Dari Mangrove Hasilkan Pewarna Alami Batik Organik
MALANG – Selama ini para perajin batik hanya mengenal pewarna kimia untuk mewarnai motif-motif yang mereka buat. Namun siapa sangka dengan memanfaatkan berbagai jenis tanaman mangrove ternyata mampu menghasilkan warna alami yang memiliki keunikan tersendiri.
Adalah Sholehudin pengelola Batik Organik Buring yang mengenalkan batik organik kepada masyarakat Malang. Ia menceritakan, pembuatan batik organik berawal dari sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat Yayasan Gajah Sumatera (LSM Yagasu) yang bergerak di bidang penanaman dan pemeliharaan mangrove di pesisir pantai di sepanjang pantai di Medan dan Aceh.
Dalam upaya memberdayakan masyarakat agar tidak merusak mangrove yang ada di sana, diadakan semacam kegiatan pemberdayaan masyarakat khususnya ibu-ibu untuk membuat batik organik dengan memanfaatkan pewarna alami yang salah satu bahan pewarna batiknya dari kayu mangrove.

“Mangrove manfaatnya banyak sekali, selain untuk menahan abrasi, menyerap polusi udara juga bisa digunakan sebagai bahan pewarna alami,” jelasnya. Ada beberapa jenis tanaman mangrove yang bisa digunakan sebagai pewarna di antaranya lenggading dan mata buaya.
Menurut Sholehudin, warna yang dihasilkan dari tanaman mangrove sangat unik karena cenderung lebih cerah dan lebih terang daripada warna kayu-kayuan yang lain. Cara perebusannya juga dengan menggunakan air payau.
Sholehudin mengatakan, pada tahun 2014 batik organik baru masuk di Malang guna memberdayakan masyarakat khususnya yang ada di daerah Buring.
Lebih lanjut Sholehudin menyampaikan, batik yang ia produksi disebut batik organik karena bahan pewarnaannya dari alam yang ramah lingkungan dan tidak merusak lingkungan. Selain dari tanaman mangrove, warna alami untuk batik juga bisa didapat dari kulit kayu pohon Mahoni, kayu Secang dan kayu Tegeran.
“Kulit kayu Mahoni cenderung menghasilkan warna merah kecokelatan, kayu Secang warna orange, Tegeran warna kuning. Kemudian ada kayu Indigo untuk menghasilkan warna biru dan kayu Tingi untuk warna cokelat,” terangnya.
Ada juga warna soga (cokelat tua) hasil perpaduan antara kayu Tegeran, Tingi dan Secang. Untuk dapat menghasilkan warna-warna tersebut, kayu-kayu pewarna alami direndam dengan air selama satu malam. Kemudian kayu-kayu tersebut direbus dengan perbandingan kayu 1 kg dan airnya 10 liter. Kayu direbus hingga airnya tersisa 7 liter.
Setelah direbus dan air sudah dingin, baru kain dicelupkan. Satu kain rata-rata 5-8 kali pencelupan tergantung warna yang diinginkan. Kalau ingin warna lebih pekat, pencelupannya bisa sampai 10 bahkan 15 kali tergantung kepekatan yang diinginkan.
“Pewarnaan batik organik prosesnya memang cukup lama. Satu warna bisa sampai 6-8 kali pencelupan karena warnanya harus benar-benar masuk ke pori-pori kain,” ungkapnya. Proses pewarnaan yang panjang inilah yang menyebabkan warna batik organik tidak luntur.
Setiap warna dikeringkan selama 2 hari. Jadi semakin banyak komposisi warna, otomatis prosesnya semakin lama. Oleh karena itu harganya juga relatif lebih mahal daripada batik biasanya.
“Harga batik organik sekitar 400 ribu sampai dengan 3,5 juta Rupiah tergantung kerapatan cantingan dan bahan kainnya,” ujarnya.
Sementara untuk motifnya, Sholehudin mengaku lebih banyak menggunakan motif Nusantara karena segmentasi pasar dari batik organik tidak hanya di Malang saja tetapi seluruh Nusantara. Tetapi juga ada motif Malangan meskipun tidak banyak, seperti motif tugu, topeng Malangan dan teratai.
“Semua jenis batik yang ada di sini adalah batik tulis. Tidak ada batik cap,” ucapnya.
Untuk pemasarannya, Sholehudin lebih banyak mengikuti berbagai pameran di berbagai daerah untuk memasarkan batik organik. Sampai saat ini konsumen batik organik kebanyakan masih berada di dalam negeri. Kalau untuk pasar di luar negeri sifatnya masih perorangan.
“Beberapa waktu yang lalu kami mengikuti pameran di Bali. Disana ada turis asing yang tertarik membeli batik organik,” paparnya.
Sementara itu dengan dibantu 8 orang karyawan dari warga sekitar, Sholehudin memproduksi batik organik setiap hari kecuali hari Minggu. Dalam satu minggu, setidaknya 10 lembar kain batik organik dapat diproduksi.
