Pesona SBC, Batik sebagai Astamurti Kawijayan

SOLO – Memasuki usia ke 10 tahun, Solo Batik Carnival (SBC), Solo, Jawa Tengah, mempunyai nuansa berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya. Pada SBC yang mengangkat tema Astamurti Kawijayan, mencoba mengangkat pesona batik sebagai salah satu bentuk dari kejayaan cipta, rasa, dan karsa budaya Indonesia.

Ketua Yayasan SBC, Ir. Susanto menjelaskan, dipilihnya Astamurti Kawijayan sebagai tema dalam helatan SBC ke-X sebagai momentum untuk memperkuat Solo tak hanya sebagai kota budaya, namun juga menjadi even untuk melestarikan batik sebagai salah satu warisan dunia.

“Makna SBC X sebagai wujud kejayaan tradisi budaya jawa yang merupakan karya nenek moyang. Sebagai warisan dunia, batik merupakan perwujudan budaya yang luar biasa,” ucapnya di sela-sela diselenggarakannya kirab SBC, di Rumah Dinas Wali Kota Solo, Lojigandrung, Sabtu (15/7/2017), sore.

Tampil menawan, motif burung merak sebagai kostum SBC X. Foto: Harun Alrosid

Selain mengangkat Astamurti Kawijayan, SBC X juga mengangkat pesona wayang, topeng, sekar jagad, legenda, Mustika Jawa Dhipa, dan Jathayu. Keenam pesona tersebut diwujudkan dalam pembuatan kostum yang megah dengan batik sebagai bahan dasarnya. SBC 2017 tak hanya diikuti peserta lokal Solo, namun juga perwakilan batik carnival dari kota besar di Indonesia lainnya ikut turut memeriahkan.

“Ada sekitar 230 peserta yang menampilkan kostum batik terbaiknya. Seluruh peserta telah mengikuti workshop selama 3 bulan, baik pengarahan dalam pembuatan kostum, make up, koreografi, hingga seluruh peserta bisa tampil maksimal dalam Grand Carnival,” tekan Susanto.

Menurut Susanto, SBC X digelar selama 3 hari berturut-turut, mulai 14-16 Juli 2017, pukul 15.000 WIB sampai 22.00 WIB. Dipusatkan di Benteng Vasternburg. Grand Carnival sendiri diselenggarakan dengan kirab dari Stadiun R. Maladi, Sriwedari menyusuri jalan Slamet Riyadi, hingga finis di Benteng Vasternburg.

Puncak SBC X dengan kirab ini menampilkan beberapa special performers dari Jember Fashion Carnaval dan Cirebon Caruban Carnaval. Masing-masing penampilan dari tamu spesial itu menampilkan karya terbaik dengan diikuti 80 peserta. Sedangkan yang berbeda dalam SBC X, menampilkan kostum terbaik mulai dari SBC I sampai SBC 9. “Diharapkan SBC kali ini lebih baik dari sebelumnya dan menjadi kebanggaan Kota Solo serta dapat dibanggakan di dunia internasional,” tandasnya.

Tampil menawan, peserta SBC X dari anak-anak. Foto: Harun Alrosid

Sementara itu, Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo menambahkan, SBC yang sudah memasuki usia ke 10 tahun, sekarang menjadi tahun yang menentukan. Sebab, dengan usia yang sudah 10 tahun sudah harus melahirkan desainer-desainer muda yang dapat diunggulkan di mata dunia. Inovasi dalam kostum SBC harus semakin lebih baik dan memiliki nilai yang tinggi. Orang nomor satu di Kota Bengawan ini juga berharap, pelaksanaan SBC ke XI yang akan datang bisa semakin lebih baik.

“SBC ini sebenarnya tidak untuk gagah-gagahan, tetapi untuk melahirkan desainer muda yang inovatif dan kreatif. Nah, tentunya desainer muda SBC ini terus kita dorong sehingga menjadi desainer internasional,” pungkas pria yang akrab disapa Rudy tersebut.

Lihat juga...