Warga Dusun Plalangan, Semula Tak Bisa Membatik Kini Jadi Sentra Batik

SLEMAN – Keberadaan Posdaya Migunani, Dusun Plalangan, Pendowoharjo, Sleman, Yogyakarta, sejak beberapa tahun terakhir, terbukti mampu memberdayakan warga masyarakat sekitar. Salah satunya melalui pembentukan kelompok batik Ayu Arimbi yang melibatkan ibu-ibu rumah tangga di dusun tersebut.

Ibu-ibu dari berbagai strata ekonomi baik keluarga pra sejahtera, sejahtera 1, 2, maupun 3 dirangkul untuk membuat sebuah kelompok unit usaha. Bekerjasama dengan kelurahan setempat, mereka dilatih membuat batik dan diberi modal berupa kain untuk membatik. Setelah mampu membuat produk batik sendiri, Posdaya Migunani turut membantu memasarkan produk tersebut.

“Tahun 2012 kita diajak ikut pelatihan membatik dari kelurahan. Awalnya tidak ada yang mau, karena merasa tidak bisa dan sulit. Apalagi tidak ada warga yang memiliki pengalaman membatik sama sekali. Tapi karena dari semua pedukuhan yang ada di kelurahan tidak ada yang mau, akhirnya ibu-ibu dari Dusun Plalangan yang maju berangkat pelatihan,” cerita Ketua Kelompok Batik Ayu Arimbi, Sri Arumiyati, belum lama ini.

Sebanyak 15 kain batik saat pelatihan menjadi modal awal ibu-ibu Dusun Plalangan menapaki usaha kelompok pembuatan kain batik mereka. Kain batik yang telah jadi itu pun dijual, untuk digunakan membeli bahan pembuatan batik kembali. Caranya dengan menawarkan batik kepada teman atau kenalan agar mau membeli.

“Kita sangat terbantu dengan dukungan dan kepedulian para pengurus Posdaya dan tokoh masyarakat dusun. Mereka membantu mempromosikan produk batik kami dengan membeli dan menawarkan ke teman kantor ataupun kenalan. Jadi kami didorong untuk fokus pada produksi saja,” katanya.

Setelah berjalan dengan modal seadanya termasuk pinjaman dari para ibu-ibu asal keluarga sejahtera 3 yang tergabung dalam kelompok batik itu sendiri, unit usaha batik Ayu Arimbi pun mulai berkembang. Sedikit demi sedikit mereka mampu memasarkan sendiri. Sejumlah alat pendukung membatik juga mulai mampu mereka beli. Posdaya Migunani juga terus memberikan dukungan dengan mengikutsertakan produk batik dalam setiap iven kelurahan, kecamatan bahkan kabupaten.

Hanya dalam kurun waktu kurang dari 5 tahun saja, kelompok batik Ayu Arimbi telah mampu berkembang pesat. Dusun Plalangan dengan kelompok batik Ayu Arimbi yang awalnya tidak memiliki latar belakang membatik sama sekali itupun bahkan ditetapkan sebagai dusun sentra batik tingkat kabupaten oleh Bupati Sleman.

“Saat ini jumlah anggota kami ada 20 orang, namun yang aktif sekitar 15. Setiap hari kita selalu produksi. Baik itu batik cap, tulis ataupun kombinasi. Untuk penjualan tidak pasti. Tapi hampir setiap beberapa hari selalu ada tamu yang datang untuk membeli. Kita bahkan sering menerima pesanan hingga ratusan kain batik setiap bulan,” beber Sri.

Dikelola secara profesional dengan sistem koperasi, ibu-ibu rumah tangga Dusun Plalangan yang awalnya tidak bekerja itu pun kini mampu mendapat penghasilan yang terbilang lumayan. Bagaimana tidak dalam kurun waktu 1-2 bulan mereka bisa mengantongi pendapatan minimal hingga sekitar Rp3 juta per orang.

“Kita sistemmya kelompok. Jadi setiap ada pembelian atau pesanan masuk kita kerjakan bersama-sama. Nanti setelah selesai, biasanya 1-2 bulan, hasil kita hitung. Rata-rata kita dapat Rp50 juta. Jumlah itu lalu kita bagi semua anggota 15 orang. Jadi setiap orang mendapat sekitar Rp3 juta,” katanya.

Dengan sistem absen, yakni masuk mulai hari Senin hingga Sabtu, tidak semua ibu-ibu anggota kelompok batik Ayu Arimbi bisa membatik. Sehingga pembagian tugas dilakukan sesuai kemampuan masing-masing. Mereka biasanya mengerjakan kegiatan membatik secara bersama di salah satu rumah anggota yang dijadikan semacam gerai. Memanfaatkan kearifan lokal, mereka juga biasa mencuci kain batik di salah satu sungai dusun mereka, tanpa mencemari lingkungan. Karena mereka memiliki tempat tampungan limbah secara khusus.

“Untuk jenis dan motifnya bermacam-macam. Ada motif parijotho parang, gajah parang, parijotho truntum, sinom parijotho salak, dan sebagainya. Kita juga membuat banyak motif kombinasi. Untuk motif khas kita adalah motif bambu dengan ciri warna berani. Kita juga membuat batik dari warna alam. Yang jelas semua kita kerjakan secara handmade. Untuk harga bervariasi, mulai dari Rp200-500 ribu per kain,” bebernya.

Sebagai sentra batik Kabupaten Sleman, kelompok batik Ayu Arimbi Dusun Plalangan banyak dikunjungi tamu dari berbagai daerah dari seluruh wilayah Indonesia bahkan sejumlah negara asing seperti Malaysia, Brunai, Thailand, Australia, dan lainnya. Tak sekadar untuk melihat produk batik ibu-ibu dusun, namun juga belajar bagaimana proses pembuatan hingga upaya pemberdayaan yang dilakukan.

“Ke depan kita ingin mengembangkan tidak hanya membuat kain batik saja. Tapi juga mengembangkannya, misalnya membuat pakaian batik, membuat tas batik atau sandal batik. Sehingga warga dusun lainnya juga bisa terlibat. Kita juga ingin bisa memiliki bengkel produksi dan gerai sendiri, sehingga saat ada kunjungan tamu bisa lebih nyaman. Untuk kendala mungkin lebih pada modal dan pemasaran. Selama ini kita masih swadaya dengan mengajukan KUR. Pemasaran juga masih manual dari mulut ke mulut, untuk online masih kesulitan,” katanya.

Ketua Kelompok Batik Ayu Arimbi, Sri Arumiyati. Foto: Jatmika H Kusmargana

 

Lihat juga...