasa, Balai Benih Ikan Mendungan memiliki 3 orang tenaga pengelola. Jenis ikan Nilasa atau nila merah dipilih karena lebih tahan penyakit serta memiliki nilai jual tinggi sehingga banyak diminati masyarakat. Satu kilogram ikan nila merah ini berkisar Rp24-25ribu.
“Dari larva sampai dewasa butuh waktu sekitar 8 bulan. Namun biasanya kita sudah mulai jual saat umur 1-2 bulan. Sementara yang dewasa kita siapkan untuk regenerasi indukan selanjutnya. Sehingga pembibitan bisa berlanjut seterusnya,” tutupnya.
