Ternak Beranak, Warga Totoharjo Gelar Saweran
LAMPUNG — Memiliki tambahan ternak dari indukan yang telah beranak, bagi petani pesisir Desa Totoharjo yang menghadap ke Selat Sunda, merupakan anugerah yang sangat bernilai. Sebagai ungkapan rasa terima kasih dan syukur kepada Sang Pencipta, Wasni (58) dan suaminya. Maktub (60), pun melakukan tradisi saweran dan bancakan.

Menurut Wasni, tradisi saweran dan makan bersama atau bancakan dilakukan saat sore hari, di mana anak-anak di Dusun Karangendah, Desa Totoharjo, sudah pulang dari sekolah dan menjelang waktu pengajian anak-anak di desa tersebut. Saweran yang dilakukan oleh Warni merupakan kegiatan menaburkan uang-uang koin pecahan Rp500 hingga Rp1000 bersama dengan beras kuning yang disebarkan ke atas langit, dan akan dipungut oleh anak-anak yang ikut saweran.
“Saya menyiapkan uang senilai seratus ribu rupiah dalam pecahan uang lima ratus hingga seribu, dan makna menaburkan dari atas mengingatkan Tuhan sebagai pemberi rejeki dan membagikan kepada sesama manusia sebagai ungkapan syukur rejeki yang kita peroleh dibagikan kepada sesama,” terang Wasni, saat ditemui seusai melakukan tradisi saweran Senin (24/7/2017), sore.
Seusai saweran yang dilakukan di atas rerumputan depan rumahnya, anak-anak yang telah mendapatkan uang berbagai pecahan akan mencuci tangan untuk menyiapkan acara lanjutan yang dikenal dengan acara riungan atau bancakan. Sang pemilik rumah, ungkap Wasni, yang dipimpin oleh sang suami akan melakukan doa untuk mengungkapkan syukur atas keselamatan, rejeki khususnya atas berkat tambahan ternak yang beranak. Selain itu, memohon keselamatan keluarga dan perkembangan ternak yang dipelihara oleh sang empunya, agar ternak yang dipelihara beranak-pinak dan menjadi sumber kesejahteraan bagi pemilik.

Wasni yang memiliki sepasang ternak sapi jenis peranakan lokal berwarna putih atau dikenal dengan sapi peranakan ongole (PO), mengungkapkan tradisi turun-temurun dikenal dengan among-among tersebut masih dilestarikan di desa pesisir tersebut. Memiliki barang baru dalam hal ini ternak yang baru dilahirkan, merupakan bentuk rejeki yang harus disyukuri dan dibagikan kepada tetangga sekitar.
Beberapa ungkapan syukur diwujudkan dalam saweran dan bancakan juga dilakukan oleh warga saat peristiwa lain, di antaranya membeli kendaraan baru, selesai panen padi, membuat rumah baru dan ulang tahun. Meski menggunakan menu sederhana, tradisi yang masih dipertahankan tersebut diakui Wasni menjadi kegiatan yang disukai anak-anak dan mempererat kebersamaan.
Bagi para suami yang tidak bisa hadir, among-among berupa nasi, kerupuk, ayam goreng dan urap akan dibungkuskan dengan daun pisang dan dibawa pulang oleh setiap ibu rumah tangga yang hadir dalam saweran dan bancakan tersebut.
Keceriaan anak-anak yang menikmati hidangan beralaskan daun pisang tersebut cukup terasa, karena selain mendapatkan makanan gratis, juga mendapatkan uang dari saweran.
Asni, salah satu anak yang duduk di bangku sekolah dasar mengaku saat paling ditunggu anak-anak di desa tersebut adalah saweran dan bancakan dalam momen ulang tahun, ternak beranak, membeli barang baru dan ungkapan syukur lain, karena anak-anak yang jumlahnya sekitar 30-an di dusun tersebut akan diundang tanpa terkecuali.
“Senang bisa makan bersama dengan beralaskan daun pisang, karena acara seperti ini jarang terjadi, sebulan sekali saja sudah bagus”, terang Asni.
Asni juga menyebut, meski zaman sudah modern, namun di dusunnya tradisi saweran dan bancakan tersebut masih cukup kental dirasakan. Bahkan, wilayah yang berada di tepi pesisir pantai pada saat tertentu menjelang pergantian tahun, menjelang bulan suci Ramadan dan juga hari raya kurban, tanda ungkapan syukur dilakukan dengan bancakan di tepi pantai dengan bakar ikan, ayam dan menyantapnya secara bersama.