Ratusan Siswa PAUD Solo Belajar Berkurban dari Cerita Nabi Ibrahim
SOLO — Berkurban tidak serta merta diartikan sebagai mengeluarkan sebagian harta untuk membeli hewan untuk disembelih dan dibagikan kepada sesama. Jauh dari itu, berkurban adalah mengikhlaskan atau merelakan apa yang sangat disayangi semata-mata mengharap keridaan dari Allah SWT.
“Jadi kurban tidak hanya sekedar membeli kambing atau sapi untuk disembelih pada Hari Raya Idul Adha. Sejarah kurban telah jelas digambarkan, bagaimana seorang Nabi Ibrahim yang diperintahkan Allah menyembelih Ismail, anak semata wayang yang baru berusia 9 tahun,” papar Tutik Triyanti salah satu guru PAUD Fatimah, saat menceritakan kisah Nabi Ibrahim kepada ratusan siswa, pada kegiatan “Manasik Haji” yang digelar di halaman sekolah pada Kamis (31/8/2017).
Tak hanya keteguhan hati Nabi Ibrahim, lanjut Tutik, kesalehan dan kepatuhan Ismail menjadikan Nabi Ibrahim yang semula ragu, menjadi teguh pendirian untuk menunaikan perintah Allah yang dikirimkan melalui mimpi berulang-ulang.
“Ini yang dikatakan Ismail setelah mendengar perintah Allah. Hai bapakku! Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu! Insha Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar,” kutip dia seperti yang tertera pada Alquran, Surat Ash-Shaffat ayat 102.
Atas kuasa Allah, Ismail yang dibaringkan, saat disembelih diganti dengan domba yang gemuk dan besar. “Tiba-tiba Ismail sudah berada di belakang ayahnya (Ibrahim) sembari bergembira karena yang disembelih bukan dirinya melainkan telah diganti dengan domba,” imbuhnya sembari menekankan pentingnya berkurban dalam Islam.
Pada kesempatan ini, pelajaran berharga dalam kisah Nabi Ibrahim adalah bagaimana umat Islam diperintahkan berkurban, tidak hanya mengambil sebagian harta untuk membeli hewan kurban. Jauh dari itu, perintah kurban adalah merelakan dan mengikhlaskan apa yang sangat disayangi karena semata-mata mengharap rida Allah SWT. “Itulah pelajaran berharga dari kisah Nabi Ibrahim, yang mengajarkan berkurban kepada kita,” imbuhnya.
Selain mendengarkan cerita, ratusan anak ini juga mengikuti praktek manasik haji secara langsung. Seperti mengikuti tahapan manasik haji mulai dari Thowaf yang berarti mengelilingi Kabah sebanyak 7 kali, dilanjutkan lari-lari kecil atau Sa’i, Wukuf di Padang Arofah, melempar jumroh sebanyak dua kali, dan diakhiri dengan Tahalul atau memotong rambut.
“Kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan kepada anak-anak tentang ibadah haji, yang bertepatan dengan bulan Dzulhijah di mana ibadah haji ditunaikan. Dengan melibatkan langsung untuk mengikuti tata cara haji, anak-anak bisa lebih mengenal Rukun Islam ke 5,” kata Endah Sri Wahyuni salah satu guru pembimbing lainnya kepada Cendana News.
Meski ibadah haji tergolong masih awam di mata anak-anak, antusias untuk mengikuti jalannya manasik haji cukup besar. Lebih lanjut Endah mengatakan, pembelajaran “Manasik Haji” ini diikuti oleh 243 siswa, yang terdiri dari Kelompok Bermain (KB) dan TK. Dalam pembelajaran ini, siswa ditekankan akan pentingnya selalu berdzikir dan berdoa selama ibadah haji.
“Setelah potong rambut, kemudian anak-anak minum air zam-zam. Setelah itu pelajaran manasik haji selesai ,” tandasnya.
