MALANG — Berawal dari hanya sekedar hobi melukis, salah satu seorang Jalan Kawi Selatan, Kota Malang, Dyah Rachmalita kini kerap dipercaya untuk mengikuti berbagai kegiatan pameran di beberapa negara baik di Asia maupun di Eropa.
Dari hobinya itu pula, saat ini perempuan yang akrab disapa Lita tersebut tidak hanya mahir melukis diatas kanvas tetapi juga mampu melukis di atas media kaca (glass painting) bahkan memiliki usaha dengan nama ‘Lita Glass Painting’.
Kepada Cendana News, Lita mengisahkan bahwa perkenalannya dengan kerajinan lukis kaca dimulai pada 2007, saat ia mengikuti kursus glass painting atau lukis kaca yang diisi oleh seorang pelatih dari Rumania.
Meskipun kursus tersebut hanya berlangsung selama satu hari, namun nyatanya mampu menarik Lia untuk semakin dalam mempelajari dan mengembangkan kerajinan lukis kaca.
“Saya mengenal dan belajar seni melukis kaca dari orang Rumania. Di sana orang Rumania tersebut mengajarkan bahwa melukis tidak hanya bisa dilakukan di atas kanvas saja tapi juga bisa dilakukan di atas media kaca. Dari situ kemudian saya mulai mencoba mengembangkannya sendiri dari ilmu yang saya pelajari pada saat kursus,” kisahnya.
Lebih lanjut Lita mengaku sebenarnya ia tidak pernah ada niat untuk menjadikan hobi melukisnya tersebut sebagai peluang usaha. Lita pada saat itu telah bekerja di dunia pendidikan. Tapi setelah berjalannya waktu dan sudah mengaplikasikan seni melukis gelas di beberapa media kaca, mulailah Lita terfikirkan untuk menjual karya-karyanya tersebut.
Setelah mengikuti suatu kegiatan bazar, ternyata sambutan masyarakat terhadap produknya cukup bagus. Dengan semakin banyak masyarakat yang mengetahui produknya, otomatis semakin hari produk kerajinan lukis kaca buatan Lita semakin banyak yang memesan. Hingga akhirnya Lita lebih memilih untuk lebih fokus untuk menggeluti usaha kerajinan lukis kaca dan meninggalkan pekerjaannya di dunia pendidikan.
Lita melanjutkan, awalnya ia hanya mencoba dari bahan daur ulang seperti botol-botol bekas untuk bisa dilukis. Dari situ akhirnya berkembang sehingga tidak hanya di botol bekas, tetapi juga di semua media berbahan kaca bisa ia lukis, seperti toples.
“Kalau toples biasanya yang banyak peminatnya ketika menjelang hari lebaran. Sedangkan untuk suvenir biasanya untuk pernikahan,” ucapnya.
Lita mengatakan, cat yang digunakan untuk melukis di atas media kaca adalah cat khusus untuk kaca yang bahannya sendiri memang masih impor dari luar negeri. Sekarang banyak dijual di Indonesia dan mudah didapat. Sedangkan untuk harganya, Lita mematok harga mulai dari 20 ribu rupiah sampai dengan jutaan rupiah tergantung media dan tingkat kerumitan pola yang dilukis.
“Terus terang produk saya terkenal memang lebih mahal, karena di sini saya benar-benar mengutamakan kualitas. Walaupun dibilang produknya sama dengan yang lain, tapi coba dilihat kualitas dan seninya. Jadi konsumen berhak memilih apa yang terbaik buat dia,” ungkapnya.
Menurutnya, yang membedakan produknya dengan produk yang lainnya adalah tarikan garis pada setiap lukisannya. Karena ia sendiri memang tidak membuat sebuah pakem untuk menjadi ciri khas dari produknya.
Lebih lanjut, selain kerajinan seni glass painting, sejak 2013 Lita mulai mengembangkan usahanya seni menempelkan tisu atau sering disebut decoupage. Karena Lita merasa bagaimanapun juga agar tetap bisa bertahan dirinya harus bisa mengikuti perkembangan zaman dan terus berinovasi.
“Sebenarnya kerajinan decoupage ini mudah, sudah banyak orang yang bisa melakukannya. Tetapi di sini yang membedakan adalah cara pengguntingan dan peletakannya di suatu media karena harus ada nilai seninya,” ujarnya.
Untuk harga kerajinan decoupage, Lita membanderol harga mulai dari 35 ribu hingga ratusan ribu rupiah.

Sementara itu, untuk memasarkan kedua produk kerajinannya tersebut (glass painting dan decoupage) Lita lebih banyak berkiprah dalam pameran-pameran yang biasanya difasilitasi oleh Pemerintah Kota Malang seperti Dinas Koperasi, Dinas Perindustrian dan Perdagangan hingga Pemerintah Provinsi.
Tidak hanya mengikuti pameran di berbagai daerah di dalam negeri, Lita juga sering mengikuti pameran di luar negeri di antaranya di Bulgaria, Austria, Kroasia dan terakhir di Korea.
“Bisa dibilang saya dan produk saya di besarkan oleh pemerintah terutama pemerintah kota Malang. Karena dari situlah saya bisa mengikuti pemeran di berbagai daerah hingga di beberapa negara. Setiap bulan pasti ada satu atau dua pameran yang saya ikuti,” tandasnya.
Sedangkan untuk omzet usahanya, menurut Lita masih pasang surut tergantung jenis dan lokasi event pameran yang ia ikuti.
“Kalau pamerannya di Malang omsetnya sekitar 10 juta rupiah. Sedangkan kalau di Jakarta seperti kegiatan pameran Inacraft omzetnya bisa mencapai 75-100 juta rupiah,” terangnya.
Berbicara mengenai Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), Lita mengaku tidak terlalu mempersoalkannya. Karena menurutnya selama ia bisa terus berinovasi dan mempertahankan kualitas produknya, Lita yakin tetap bisa bersaing di era MEA.
