Pasokan Bahan Pangan di Lebak Belum Terdampak Kekeringan
LEBAK – Kekeringan yang terjadi saat ini, belum mempengaruhi pasokan bahan pangan di daerah Kabupaten Lebak, Banten.
“Kita menjamin persediaan pangan relatif aman dan mencukupi kebutuhan masyarakat hingga 2020,” kata Kepala Bidang Distribusi dan Pemanfaatan Pangan Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Lebak, Dani Hendarman, Selasa (2/7/2019).
Meski areal persawahan di Kabupaten Lebak mengalami kekeringan, karena kemarau. Debit air irigasi menyusut, produksi pangan di daerah tersebut diklaim masih tetap surplus. “Produksi pangan surplus, sehingga pasokan beras ke sejumlah pasar tradisional berjalan lancar,” tambahnya.
Kekeringan areal persawahan, terjadi di Kecamatan Malingping, Wanasalam, Maja dan Cihara. Kendati demikian, kekeringan yang terjadi diyakini tidak akan menjadikan gagal panen.
Berdasarkan data dari Distanbun Lebak, di Juni 2019 tercatat ada 25.000 hektare tanaman padi dipanen. Panen akan terjadi hingga awal September mendatang. “Kita menjamin produksi beras mencukupi kebutuhan pangan hingga 2020,” tandasnya.
Produksi beras di sepanjang 2018 telah menembus 320.841 ton. Sehingga persediaan pangan saat ini melimpah, dan mencukupi untuk kebutuhan warga Kabupaten Lebak yang berpenduduk 1,2 juta jiwa.
Konsumsi beras warga Lebak sekira 11.977 ton per-bulan, atau 143.724 ton per-tahun. Rata-rata konsumsi per-kapita sebanyak 134 kilogram. Karena itu, produksi beras di Lebak surplus di atas 100 ribu ton. Stok aman hingga 17 bulan ke depan. “Kami menjamin harga beras stabil dan tidak mengalami kenaikan kendatipun dilanda kekeringan,” tandasnya.
Kepala Seksi Perlindungan Tanaman Distanbun Kabupaten Lebak, Itan Octarianto, menyatakan, jumlah areal persawahan yang mengalami kekeringan tercatat 1.243 hektare. Posisinya tersebar dengan usia tanam antara mulai 30 sampai 50 Hari Setelah Tanam (HST).
Berkurangnya, debit jaringan irigasi dikarenakan kemarau dan juga adanya perbaikan irigasi di Kecamatan Wanasalam. “Kami memfokuskan penyelamatan tanaman padi, agar tidak mengalami gagal panen melalui penyaluran pompanisasi,” pungkasnya. (Ant)