Produk UKM Eks Lokalisasi Dolly Tembus Manca Negara
SURABAYA – Beberapa produk Usaha Kecil Menengah (UKM) di kawasan eks Lokalisasi Dolly, terus berkembang pesat. Tak hanya di dalam negeri, produk UKM tersebut juga diekspor hingga ke manca negara. Satu di antaranya, UKM di Kupang Gunung, Kelurahan Putat Jaya.
“Ada yang pesan dari Malaysia, Brunei Darussalam, Pakistan, Tiongkok, Korea. Sebenarnya kita tidak memproduksi ke luar negeri. Tapi, by order, aja,” kata Yuni Triwijayati (34), warga Putat Jaya, saat ditemui di kawasan Eks Lokalisasi Dolly, Selasa (1/8/2017).
Menurut Yuni, apa yang dilakukannya karena adanya bantuan dari Pemkot Surabaya. Di antaranya, mesin jahit, bahan sepatu seperti kulit, kain, hingga tempat untuk produksi sepatu. “Kami mendapat bantuan Pemkot selama setahun. Hasil produksi itu kemudian kami putar untuk membeli bahan dan lainnya,” kata perempuan ibu rumah tangga itu.
Saat ini, lanjut Yuni, sepatu yang dibuatnya kebanjiran order, utamanya sepatu-sepatu dinas untuk dinas-dinas di beberapa daerah di Jatim, misalnya di Kabupaten Blitar, Probolinggo, hingga ke Papua. Sepatu kulit yang ia jual rata-rata dibandrol sebesar Rp100-200 ribu. “Ada yang mengorder dua ribu sepatu, ada yang 1800 sepatu, bahkan ada yang mengorder lima ribu sepatu,” kata Yuni.
Tak hanya dinas-dinas pemerintah, pengrajin sepatu yang tergabung dalam UKM Kelompok Usaha Bersama (KUB Mampu Jaya) itu juga kerap mendapat orderan sandal hotel. Dalam seminggu, ia mendapat orderan sandal sekitar 2.000. Hasil dari produksi itu, UKM KUB Mampu Jaya bisa meraih omset sekitar Rp15 juta per bulan. “Alhamdulillah, Mas. Dulu saya hanya ibu rumah tangga sekarang bisa bekerja jadi perajin sepatu,” kata Yuni.
Pengky Gunawan (40), warga Kali Kebiting, Surabaya, pembatik di eks lokalisasi Dolly juga mengalami peningkatan. Pada 2016, omset membatik sekitar Rp2 juta per bulan, naik menjadi Rp9 juta per bulan. “Adanya peningkatan ini, karena dibantu Pemkot mempromosikan saat ada even pameran,” kata Pengky.
Selain membatik, Pengky juga membantu sekitar 100 warga binaan. Ini merupakan salah satu tujuan didirikannya perajin batik di eks lokalisasi Dolly. “Rumah batik ini, satu tempat yang didirikan Pemkot untuk berdayakan warga setempat fokusnya memang pembinaan,” katanya.
Pengky dan Yuni berterimakasih kepada Pemkot Surabaya yang telah membantu memberikan bantuan kepada para pelaku UKM di eks lokalisasi Dolly. Dari UKM itu, warga setempat bisa memproleh pendapatan cukup untuk menafkahi keluarganya. (Amaluddin)