Menag RI: Islam Itu Moderat
JAKARTA – Menteri Agama (Menag), Lukman Hakim Saifudin, mengapresiasi Rabithah Al Alam Al Islami yang telah menginisasi acara seminar bertajuk ‘Peran Universitas Dalam Penguatan Islam Moderat’ di ruang Arifin Panigoro, Universitas Al Azhar Indonesia, Jakarta, Senin (14/8/2017).
Menag mengatakan, bagaimana pun juga isu tentang Islam Wasathiyah sudah menjadi kebutuhan semua warga dunia, tidak hanya negara-negara dengan jumlah umat muslim terbesar, tetapi di era globalisasi di mana tidak ada lagi sekat-sekat di antara kita. Maka, kondisi yang terjadi di suatu negara itu akan berdampak kepada negara lain, karena sudah mengglobal.
Karena itu, ungkap dia, Islam harus memberikan konstribusi jelas yang positif dalam upaya memajukan perabadan dunia. Dan, Wasathiyah adalah sebuah paham yang sangat relevan untuk dijadikan acuan pedoman, dan tujuan dalam membangun peradaban ke depan.
“Jadi, sebenarnya Islam itu, ya Wasathiyah itu. Islam itu, ya moderat itu. Kalau ada orang mengklaim Islam, tapi dia tidak moderat, dia tidak wasathiyah sebenarnya dia bukan Islam,” tegas Lukman dalam seminar tersebut.
Dikatakan dirinya, belakangan ini Islam dibajak oleh pihak-pihak tertentu yang sebenarnya hanya mengatasnamakan Islam, demi tujuan pribadi atau kelompoknya saja. Tapi, kemudian menggunakan agama Islam untuk alat pembenaran dari tindakan-tindakan yang sebenarnya hanya untuk kepentingannya saja. “Nah, oleh karenanya kalau kita bicara Islam, ya Islam itu wasafiyyah itu. Islam itu, ya moderat itu,” ungkap dia lagi.
Menurutnya, di Indonesia sendiri itulah yang dikembangkan atau yang diajarkan oleh banyak pendahulu kita seperti Wali Songgo. Bahkan jauh sebelum Wali Songgo hadir, itulah ajaran Islam yang wasathiyah. Yakni, Islam yang mampu menghormati dan menghargai keragaman yang ada. Meskipun kita tidak setuju sekalipun, tapi keragaman itu hakekatnya sunatullah tetap kita hormati dan hargai. Karena mereka adalah bagian dari sesama kita tidak hanya bagian satu bangsa, tapi sesama umat manusia.
Menag menyebutkan, bahwa Allah SWT mengatakan dalam firman-Nya: ‘Setiap manusia terlepas apapun etnisnya, jenis kelamin, warna kulitnya dan agama yang dianutnya itu ada roh illahiyah yang ada dalam diri setiap manusia’. Itulah, jelas dia, kenapa ajaran agama Islam sangat menghormati dan melindungi harkat derajat kemanusiaan. Apapun agama yang dianut mereka. Karena mereka manusia ada bagian dari Tuhan yang bersemayam pada diri setiap manusia, sehingga kita sekeras, setajam dan sebesar apapun perbedaan yang ada di antara kita tidak boleh menghilangkan, apalagi menegasikan harkat derajat kemanusiaan itu.
Terkait peran masjid di kampus, Menag pun mengatakan, kampus sudah menjadi upaya untuk bagaimana mengembangkan peradaban, karena sekarang adalah era teknologi informasi dan komukasi. Jadi, ilmu pengetahuan dan teknologi sangat penting, dan perguruan tinggi pun mempunyai peran yang sangat besar.
“Masjid dan kampus menjadi sangat relevan. Islam bisa dikembangkan melalui masjid-masjid yang ada pusat-pusat ilmu pengetahuan, yaitu perguruan tinggi kita,” pungkas Lukman.