Harga Sawi di Tingkat Petani Anjlok hingga Rp700 Per Kilogram
YOGYAKARTA – Anjloknya komoditas harga sayuran khususnya sawi membuat para petani di Kulonprogo merugi. Salah satunya dialami seorang petani sawi, Heru Susanto (30) warga Sukopenganti, Tayuban, Panjatan, Kulonprogo.
Hasil panen sayuran sawi hijau miliknya hanya laku terjual Rp700 per kilogram. Padahal biasanya sawi miliknya laku terjual Rp2.000-3000 per kilogram. Tak hanya dihargai sangat rendah oleh pedagang, Heru juga mengaku kesulitan menjual sawi hasil panen miliknya karena tak banyak pedagang yang mau membeli.
“Banyak pengguna sawi seperti pedagang mie ayam atau bakso yang libur tidak berdagang. Makanya harga sawi jatuh. Ini sudah satu minggu lebih dari masa panen tapi belum juga laku terjual,” katanya kepada Cendana News baru-baru ini.
Heru mengaku, menanam sawi di lahan garapan seluas 800 meter persegi. Dari lahan seluas itu, ia baru bisa menjual sawi hasil panen kurang dari 1/5 saja, yakni sebanyak 100 kilogram dengan pendapatan Rp70 ribu.
“Jelas merugi. Bagaimana tidak, dari hasil panen keseluruhan mungkin hanya dapat 700 kilogram. Kalau harga jualnya cuma Rp700 per kilogram kan tidak balik modal,” keluhnya.
Selain rendahnya harga jual, kondisi lahan garapan yang minim air juga membuat proses pertumbuhan sawi terganggu. Heru mengaku harus memanen sawi miliknya dalam jangka waktu 27 hari atau 7 hari lebih lama dari waktu normal.
“Untuk sewa traktor saja Rp 150 ribu, untuk beli pupuk Rp4.000 per kilo dan butuh 30 kilo, belum lagi untuk beli obat (pestisida) dan biaya tenaga. Jelas tidak untung,” katanya.
Heru hanya bisa berharap agar pemerintah dapat menjaga harga komoditas sayur-sayuran bisa stabil. Jika harga komoditas terus berubah-ubah maka para petani kecillah yang akan selalu dirugikan.
“Kalau terus-terusan seperti ini, ya pasti tidak akan ada orang yang mau jadi petani,” tutupnya.
