Tradisi Parang Pisang Pemberitahuan Telah Lahirnya Anak Kembar Sepasang

PAINAN — Dipenghujung lebaran Idul Fitri 1438 H masyarakat di Pasar Surantih, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat, dihebohkan dengan perayaan tradisi parang pisang (perang pisang muda yang direbus). Tradisi ini dilakukan setelah lahirnya anak kembar sepasang (laki-laki dan perempuan).

Menurut keterangan dari ayah yang beruntung memiliki anak kembar tersebut, Riswan, tradisi parang pisang itu sudah dilakukan sejak zaman nenek moyang apabila lahirnya anak kembar sepasang. Tujuan tradisi itu dilakukan, agar kelak dewasa nanti, kedua anak tersebut tidak muncul rasa suka antara beradik kakak.

“Kenapa ada perang pisang ini, karena dari pihak keluarga bako (keluarga ayah) berupaya mengambil salah seorang anak itu. Lalu kenapa pisang, karena di Surantih ini pisang sangat mudah didapatkan, sebab cukup banyak masyarakat yang berkebun pisang,” katanya, Sabtu (1/6/2017).

Ia menyebutkan, jika tradisi itu tidak dilakukan, maka di masa mendatang akan timbul fitnah di kalangan masyarakat apabila mereka (kembar) berjalan berdua, yang mana masyarakat ada yang tidak tau kalau sebenarnya mereka adalah kembar.

Untuk itu, melalui tradisi tersebut sembari memberitahu dan memperkenalkan kepada masyarakat, bahwa telah lahir anak kembar sepasang. Sehingga kekhawatiran terkait mereka dewasa nanti, tidak terjadi.

Sementara itu, ibu dari anak kembar tersebut Fitria Sari juga mengatakan, tidak pernah terpikirkan akan memiliki anak kembar atau bahkan kembar sepasang. Karena sebelum memiliki anak kembar itu, ia telah memiliki seorang anak yang berjenis kelamain laki-laki.

“Kembar ini merupakan kedua saya yang lahir 5 April 2017. Kakaknya yang laki-laki kami berinama Muhammad Arsya Al Faris. Lalu adiknya yang perempuan Arsila Putri Al Faris,” ungkapnya.

Fitri menyatakan, jika berbiacara tradisi, sebaiknya ketika batu dilahirkan tersebut. Hanya saja, ada beberapa pertimbangan, makanya tradisi parang pisang baru dilakukan setelah berusia 3 bulan ini.

Sebelum adanya parang pisang ini, dari pihak keluarga ayah dan ibu mempersiapkan sebentuk perayaan yang peserta semuanya adalah para ibu-ibu dan bahkan para nenek. Para ibu-ibu itu, akan mengenakan berkostum Simuntu, tentara, polisi, pengantin, dan memainkan kuda lumping yang terbuat sari pelapa pohon pinang.

Dari pihak keluarga ayah, akan melakukan arak-arakan dari rumah menunju ke rumah ibu dari anak kembar tersebut. Setiba di sana, nanti rombongan yang melakukan perjalanan arak-arakan itu, disambut dengan cara bersahutan pantun. Dalam penyambutan itu, nantinya ada kata untuk mengambil salah seorang anak itu, sehingga timbulah perlawanan dan terjadilah parang pisang, yang saling melemparkan antara kedua pihak.

Lihat juga...