Lihai Menangkap Ikan, Nelayan Pujiharjo Piawai Bercocok Tanam
MALANG — Tak ada rotan, akar pun jadi. Mungkin itulah sedikit peribahasa untuk menggambarkan kehidupan para nelayan di desa Pujiharjo, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten. Selain menggantungkan hidupnya pada hasil laut, mereka juga memanfaatkan hasil pertanian untuk bertahan hidup.
Priyadi, salah satu nelayan mengaku selain memiliki keahlian dalam menangkap ikan, kebanyakan nelayan yang hidup di daerah tersebut juga mempunyai kemampuan bahkan piawai untuk bercocok tanam. Hal itu dilakukan untuk tetap bertahan hidup terutama di musim angin atau ombak besar yang selalu menjadi momok menakutkan bagi nelayan untuk melaut.
Priyadi menceritakan, bercocok tanam dan melaut sudah menjadi rutinitas harian dari warga, terutama yang tinggal di sepanjang Pantai Spellot. Pada pagi hari biasanya warga akan pergi ke kebun mereka masing-masing untuk merawat tanamannya (pisang, kopi, cengkeh), sedangkan sore harinya mereka baru pergi melaut hingga malam.
“Biasanya kami baru berangkat mencari ikan pukul empat sore dan pulang pukul sembilan malam,” jelasnya kepada Cendana News, Minggu (27/8/2017).
Aktivitas tersebut setiap hari mereka lakukan kecuali di musim angin dan ombak besar (bulan 1, 7, dan bulan 12).
“Kalau sudah ombak besar dan angin kencang, biasanya nelayan tidak mau melaut dan memilih seharian berada di kebun. Daripada berisiko,” ujarnya.
Lebih lanjut Priyadi mengtakan, di perairan laut yang biasa ia datangi kebanyakan ikannya adalah ikan Tongkol, Tengiri dan Kakap. Untuk sekali melaut, biaya yang ia keluarkan yaitu sekitar 200 ribu rupiah.
Sedangkan untuk hasil tangkapannya, Priyadi mengaku tidak menentu tergantung musim dan keberuntungan.
“Kalau sedang mujur dalam sekali melaut saya bisa membawa pulang 2-4 kwintal ikan. Tapi kalau tidak musim ikan biasanya hanya 1 kwintal, bahkan bisa kurang dari itu,” akunya.
Apabila di uangkan, kurang lebih bisa menghasilkan satu juta rupiah setiap kwintalnya jika harga ikannya 10 ribu per kilogramnya.
Menurutnya, dulunya ada beberapa nelayan yang menggunakan bom ikan untuk mendapatk ikan. Tapi sekarang cara tersebut sudah tidak digunakan lagi. Para nelayan kini lebih memilih menggunakan jala dan alat pancing.
“Sekarang sudah tidak ada yang pakai bom ikan, takut di hukum,” katanya.
Sementara itu kepala desa Pujiharjo mengaku, dalam menjual hasil tangkapannya, para nelayan masih lebih sering langsung menjualnya kepada para tengkulak dari pada di Tempat Pelelangan Ikan (TPI).
“Nelayan di sini masih enggan menimbang ikan di TPI, mereka lebih senang menimbang ke tengkulak-tengkulak yang membiayai mereka beli jaring dan berbagai perlengkapan melaut lainnya,” terangnya.
