Pengembangan Budidaya Pala di DIY Terkendala Ketersediaan Bibit
YOGYAKARTA – Meski memiliki nilai ekonomi sangat tinggi, pengembangan budidaya tanaman Pala di DIY khususnya Kabupaten Sleman masih terkendala penyediaan bibit. Hingga saat ini ketersediaan bibit masih harus dipenuhi dari luar daerah. Padahal peminat petani untuk menanam Pala di Kabupaten Sleman semakin meningkat.
Hal itu diungkapkan petani Pala asal Dusun Saren, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Aris Harmanto. Ia menyebut saat ini semakin banyak permintaan bibit Pala dari para petani di sekitarnya. Namun tidak adanya pembibitan pohon Pala di wilayah DIY membuat petani harus mendatangkan dari luar daerah.
“Di DIY tidak ada yang jual. Paling dekat dari Purworejo atau Kebumen, itu pun untuk jenis kualitas yang kurang bagus. Sementara untuk bibit yang kualitas bagus harus didatangkan dari Bogor,” kata lelaki yang mulai menanam Pala sejak 2007 ini.
Mengatasi hal tersebut, Aris berupaya membibitkan sendiri Pala di kebunnya. Sayangnya, waktu pembibitan yang lama membutuhkan rentang jarak satu tahun lebih, menjadi kendala tersendiri.
“Karena melihat belum adanya pembibitan di DIY, saya lalu coba membibitkan sendiri. Satu bibit saya jual Rp12 ribu. Tapi kendalanya waktu pembibitan yang cukup lama. Untuk bisa menghasillan bibit setinggi 30 cm, butuh waktu sampai 1 tahun,” katanya.
Kendala lain budidaya tanaman Pala dikatakan juga terkait persoalan hama penyakit, yakni salah satunya pengeret batang. Hama penyakit ini biasa menyerang batang tanaman pala. Sementara upaya penanggulangan dilakukan dengan cara melubangi batang kemudian memasukkan obat pestisida.
Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Dinas Pertanian Pangan Perikanan dan Kelautan Kabupaten Sleman, Risti Bintaryani, menyebut kondisi geografis Kabupaten Sleman sebenarnya cocok untuk pembudidayaan pala. Hanya saja kekurangtahuan masyarakat akan tingginya potensi ekonomi pala membuat budidaya Pala masih belum berkembang.
Terkait upaya pengembangan budidaya pala sendiri pihaknya mengaku terus mendorong para petani. Baik dengan melakukan penyuluhan terkait proses penanaman yang tepat maupun cara mengatasi hama penyakit.
“Masih ada petani yang menamam pala dengan jarak tanam terlalu dekat, padahal idealnya 4-5 meter. Sedangkan untuk mengatasi pengeret batang, kita rutin melakukan pemantauan dan pengecekan. Termasuk penggunaan metode terbaru menggunakan bor,” katanya.
