Damandiri Siapkan Generasi Petani Masa Depan

YOGYAKARTA — Semakin menyusutnya jumlah petani dan minimnya minat anak muda menggeluti sektor pertanian, menjadi salah satu kendala besar dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan.

“Karena itu, kita sengaja memilih dan mengumpulkan bibit-bibit muda petani yang betul-betul ingin belajar berinovasi dan menerapkan sistem pertanian organik, guna menyongsong era ketahanan pangan”, kata Retnosari Widowati Harjojudanto, Pembina Waringin Agritech yang merupakan tim pelatihan sistem pertanian organik yang digelar bersama Yayasan Damandiri, di Balai Desa Argomulyo, Sedayu, Bantul, Yogyakarta.

Cucu Presiden Kedua RI, Soeharto yang akrab disapa Mbak Eno tersebut, menjelaskan, pelatihan sistem pertanian organik diadakan selama 14 hari, sejak 6 hingga 19 September, mendatang. Harapannya, para peserta yang terdiri dari petani muda dari berbagai daerah di Yogyakarta dan Jawa Tengah, benar-benar mampu menguasai cara pembuatan pupuk organik.

“Tidak hanya cara membuat pupuk organik, namun juga cara bertani sistem organik. Ini hanya langkah awal dari upaya kita menyiapkan generasi muda yang mampu bergerak di bidang pertanian organik, karena yang selama ini ada dengan penggunaan pupuk kimia semakin disadari memberi efek berbahaya”, kata Eno.

Sementara itu, Tim Demplot Pelatihan Sistem Pertanian Organik ‘Waringin Agritech’, Dhany HMS, menjelasakan, penggunaan pestisida bisa berbahaya bagi kesehatan, karena sedimen-sedimen resin yang menempel pada buah atau tanaman bisa meracuni. “Hal-hal inilah yang akan kita ubah, dan mengembalikan lagi kepada sistem pertanian organik”, katanya.

Menurut Dhany, dalam pelatihan tersebut peserta tidak hanya diajarkan cara membuat pupuk organik. Namun, juga cara bercocok-tanam, mulai dari mencangkul dan mencegah serangan hama tanpa menggunakan pestisida kimia. Misalnya, dengan menggunakan daun pepaya untuk mengusir hama keong yang akan memakan tanaman padi, atau memberinya tonggak, agar keong bertelur di tonggak itu, sehingga tidak merusak tanaman.

“Jadi, dalam pelatihan ini kita ajarkan cara atau sistem pertanian organik itu dari hulu ke hilir. Mulai dari cara membuat pupuk organik dari kompos dengan memanfaatkan sampah rumah tangga, kotoran ternak dan sisa pertanian seperti jerami, enceng gondok dan lain-lain, hingga cara mengolah tanahnya”, kata Dhany.

Dhany juga menjelaskan, jika tanaman yang ditanam pun juga harus beragam dan inovatif, agar mampu memberikan hasil yang lebih maksimal. Misalnya, cabe puyang atau cabe Jawa yang sebetulnya sangat bernilai jual tinggi, namun belum banyak dibudidayakan.

Dhany menampik, jika sistem pertanian organik dikatakan lebih sulit dan memakan waktu lebih lama. Menurutnya, anggapan itu hanya karena belum tahu cara dan sistemnya yang benar.

“Hanya lima hari pupuk organik itu bisa selesai dibuat. Selama proses lima hari itu petani bisa menyiapkan lahan terlebih dahulu, dan begitu selesai, pupuk organik pun selesai dan siap digunakan” katanya.

Selain mudah, lanjut Dhany, penggunaan pupuk organik juga lebih hemat, sehingga menekan biaya produksi dan hasil pertanian pun maksimal. Harga jual produk pertanian organik pun lebih mahal. “Market-nya pun lebih khusus”, tegas Dhany.

Lihat juga...