Infrastruktur Masih Jadi Kendala Berinvestasi di Kaltim
BALIKPAPAN — Persoalan infrastruktur masih menjadi kendala investasi sehingga banyak pengusaha yang mempertimbangkan ulang. Mengingat kebutuhan logistik di Kalimantan saat ini yang dibutuhkan adalah transportasi sungai karena Kalimantan mayoritas terhubung dengan sungai.
Persoalan infrastruktur itu adalah salah satu rekomendasi dari para peserta Forum Group Discussion Dalam Rembuk Nasional 2017 Bidang Ekonomi, Industri dan Perdagangan dengan tema utama Percepatan Pertumbuhan Ekonomi Nasional yang Berkualitas.
“Dari beberapa rekomendasi hasil dari FGD yang terpenting adalah bagaimana bisa menarik investor sebanyak mungkin. Dari situ kemudian infrastruktur yang harus disiapkan seperti ketersediaan listrik, konektivitas juga ada,” ungkap Ketua Tim Pakar Bidang Rembuk Ekonomi Destry Damayanti usai FGD Rembuk Nasional di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan.
Adapun peserta FGD adalah perwakilan ekonom, akademisi, pelaku bisnis di daerah yang diselenggarakan di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Selasa (19/9/2017).
Dijelaskannya, FGD di daerah ini untuk mengumpulkan masukan dan rekomendasi kebijakan dari berbagai stakeholder di daerah yang nantinya akan disampaikan kepada Presiden dan diharapkan dapat digunakan oleh pemerintah ke depan.
Di mana arah pembangunan ekonomi yang dilakukan saat ini harus lebih berkualitas ditinjau dari berbagai dimensi. “Pembangunan yang berkualitas harus memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi masyarakat untuk terlibat langsung di dalamnya,” paparnya.
Selain persoalan infrastruktur yang masih menjadi kendala investor, beberapa rekomendasi lainnya dari FGD itu adalah optimalisasi fiskal di daerah. Dibutuhkan tranformasi struktural di bidang ekonomi yang ditujukan pada peningkatan nilai tambah sehingga ketimpangan di daerah kaya SDA berkurang. Namun di sisi lain perlu inovasi dalam penggunaan dana bagi hasil dalam bentuk block grant yang diperuntukkan khusus untuk proses transformasi ekonomi.
“Rekomendasi lainnya reindustrialisasi harus diarahkan lebih merata dan tidak hanya fokus pada satu bidang bisnis saja. Karena kita tahu Kaltim beberapa tahun terakhir sangat tergantung pada sektor pertambangan. Dan sinergi UMKM harus lebih diarahkan mendukung bisnis artinya UMKM terlibat dalam bisnis inti,” terang Destry.
Sementara itu, Rektor Universitas Paramadina, Profesor Firmanzah mengungkapkan, masukan-masukan yang diperoleh di daerah yang menarik adalah bahwa Kalimantan Timur memiliki SDA yang melimpah namun kendala energi listrik masih ditemui. Padahal, Kalimantan Timur salah satu penghasil migas yang besar.
Selain itu, kebijakan-kebijakan di daerah yang juga masih dinilai mempersulit investor dalam berinvestasi di daerah.
“Hal ini menjadi masukan-masukan dan rekomendasi yang nanti akan kami bawa. Biaya logistik yang juga tinggi, infrastruktur lainnya juga jalan tol yang masih terkendala pembebasan lahan. Upayanya pembebasan lahan juga harus sistematis,” tambahnya.
Karena itu, masukan-masukan yang diperoleh dari daerah akan dirumuskan bersama agar percepatan pertumbuhan ekonomi nasional berkualitas.
Dia menambahkan perlu adanya sinergi bisnis yang melibatkan UMKM sebagai bagian dari integrasi value chain bisnis perusahaan besar sehingga pertumbuhan di perusahaan besar juga dirasakan UMKM yang menjadi rekanannya.