Becak Tradisional, Ikon Kota Makassar di Ambang Kepunahan
MAKASSAR — Sampara tampak tersenyum kepada semua pejalan kaki yang melintasi jalan Mesjid Raya. Sesekali dia menawarkan jasa tranportasi yang dirinya gunakan. Lelaki kelahiran Jeneponto 54 tahun silam masih tetap setia mencari nafkah dengan becak sepeda.
Sampara yang telah putus sekolah sejak kelas 4 SD ini hanya piawai mengenjot alat transportasi beroda tiga itu. Setiap hari Sampara mangkal di Jalan Masjid Raya menanti penumpang yang ingin menggunakan jasanya. Sampara adalah salah satu orang yang masih tetap mempertahankan eksistensi becak sepeda di Makassar.
Menurut Sampara sejak bermunculannya becak motor dan juga ojek online dirinya sudah agak sulit mendapat penumpang.
“Terkadang saya hanya mendapat 2 orang penumpang dan bahkan saya pernah tidak mendapatkan penumpang sama sekali,” jelas Sampara pada Cendana News.
Jika kita mengamati di setiap sudut Kota Makassar keberadaan becak sepeda ini bisa di hitung menggunakan jari. Keberadaan becak ini telah lama tergeserkan dengan adanya becak motor. Dan seriring dengan perkembangan zaman becak motor pun akhirnya kalah pamor dengan adanya ojek online.
Sampara merasa perubahan ini terjadi sejak 2005 dan awal 2006. Becak-becak tradisional digantikan dengan becak yang bertenaga mesin yang seperti sekarang ini. Di Kota Makassar, menurut Sampara hanya ada satu juragan becak yang masih bertahan, yaitu yang bernama Rustam.
Sampara bercerita becak yang dibawanya dia sewa dari Rustam yang tinggal di Jalan Lamuru. Total becak yang dipunyai Rustam hanya 10 unit.
“Sehari saya harus bayar (setor) sekitar Rp20.000 rupiah untuk mencari nafkah di Makassar ini. Terkadang juga saya juga tidak membayar karena tidak mendapat penumpang”. ceritanya.
Dalam sebulan Sampara hanya mampu mengirim Rp300.000 hingga Rp500.000 untuk istrinya yang ada di Kabupaten Jeneponto dari hasilnya menarik becak tradisional ini. Sampara sendiri harus rela tidur di emperan toko karena tidak sanggup menyewa sebuah kamar untuk berlindung.
Bahkan, Sampara sesekali pulang ke kampung untuk nyambi jadi seoran petani di Jeneponto. Ini dikarenakan karena penumpang yang sudah tidak mau lagi menaikki alat transportasi ini.
Sampara menambahkan zaman sekarang yang semuanya serba cepat sulit bagi dirinya untuk bersaing.
Untungnya masih ada warga Kota Makassar ada yang bersimpati pada becak tradisional. Di antaranya Rosita salah seorang pelajar SMP negeri di Makassar. Dirinya lebih menyukai naik becak tradisional dibandingkan naik bentor.
Menurut Rosita becak tradisional ini sekarang jarang kita jumpai jika kita melihat hanya beberapa saja. Padahal becak itu ikon Kota Makassar.
“Yang saya tahu becak itu merupakan ikon dari Kota Makassar. Kalau tidak dilestarikan becak ini pasti akan punah dan hilang,” cetus Rosi.