Denpasar Beri ‘Reward’ ke Petani untuk Cegah Penyempitan Lahan

DENPASAR — Keberadaan lahan pertanian di kota Denpasar saat ini kondisinya semakin menyempit, Menurut data yang ada, pada tahun 2016 luas lahan pertanian hanya tersisa 2.485 hektare. Penyempitan disebabkan oleh tidak terkendali alih fungsi lahan menjadi perumahan, gedung perkantoran, gudang.

Hal tersebut membuat pemerintah setempat melakukan berbagai terobosan untuk tetap menjaga dan mempertahankan lahan pertaniannya. Salah satunya dengan cara pemberian reward kepada petani.

Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Holtikultura Kota Denpasar, I Gede Ambara Putra mengungkapkan, pemberian reward ini berupa pemberian benih dan pupuk kepada petani. Dikatakannya, pemberian berdasarkan penilaian yang dilakukan oleh Dinas pertanian terkait proses serta hasil tanam pertanian.

“Kami sudah lakukan itu, pemberian itu kami nilai terlebih dahulu,“ ucapnya saat ditemui di Denpasar, Senin (18/9/2017).

Ambara Putra menambahkan, tidak hanya itu, pihaknya juga memberikan intensif berupa penambahan harga beli gabah dari petani sebesar 200 rupiah setiap kilonya. Dengan catatan gabah dari petani tersebut dijual ke usaha penyosohan beras di Denpasar.

“Kalau petani itu menjual hasil panennya kepada tengkulak, tidak akan diberikan intensif,“ jelas pria yang biasa disapa Ambara ini.

Dijelaskan, saat ini produksi padi sudah melebihi rata-rata kebutuhan nasional yaitu sebesar 10 ton per hektare. Dan secara produktivitas hasil pada dari Kota Denpasar menjadi terbaik se Bali.

Tidak hanya itu, pihaknya juga berencana memanfaatkan lahan pertanian menjadi wisata pertanian. Untuk itu pihaknya sudah membuat kerjasama dengan pihak Dispar kota Denpasar, Dinas PU untuk membahas infrastruktur rencana itu.

“Kami juga sudah menggandeng IPB untuk melakukan kerjasama dibidang pengembangan hasil pertanian,” tutupnya.

Lihat juga...