Embung untuk Pertanian, Mentan: Air Hujan Jangan Terbuang Begitu Saja

YOGYAKARTA — Mencapai target Indonesia sebagai lumbung pangan dunia pada tahun 2045, Kementerian Pertanian tengah merintis pemanfaatan air hujan sebagai sumber pengairan lahan pertanian yang mengalami kekeringan.

Menteri Pertanian, Amran Sulaiman mengatakan, potensi air hujan di Indonesia sangat melimpah. Hal tersebut dapat dimanfaatkan untuk lahan tadah hujan yang mencapai separuh dari luas wilayah yang ada.

“Mimpi kita ke depan bagaimana lahan tadah hujan semua dapat terairi. Air hujan yang jatuh harus bisa dimanfaatkan dengan cara di-recycle, untuk kebutuhan tanaman pangan dan sayuran, sebelum kembali ke laut. Jangan hanya terbuang begitu saja,” katanya dalam Pameran Pembangunan Pertanian Perikanan dan Kehutanan, Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Expo dan Rembug Utama dalam rangka hari jadi KTNA ke 46, di Jogja Expo Center, Yogyakarta, Jumat (22/09/2017).

Untuk bisa mewujudkan hal tersebut dikatakan Mentan, solusinya adalah dengan membangun tempat-tempat penampungan air berupa embung di semua wilayah tadah hujan. Termasuk juga membangun sumur dangkal maupun sumut dalam.

“Air hujan yang jatuh harus bisa dimanfaatkan, di recycle, jangan hanya dua kali tapi bisa berkali-kali. Dengan begitu saya yakin target Indonesia sebagai lumbung pangan dunia tahun 2045 akan berhasil,” ujarnya.

Pemerintah sendiri mengklaim telah berupaya membangun embung-embung di banyak lokasi dalam dua tahun terakhir. Dimana selama tahun 2016-2017 saja, melalui Kementerian Desa sudah ada sebanyak 30 ribu unit embung yang dibangun.

“Kita terus mengejar pembangunan embung selama dua tahun terakhir ini,” katanya.

Tak hanya itu, untuk menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia, Kementerian Pertanian juga berupaya melakukan mekanisasi pertanian dengan gencar memberikan bantuan alat mesin pertanian (alsintan) bagi petani.

“Jika dulu bantuan alat mesin pertanian hanya sekitar empat ribu per tahun, kini kita memberikan sebanyak 80 ribu unit alsintan per tahun. Naik 2.000 persen. Alsintan ini sangat penting untuk menekan biaya produksi. Karena tanpa mekanisasi, pertanian kita tidak akan maju,” tutupnya.

Lihat juga...