Seniman dan Sastrawan Lintas Generasi Ramaikan Sinergi Puisi dan Sastra Kamardikan

YOGYAKARTA – Sejumlah seniman, penyair, dan sastrawan menggelar aksi Sinergi Puisi dan Sastra Kamardikan, memperingati HUT ke-72 RI, sekaligus menyongsong peringatan Hari Puisi 9 September, mendatang.

Sejumlah penyair kawakan dan tokoh serta seniman sepuh (tua) Jawa Yogyakarta kumpul bersama di Pendopo Dalem Pinunggul di Pedukuhan Barak II, Margoluwih, Seyegan, Sleman, Selasa (29/8/2017). Dengan penuh semangat, mereka membabar makna kemerdekaan melalui puisi dan sastra serta dialog kebangsaan dalam perspektif kebudayaan.

Tuan rumah Dalem Pinunggulan, Ki Ageng Pinunggul, mengatakan, acara tersebut merupakan upaya kecil sejumlah komunitas, antara lain Komunitas Puisi Indonesia (KOPI) dan Sastra Kanjeng untuk memberikan apresiasi, kontribusi, dan beraudiensi tentang sastra serta seni budaya bangsa Indonesia.

Dengan menggelar acara di dusun, kata Pinunggul, pihaknya mencoba menggerakkan dan menggetarkan semangat dari dalam melalui basis pedesaan, guna menyadarkan insan kesenian, khususnya pencipta puisi, yang selama ini dinilainya mati suri. “Ini karena banyak penyair besar yang telah tutup usia, mungkin juga beralih bidang ke politik atau lebih banyak berkarya di tempat-tempat khusus atau eksklusif,” kata Pinunggul.

Warga antusias menyimak acara Sinergi Puisi dan Sastra Kamardikan. Foto: Jatmika H Kusmargana

Karenanya, lanjut Pinunggul, Sinergi Puisi dan Sastra Kamardikan sengaja digelar di desa dengan harapan mampu menggerakkan dan menyentuh langsung masyarakat yang selama ini dianggap kurang tersentuh dengan keberadaan puisi. “Memang puisi itu mungkin tidak penting. Tapi, dengan puisi itu kita bisa membangkitkan rasa dan emosi. Nah, dengan acara ini, kita coba memberi stimulus kepada masyarakat,” kata Pinunggul.

Dengan cara halus, melalui sinergi puisi ia ingin menyampaikan pesan dan kritik secara halus, bersinergi antara seni, budaya, dan spiritual.

Sementara itu, Ketua Masyarakat Adat Mataram, Sutiyoso, mengatakan, tak ada masalah dengan dunia sastra di Indonesia, khususnya Yogyakarta. Hanya saja, menurutnya, selama ini mungkin sastra bergerak di ruang-ruang terbatas atau khusus sehingga kurang diketahui.

“Melalui sinergi puisi dan sastra di desa, kita ingin mendekatkan sastra kepada masyarakat. Bahwa puisi dan sastra sebetulnya tidak berdiri sendiri. Jika digelar sebulan sekali, gerakan sastra khususnya puisi juga bisa menjadi daya tarik dan mampu turut mempromosikan pariwisata,” kata Sutiyoso.

Selain itu, lanjut Sutiyoso, kegiatan serupa ini juga merupakan salah satu upaya membangun karakter generasi muda. “Kita tahu, anak muda sekarang ini tidak bisa lepas dari gadget. Dengan acara ini, setidaknya kita bisa mengarahkan anak-anak untuk menggunakan gadgetnya untuk hal positif, misalnya berkomunikasi tentang puisi dan sastra,” jelasnya.

Gelar Sinergi Puisi dan Sastra Kamardikan yang berlangsung sederhana namun penuh makna juga disertai sajian kuliner khas berupa makanan tradisional seperti garut, ubi, dan lainnya. Ada pula suguhan sederet keris yang merupakan salah satu warisan leluhur Nusantara yang telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia asli Indonesia.

Kegiatan Sinergi Puisi dan Sastra Kamardikan di Pendopo Dalem Pinunggul di Pedukuhan Barak II, Margoluwih, Seyegan, Sleman. Foto: Jatmika H Kusmargana
Lihat juga...