Distan Sikka Bantu Bibit Tanaman Holtikultura bagi 67 Kelompok Tani
MAUMERE – Dinas Pertanian Kabupaten Sikka untuk musim tanam tahun 2017 membantu bibit dan sarana produksi seperti pupuk dan obat-obatan bagi 67 kelompok tani yang tersebar di 21 kecamatan yang ada di Kabupaten Sikka untuk pengembangan tanaman holtikultura, baik buah-buahan maupun sayuran.
Demikian disampaikan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Hengky B.Sali, melalui kepala seksi Pengolahan dan Pemasaran Hasil Bidang Tanaman Pangan, Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Hilarius Keytimu, saat ditemui Cendana News, Senin (18/9/2017).
“Ada bantuan bibit yang sudah diberikan kepada petani dan ada yang nanti saat musim hujan tiba baru didrop sehingga petani bisa langsung menanamnya,” ungkapnya.
Dikatakan Hilarius, untuk buah-buahan terdiri dari durian diberikan untuk 7 kelompok tani, rambutan 5 kelompok, jeruk keprok 4, alpukat 5, serta mangga 1 kelompok tani.
Sementara, untuk sayur-sayuran diberikan untuk pengembangan wortel 1 kelompok, bawang merah 2 kelompok, serta sayuran lain seperti tomat, cabai, kol, sawi dan lainnya disebar kepada masing-masing 2 kelompok yang tersebar di 21 kecamatan yang ada di Sikka.
“Untuk bawang merah jarang yang tertarik karena belum terbiasa menanamnya sehingga hanya 2 kelompok, yakni Kringa Liwu di desa Kringa dan satunya kelompok Sudi Hena Desa Nebe. Masing-masing akan menanam pada lahan seluas setengah hektar,” jelasnya.
Bantaun bibit untuk buah-buahan dan sayuran ini setiap tahun tetap diberikan kepada kelompok tani, terang Hilarius, khususnya kepada daerah-daerah di sekitar tempat wisata agar bisa dijual kepada wisatawan yang datang.
Dinas Pertanian tambahnya, juga akan melakukan pemantauan saat musim tanam untuk melakukan pengecekan apakah bantuan yang diberikan memang ditanam oleh kelompok tani, sekaligus juga memberikan pendampingan terkait perawatan.
“Kami memberikan bantuan sesuai usulan masyarakat saat Musrembang dan hanya kelompok petani bawang saja yang meminta bantuan lengkap dengan pupuk dan obat-obatan sementara yang lainnya tidak,” sebutnya.
Patrisius Benyamin, ketua kelompok Kringa Liwu mengaku, tertarik mengembangkan bawang merah dan memberanikan diri mengajukan proposal permintaan bantuan karena harga jual bawang merah sangat menjanjikan dan belum banyak petani yang menanam.
Patrisius mengaku, akan mencoba mengembangkan bawang merah mengandalkan ilmu yang didapat serta akan meminta bantuan dari Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) sehingga bisa meraih hasil panen yang maksimal.
“Kalau hasil panen memuaskan, kami tahun berikutnya akan menambah luas lahan, sebab selain sudah berpengalaman uang yang didapat juga dikatakan lumayan. Banyak untuk sekali panen,” pungkasnya.
Untuk diketahui, dana yang dipergunakan untuk pengadaan bibit dan benih tanaman berasal dari APBN. Untuk pengembangan tanaman lombok atau cabai dan pisang Branga seluas 5 hektar dananya dari APBD I Provinsi NTT sementara sisanya berasal dari APBD II Sikka.
