Kekeringan, Tanah Lahan Pertanian Dijual untuk Bahan Batu Bata
SOLO – Musim kemarau panjang kali ini, rupaya masih bisa dimanfaatkan petani di Sukoharjo untuk bisa meraup untung. Meski lahan pertanian sudah tidak bisa ditanam karena tidak ada air, retakan tanah karena kekeringan ini justru menjadi pundi-pundi rupiah.
Dialah Widoutomo, petani asal Nglondo, Baki, Sukoharjo, Jawa Tengah ini, mampu memanfaatkan musim kemarau panjang dengan menjual bongkahan tanah untuk bahan baku pembuatan batu bata. Hasilnya pun tergolong cukup lumayan dan mampu menjadi penopang kebutuhan di saat lahan pertanian tak lagi bisa diharapkan.
“Lumayan ini harga tanah yang digunakan untuk batu bata. Satu rit mobil bak terbuka dihargai Rp165 ribu,” ucap Widoutomo kepada Cendana News, Senin (18/9/2017).
Harga bahan baku batu bata itu, kata dia, saat ini tergolong cukup bagus. Sebab, di saat musim penghujan, justru tanah untuk batu bata itu harganya turun hingga Rp80 ribu per rit. Untuk menjual tanah kering itu tidak perlu repot, karena setiap hari sudah didatangi oleh pembeli. “Biasanya sopir sudah cari yang ada tanah dijual. Kita tinggal menyiapkan,” kata dia.
Meski tanah berkurang karena dijual, menurut Wido, tidak merusak lahan pertanian yang dimilikinya. Sebab, tanah yang diambil hanya bagian atas saja, sehingga lahan masih bisa digunakan untuk bercocok tanam. “Tanah yang diambil hanya kedalaman sekitar 30 centimeter. Setelah rata, nanti dikasih pupuk kompos, tanah kembali normal dan bisa ditanami lagi,” urainya.
Dalam sehari, Wido mengaku bisa menjual 2-3 rit tanah yang dimanfaatkan untuk membuat batu bata. Hasil ini cukup lumayan, karena bisa menutup kebutuhan keluarga disaat lahan pertanian tidak bisa menghasilkan. “Kalau satu petak sekitar 2.700 m2, bisa berapa rit saja. Intinya dijual sedikit demi sedikit,” tambahnya.
Salah satu perajin batu bata, Wiyono membenarkan jika musim kemarau saat ini banyak yang membutuhkan tanah liat untuk batu bata. Sebab, di musim kemarau juga mempengaruhi keberadaan perajin batu bata. “Kalau musim kemarau panjang, yang membuat batu bata semakin banyak. Makanya bahan bakunya juga tambah mahal,” ungkap Wiyono.
Saat musim seperti saat ini, dirinya tak menampik jika banyak petani yang beralih profesi dari semula bertani menjadi menjual tanah untuk batu bata. Mendesaknya kebutuhan keluarga juga menjadi salah satu alasan petani lebih menjual tanahnya daripada hanya menganggur tidak bisa ditanami.