Nikah Mulia, Penghargaan Bagi Pengantin Warga Desa Watowara
LARANTUKA — Perkawinan atau pernikahan dalam budaya Lamaholot merupakan suatu ritual sakral, sebuah masa dimana seorang pemuda dan pemudi yang selama ini terpisahkan diikat janji untuk hidup bersama.
Menikah adalah sebuah kebanggaan dimana setelah semua proses secara adat dari lamaran hingga mengikat janji suci sehidup semati secara agama lewat sakramen perkawinan di geraja membuat pengantin sangat dihargai karena telah melewati tahapan nikah mulia.
Dalam pentas seni budaya Titehena di kantor camat Titehena, warga desa Watowara menampilkan sebuah pertunjukan yang berceritera tentang ritual adat perkawinan di desa Watowara.
Donatus Don Kelen salah seorang anggota sanggar yang ditemui Cendana News usai pementasan menjelaskan, pementasan yang ditampilkan berceritera tentang ritaual adat perkawinan, nikah mulia di kampung Watowara kecamatan Titehena yang sejak dulu dipertahankan.
Natus sapaannya mengatakan, riitualnya dimulai dari penjemputan pengantin usai dari gereja, di arak ke dalam kamar pengantin berganti pakaian dan keluar mengenakan pakaian adat Lamaholot.
“Setelah itu dilanjutkan dengan kegiatai ritual Apawai dimana pihak Belake atau om memberikan makanan untuk menjadi bekal bagi kedua pengantin sehingga kelak bisa menghasilkan keturunan dalam kehidupan perkawinan,” ujarnya.
Dalam pementasan ini jelas Natus, pihaknya hanya mengambil dari proses adat di pertengahan saja saat pesta yang dimulai saat pengantin pulang dari gereja masuk ke tenda pesta hingga keluar dari kamar pengantin.
“Dalam adat Lamaholot nikah mulai merupakan sesuatu yang sakral sehingga dibuat dengan ritual adat dimana ritual ini masih ada sampai sekarang dan ini dibuat biasanya saat nikah mulia, bukan menikah setelah hidup bersama dan memiliki anak,” terangnya.
Natus menyebutkan, ritual ini baru pertama kali dipentaskan sebab saat ini sudah hampir hilang dan sudah jarang orang melakukan nikah mulia dan dirinya pun mengalaminya saat melangsungkan pernikahan mulia.
Bersatu dan Berkat Keturunan
Imelda Lambertini Boleng Hayon salah seorang anggota sanggar lainnya menambahkan, ritual ini perlu dipentaskan dan dilestarikan serta diajatkan kepada generasi muda agar menjadi warisan leluhur yang perlu dijaga dalam menata kehidupan keluarga yang lebih baik.
Saat pengantin masuk ke tenda pesta usai berkat nikah di gereja sebut Imelda, para penari menyambutnya dengan menari Seleng sambil berjalan mundur menghantar pengantin menuju kamar pengantin sambil menyanyikan lagu Manis, ucapan syukur dan puji-pujian dalam suasana gembira.
Para penari perempuan mengenakan sarung tenun ikat serta baju motif kain tenun mengenakan selendang di leher dimana kedua tangan memegang ujung selendang seraya menggerakan tangan dengan lentur diikuti liukan badan.

Biasanya kedua tangan bergantian digerakan maju dan mundur sambil badan sedikit dicondongkan miring seraya ujung selendang dikibaskan dengan diiringi suara musik dan lagu para penari terus bergerak mundur dengan perlahan.
“Alat musik yang digunakan mengiringi tarian ini biasanya biola, juk, gitar dan gendang dank arena jumlah pesertanya dibatasi 15 orang maka saat pementasan tidak dipergunakan alat musik perkusi dari bambu atau botol kaca dan suling,” ungkap Imelda.
Dalam ritual ini juga terang Imelda, ada pesan atau nasehat-nasehat dan doa saat pengantin telah duduk di pelaminan dimana diucapkan nasehat untuk hidup baik dan melayani banyak orang disertai doa dengan harapan Tuhan memberkati keluarga baru agar diberikan keturunan.
“Pemberian sapu tangan dari tetua adat melambangakan persatuan sebab setelah menikah mereka bukan lagi dua melainkan satu sementara suguhan sirih pinang melambangkan sel telur guna meminta kepada leluhur dan Tuhan atau Lera Wulan memberkati dan memeberikan keturunan yang banyak,” pungkasnya.