Guru Besar UIN IB Sebut PDI-P Pintu Masuk PKI

PADANG — Guru besar Universitas Islam Negeri (UIN) Imam Bonjol Padang, Prof. Dr. Saifullah menyebutkan, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) dinilai menjadi pintu masuk Partai Komunis Indonesia (PKI) era saat ini.

“Kenapa saya sebut PDI-P yang menjadi pintu masuk, karena ada yang selama ini dengan terang-terangnya menyatakan bangga dengan PKI, dan orang itu ada di PDI-P,” katanya, Rabu (27/9/2017).

Prof. Saifullah menyatakan, indikasi itu bukan lagi soal anak dari PKI atau bukan, tetapi dengan menyatakan secara terang-terangan saja, sudah bisa disimpulkan bahwa ada keinginkan PKI itu kembali muncul di Indonesia.

Sebut saja dalam buku yang berjudul “Aku Bangga jadi anak PKI” karangan Dr. Ribka Tjiptaning. Bahasa dalam bangga itu, sudah menyatakan bahwa PKI itu terbaik, sehingga menjadi seorang anak PKI saja, sudah memiliki rasa bangga yang sedemikian rupa, dan bahkan dengan berani menyebarkan rasa bangga itu melalui karangan buku.

“Kini Dr. Ribka Tjiptaning ini merupakan anggota DPR RI Dapil Jawa Barat IV dari fraksi PDI-P. Ini baru satu orang, jadi dari catatan yang saya punya ada empat orang di PDI-P yang rasanya perlu diwaspadai juga, dan orang-orang itu sepertinya mulai memasuki perguruan tinggi untuk mempengaruhi para mahasiswa, terkait hal PKI,” ucapnya pada saat menjadi pemateri Kuliah Umum di UIN Imam Bonjol Padang dan sekaligus menggelar nonton bareng G30S/PKI bersama ribuan mahasiswa.

Prof. Saifullah saat menyampai materi tentang Mewaspadai Kebangkitan Komunisme Gaya Baru di UIN Imam Bonjol Padang/Foto: M. Noli Hendra

Disebutkan Saifullah, selain Dr. Ribka Tjiptaning, Prof. Dr. Saifullah menyatakan juga ada orang PDI-P lainnya yang dinilai menjadi pintu PKI, yakni Budiman Soejatmiko. Budiman dinilai seorang mahasiswa (dulu) yang sangat bersemangat mengamalkan warisan Pram yang waktu itu kuliah di UGM, yang kemudian mendeklrasikan Partai Rakyat Demokratik tahun 1996 di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).

“Kita tahu waktu itu PRD yang dipimpin oleh Budiman Soejatmiko sangat radikal dan melakukan tindakan-tindakan prvokasi dimana-mana. Seperti pada tanggal 22 Juli 1996, PRD mengeluarkan manifesto perlawanan terhadap kekuatan Orde Baru. Perlawanan yang dilakukan di antaranya secara tajam menyerang dan mengkritik kondisi politik dan kondisi sosial-ekonomi,” paparnya.

Selanjutnya, lanjut Saifullah, yakni kader PDI-P, Rieke Diah Pitaloka. Prof. Saifullah menyebutkan, Rieke Diah Pitaloka telah memanfaatkan fasilitas negara untuk sebuah temu kangen keluarga besar PKI. Misalnya pada tanggal 24 Juni 2010, Rieke Diah Pitaloka dan juga Dr. Ribka Tjiptaning serta Nursuhud Komisi IX DRP RI ketika itu, yang berkunjung ke Banyuwangi dalam rangka temu dengan PPI (Persatuan Perawat Indonesia) dan IBI (Ikatan Bidan Indonesia) untuk sosialisasi Program Kesehatan Gratis. Namun, acara bergeser dan berubah menjadi reuni dan temu kangen keluarga besar PKI dari berbagai daerah di Jawa Timur di Rumah Makan Pakis Ruyung.

“Jadi, sepertinya kemungkinan besar PDI-P menjadi pintunya PKI untuk kembali hadir di era saat ini. Dan menurut saya, mahasiswa harus jeli untuk menerima informasi-informasi yang kemungkinan mengarah tentang ideologi PKI,” harapnya.

Dikatakannya, orang-orang yang di PDI-P tersebut, berkemungkinan akan mudah untuk terus mengembangkan sayapnya, karena mereka cukup banyak memiliki jaringan. Karena, ada beberapa indikasi menguatnya PKI gaya baru di Indonesia, di antaranya adanya wacana penghapusan kolom agama pada Kartu Tanda Penduduk (KTP). Ditemukannya lambang PKI di kalangan selebritis dan tokoh-tokoh politik. Cina memberikan bantuan dalam jumlah besar dalam bentuk dana (Hidupkan kembali poros Jakarta-Beijing). Revisi Undang-Undang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KRR) yang bertujuan memutihkan kesalahan PKI. Upaya penghentian pemutaran film G30S/PKI, serta sejumlah indikasi lainnya.

“Saat ini jika pun PKI itu muncul lagi, jangan berpikir bahwa yang muncul itu semuanya adalah anak-anak dari PKI. Intinya, PKI gaya baru ini tidak lagi mengedepankan sebagai seorang anak PKI, tapi membangun PKI baru,” ungkap Sejarawan Sumbar ini.

Namun, ketika ditanya terkait persoalan data yang disampaikannya, Prof. Saifullah menyatakan data-data tersebut ia dapatkan dari berbagai sumber dan juga dari beberapa pengamatan yang dilakukannya. Bahkan ia mengklaim, data-data itu hampir sama dengan yang dimiliki oleh pihak intelijen.

Melihat kondisi demikian, Prof. Saifullah mengimbau kepada para mahasiswa yang kini menjadi sasaran PKI gaya baru, supaya janganlah mudah percaya cerita-cerita tentang sejarah Indonesia ini terkait adanya PKI. Selaku seorang generasi yang memiliki intelektual, pelajarilah sejarah yang telah ada dari sumbernya yang benar.

Sementara itu, salah seorang mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang, Alfian mengaku sangat khawatir apabila PKI kembali muncul dan beraksi melakukan kekejaman di Indonesia. Meski pemutaran film G30S/PKI sebagai upaya memperkenalkan sejarah PKI, ia menyatakan dengan demikian generasi bangsa saat ini bisa membentengi dari pengaruh tanda-tanda akan kemungkinan kemunculan PKI.

Alfian juga berharap, kegiatan yang dilakukan oleh UIN Imam Bonjol Padang juga turun dilakukan oleh perguruan tinggi lainnya. Ia menilai jika generasi bangsa mengenali sejarah kekejaman PKI, maka kesatuan untuk mengganyang PKI akan semakin kuat. karena selaku generasi bangsa menginginkan Indonesia yang damai, bukan adanya tindakan kekejaman, layaknya yang dilakukan oleh PKI pada zaman dulunya.

Lihat juga...