Berhenti Melaut, Nelayan Pantai Bugel Memilih Bercocok Tanam

YOGYAKARTA – Puluhan nelayan di Pantai Bugel, Kelurahan Bugel, Kecamatan Panjatan, Kulonprogo, berhenti melaut sejak beberapa waktu terakhir. Mereka memilih bercocok-tanam dengan menggarap sawah dan tegalan (ladang) dengan tanaman sayur dan buah-buahan seperti cabai, bawang merah, sawi, terong, maupun semangka.

Salah satunya dilakukan nelayan Pantai Bugel, Untung (46). Warga asli Dusun Bugel ini mengaku memilih bertani dibanding melaut karena saat ini ikan sedang sulit. Jika dipaksakan melaut, hasil yang didapat dinilai tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia dan sejumlah nelayan lainya pun akhirnya memilih bercocok tanam karena hasilnya dianggap lebih menguntungkan.

“Saat seperti ini, hasil melaut tidak bisa diandalkan. Sekali jalan dengan modal bahan bakar 25-30 liter itu kadang belum tentu bawa ikan. Kalaupun dapat masih harus dibagi separo untuk pemilik perahu. Dan separonya harus dibagi lagi sama rata dengan awak kapal lainnya. Belum lagi dipotong untuk makan. Paling seorang dapat Rp30 ribu. Tidak bisa balik modal,” katanya, Senin (18/9/2017).

Sementara, jika bercocok-tanam, nelayan mengaku mendapat untung jauh lebih besar. Terlebih saat musim kemarau seperti saat ini kawasan tegalan di pesisir pantai selatan sangat cocok untuk menanam sayur dan buah-buahan. Mereka pun tak ragu mengeluarkan modal cukup besar, meski harus meminjam di bank, dengan motivasi mendapat hasil yang menggembirakan.

“Saya menanam semangka di lahan seluas 6 kepek (petak) atau sekitar 5.000 meter persegi. Satu kepek, paling tidak butuh modal Rp1juta. Selama kurang lebih 2 bulan, jika panenan bagus, satu kepek itu bisa menghasilkan semangka minim 2 ton. Jika harga jual semangka Rp2000 per kilo tinggal dikalikan saja hasilnya,” katanya.

Dengan hasil yang cukup menjanjikan itulah dikatakan Untung, mayoritas nelayan memilih bertani dibanding melaut saat sedang musim tanam seperti saat ini. Mayoritas nelayan biasanya memilih menanam semangka dan cabai, karena dinilai tidak terlalu membutuhkan banyak modal dan hasilnya cukup menjanjikan.

“Tak semua nelayan menggarap lahan miliknya sendiri. Ada juga yang menyewa. Biasanya nelayan disini akan kembali ke laut setelah musim tanam usai, yakni sekitar bulan Oktober,” katanya.

Sembari menunggu musim paceklik ikan berakhir, para nelayan biasanya sibuk membetulkan berbagai macam peralatan seperti jaring di sela menggarap sawah atau tegalan. Sebagai informasi, di kawasan pantai Bugel sendiri sedikitnya terdapat sebanyak 100 orang lebih nelayan lokal. Saat sedang berhenti melaut seperti saat ini, Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di pantai inipun nampak sepi dari aktivitas nelayan.

Sejumlah perahu tempel nelayan Pantai Bugel nampak mangkrak tak terpakai. Foto: Jatmika
Lihat juga...