Terbesar ke-4 Nasional, Pengangguran di Banten Perlu Terobosan

SERANG – Gubernur Banten, Wahidin Halim, menyatakan perlunya sebuah terobosan untuk menyelesaikan persoalan tingginya pengangguran di Banten, tidak bisa dilakukan hanya dengan bursa kerja atau job fair.

“Jangan hanya berorientasi pada industri, apalagi industri yang padat modal. Harus cari terobosan, agar masyarakat bisa mengatasi persoalan pengangguran ini,” kata Wahidin Halim, saat membuka bursa kerja (job fair) Disnaker Provinsi Banten di Serang, Selasa (22/8/2017).

Ia mengatakan, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi jangan hanya bekerja sendiri dalam mengatasi persoalan pengangguran, karena perlu pendekatan komprehensif dengan melibatkan semua pihak terkait serta dengan kebijakan-kebijakan Pemerintah Provinsi Banten.

“Angka pengangguran tinggi, maka angka kemiskinan juga akan tinggi, karena ini saling terkait satu sama lainnya,” kata Wahidin.

Wahidin Halim mengatakan, potensi-potensi yang dimiliki oleh Provinsi Banten harus dimanfaatkan dengan baik dan dijadikan sebagai modal untuk upaya perluasan lapangan pekerjaan dan penyaluran tenaga kerja.

“Disnaker jangan dibiarkan sendiri mengatasi persoala-persoalan pengangguran. Harusnya dinas pertanian, pendidikan dan dinas-dinas lainnya juga bergerak bersama-sama mengatasi pengangguran,” kata Gubernur Wahidin.

Ia menegaskan, kondisi ketenagakerjaan di Banten yang masih lemah, harus diperbaiki dari berbagai sektor, dengan melibatkan semua stakeholders terkait serta semua pemerintah kabupaten dan kota di Banten.

Good Government adalah adanya sinergitas antara pemerintah sebagai regulator dengan perusahaan sebagai pembuka lapangan pekerjaan serta masyarakat yang memberikan kontrol sosial,” katanya.

Sementara, Ketua DPRD Banten, Asep Rahmatullah, mengatakan, masih tingginya pengangguran di Banten salah satunya karena belum adanya link and match antara lembaga-lembaga pendidikan di Banten dengan perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja. Selain itu, orientasi lulusan pendidikan atau perguruan tinggi juga lebih berorientasi pada pencari kerja, bukan menciptakan lapangan pekerjaan.

“Sekarang kan ada peralihan kewenangan sekolah SMK/SMA ke provinsi. Nah, ini momentum yang tepat bagi provinsi untuk menciptakan sekolah-sekolah kejuruan yang siap masuk di dunia kerja,” kata Asep.

Selain itu, kata dia, sekolah-sekolah atau perguruan tinggi di Banten juga harus lebih banyak melahirkan anak didik yang siap menciptakan lapangan pekerjaan, bukan melahirkan lulusan pendidikan yang berorientasi sebagai pencari kerja.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Banten, Alhamidi, mengatakan, berdasarkan data BPS jumlah pengangguran di Provinsi Banten sebanyak 462 ribu orang dan pengangguran di Banten merupakan pengangguran keempat terbesar secara nasional.

”Keberadaan perusahaan di Banten tidak mengurangi pengagguran secara langsung. Diharapkan job fair ini bisa mengurangi pengangguran,” katanya.

Di antara penyebab pengangguran tersebut, karena pendidikan formal belum mampu menghasilkan lulusan yang menjadi pangsa pasar kebutuhan kerja. Sebab, setiap tahun lulusan sekolah menambah pengangguran.

“Faktor lainnya karena rendahnya SDM. Data di Dinas Pendidikan rata-rata lulusan SMP ke bawah,” kata Alhamidi.

Karena itu, kata dia, job fair tersebut dimaksudkan untuk mempertemukan para pencari kerja dan pengguna tenaga kerja secara langsung. (Ant)

Lihat juga...