Minat Warga Minim, Industri Kerajinan Logam Yogyakarta Terkendala Tenaga Produksi
YOGYAKARTA — Minimnya tenaga produksi menjadi kendala utama para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) kerajinan logam di Yogyakarta. Mereka mengaku kesulitan mendapatkan tenaga produksi karena rendahnya minat masyarakat sekitar untuk menekuni industri kerajinan logam yakni pembuatan perkakas rumah tangga.
Hal itu diungkapkan para pelaku UMKM di kawasan Sentra Industri Kerajinan Logam Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta. Untuk memenuhi kebutuhan tenaga produksi, mereka pun mengaku harus mendatangkan tenaga kerja dari luar Yogyakarta seperti Gunungkidul, Kulonprogo, hingga Wonogiri, serta Kebumen.
“Kendala utama kita itu tenaga. Mayoritas tenaga di sini dari luar Yogja bahkan luar DIY. Karena masyarakat di sekitar sini enggan bekerja di bidang itu. Mereka pun kadang masuk kadang tidak, sehingga mengganggu keberlanjutan proses produksi,” ujar salah seorang pelaku UMKM industri kerajinan logam, Harmawan (45) warga Kranon, Sorousutan, Umbulharjo, Yogyakarta, Selasa (29/08/2017).
Kampung Kranon, Sorousutan, sendiri selama ini dikenal sebagai kawasan sentra pembuatan industri kerajinan logam di Yogyakarta. Sejumlah usaha kecil pembuatan perkakas rumah tangga banyak terdapat di kampung ini. Mulai dari usaha pembuatan panci, wajan, cetakan roti, ketel atau tempat pengukus nasi dsb. Dengan proses produksi yang seluruhnya masih manual, tenaga manusia menjadi sangat diandalkan.
“Peoses produksi alat rumah tangga disini semuanya masih menggunakan cara tradisional atau manual. Mulai dari peleburan logam menggunakan tungku, pencetakan, hingga finishing semua manual. Sehingga kita sangat bergantung pada tenaga manusia. Kalau tenaga libur, otomatis produksi menjadi terganggu,” ujar Harmawan pelaku usaha yang khusus membuat loyang atau cetakan kue itu.
Meneruskan usaha ayahnya sejak 10 tahun lalu, ia mengaku memiliki sebanyak 6 orang tenaga produksi. Dalam sehari ia mengaku mampu memproduksi cetakan kue hingga sebanyak 500 biji. Sementara dalam satu minggu ia bisa menjual sedikitnya 2000 buah cetakan kue. Biasanya cetakan kue itu ia kirim ke luar daerah seperti Delanggu, Magelang dan sebagainya.
“Kendala lainnya terkait pasar. Di mana saat ini semakin banyak alat perkakas rumah tangga produksi luar negeri seperti dari China masuk ke Indonesia. Sehingga otomatis mempengaruhi penjualan industri rumah tangga seperti kami. Dulu kami bisa menjual perkakas hingga 3000 buah lebih seminggu. Sekarang paling hanya 2000 buah,” katanya.
Menurut Harmawan, pemerintah mestinya dapat membatasi masuknya produk-produk dari luar negri ke Indonesia. Yakni dengan membantu para pelaku industri kecil dalam negri agar dapat bersaing dengan produk impor. Baik itu dengan memberikan bantuan modal usaha, pelatihan-pelatihan, maupun soal pemasaran dan pemanfaatan teknologi terbaru.
“Kalau kita bisa bikin sendiri, kenapa mesti impor dari luar. Mestinya kan industri dalam negri didorong agar lebih berkembang. Bukan malah membuat kebijakan membebaskan produk luar masuk ke sini,” katanya.
