Titiek Soeharto : Indonesia Mempunyai Potensi Besar Budidaya Perikanan

SLEMAN — Anggota Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto menilai potensi besar bangsa Indonesia berupa bentangan alam yang luas serta ketersediaan air yang melimpah harus benar-benar dimanfaatkan masyarakat untuk mengembangkan budidaya perikanan khususnya air tawar.

Selain dapat meningkatkan pendapatan warga, usaha budidaya juga dapat menjadi sumber protein bagi masyarakat sekaligus membuka lapangan kerja serta menurunkan angka pengangguran.

“Perhatian dan kepedulian pemerintah sangat dibutuhkan dalam pengembangan usaha budidaya ikan ini. Baik itu berupa pembinaan, pelatihan, pemanfaatan teknologi maupun penyelenggaraan forum-forum rutin untuk menghadapi permasalahan yang dihadapi,” ujar Putri Presiden RI ke 2 HM Soeharto itu dalam kunjungan kerjanya di KPI Mina Sekawan, Dusun Kruwet, Sumberagung, Moyudan, Sleman.

Dalam kesempatan itu, Titiek Soeharto juga mengapresiasi kebersihan KPI Mina Sekawan, yang berhasil mengembangkan berbagai potensi dusun baik itu minapadi, gurami hingga usaha budidaya cacing sutra yang memiliki prospek luar biasa.

Ia berharap keberhasilan itu dapat ditularkan terhadap kelompok-kelompok lain sehingga pada akhirnya mampu meningkatkan kesejahteraan warga masyarakat.

Camat Moyudan, Widiantoro, mengatakan potensi pertanian dan perikanan di kecamatan Moyudan sangatlah besar. Sedikitnya terdapat sebanyak 38 kelompok ikan di Kecamatan Moyudan saat ini.

Lewat berbagai kelompok tersebut Kecamatan Moyudan mampu menghasilkan produksi ikan mencapai 5000 ton per tahun pada 2016 lalu.

“Usaha budidaya perikanan di kecamatan Moyudan sangat strategis dan memiliki potensi besar karena kondisi alam yang mendukung. Nilai tukar petani saat ini mencapai 108. Jika ditopang sektor perikanan tentu akan semakin mendongkrak keuntungan petani. Karena itu saya berharap ibu Titiek Soeharto dapat mendorong mendukung pengembangan sektor perikanan di sini agar kesejahteraan warga masyarakat semakin meningkat,” katanya.

Ketua Kelompok Peternak Ikan (KPI) Mina Sekawan, Winardi, mengatakan selain memiliki prospek cerah, usaha budidaya cacing sutra juga sangat menguntungkan.

Pasalnya ia menyebut usaha cacing sutra hampir sama sekali tidak membutuhkan biaya produksi karena hanya memanfaatkan limbah kotoran ikan lele.

Memanfaatkan lahan seluas kurang lebih 500 meter persegi, KPI Mina Sekawan mampu memproduksi sekitar 15-20 liter cacing sutra siap hari. Dengan harga jual Rp20 ribu per kilo, mereka pun mampu mendapat pemasukan hingga Rp400 ribu per harinya.

“Sangat menguntungkan karena kita hampir sama sekali tidak mengeluarkan biaya produksi. Pasar juga masih sangat luas, karena setiap hari produksi kita belum mampu mencukupi kebutuhan atau permintaan pasar,” katanya.

Lihat juga...