33 Juta Hektar Lahan Pertanian Marginal Potensial Dikembangkan
YOGYAKARTA — Anggota Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi SE, Titiek Soeharto mendorong upaya pemanfaatan lahan-lahan tidur di Indonesia. Baik itu dalam sektor pertanian ataupun sektor lainnya termasuk industri pembuatan garam. Dengan potensi alam yang sangat besar, serta didukung anggaran yang juga besar, pemanfaatan lahan tidur itu harus terus diupayakan.
“Harus dilihat, disurvei, dan dipetakan daerah mana saja yang memiliki potensi untuk bisa dikembangkan. Petani di daerah-daerah tersebut juga harus diedukasi. Dengan begitu kita akan bisa mewujudkan swasembada pangan. Jangan terus-terusan impor. Karena impor hanya menguntungkan beberapa gelintir orang saja,” katanya di Yogyakarta, Sabtu (23/9/2017).

Hal senada juga disampaikan Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir. Ia menyebut ada sebanyak 33 juta hektar lahan marginal di Indonesia yang potensial untuk dikembangkan sebagai lahan pertanian yang subur. Selama ini lahan marginal berupa rawa lebak, rawa pasang surut maupun rawa gambut itu belum banyak dimanfaatkan.
“Kita memiliki lahan subur yang sudah ditanami mencapai 8,1 juta hektar. Tapi sebenarnya ada 33 juta lahan marginal yang bisa dikembangkan. Saat ini lahan seluas 500 hektar telah diujicoba di Sumatera Barat dan sudah berhasil. Rencananya hasil ujicoba ini akan dikembangkan ke semua provinsi,” ujarnya dalam HUT KTNA ke 46, di Yogyakarta.
Untuk bisa mencapai target Indonesia sebagai lumbung pangan dunia pada tahun 2045, upaya-upaya semacam itu menurut Winarno harus terus dilakukan. Termasuk menerapkan teknologi terbaru dalam dunia pertanian. Pasalnya dikatakan Indonesia sebenarnya mampu membuat serta telah banyak memiliki teknologi pertanian. Hanya saja hal itu belum diramu dan dipadukan dengan baik, sehingga belum bisa terwujud.
“Jangan silau dengan teknologi yang didapatkan dari luar. Kita sebenarnya sudah punya banyak teknologi sangat maju. Tapi memang belum atau tidak banyak diungkapkan. Seperti misalnya kita punya alat yang bisa mengurangi biaya produksi dan meningkatkan hasil. Ini akan bisa mengurangi biaya produksi kita yang 2,5 kali lebih mahal dari Vietnam,” katanya.