Persoalkan Layanan, Forum Peduli Kesehatan Orang Miskin Demo

Rumah Sakit umum U St.Gabriel Kewapante Maumere. Foto : Ebed de Rosary

MAUMERE – Puluhan warga kecamatan Kewapante kabupaten Sikka yang terdiri dari anak muda dan para orang tua yang tergabung dalam Forum Peduli Kesehatan Orang-Orang Miskin Kecamatan Kewapante, Selasa (4/7/2017) berdemo ke kantor Dinas Kesehatan (Dinkes) kabupaten Sikka.

Dalam pernyataan sikap yang disampaikan saat berdialog dengan kepala dinas Kesehatan kabupaten Sikka dr. Maria Bernadina Sada Nenu, MPH ketua forum Marianus Moa, SH, MH mengatakan, kedatangan warga Kewapante untuk menyampaikan berbagai permasalahan yang dialami warga.

Dikatakan Marianus, pihaknya ingin mendapatkan penjelasan apakah pendirian Rumah Sakit Umum (RSU) St. Gabriel Kewapante sudah memenuhi syarat-syarat sesuai ketentuan hukum yang berlaku dalam hal ini  undang-undang tentang rumah sakit dan Kesehatan yakni UU No. 36 Tahun 2009.

“Kami ingin menanyakan apakah penerapan BPJS kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan di semua rumah sakit umum sama, ataukah ada perbedaan?” tanyanya.

Selain itu kata salah seorang advokat di Sikka ini, warga miskin ingin mendapatkan penjelasan apakah ada perbedaan pelayanan pasien yang menggunakan BPJS Kesehatan dan pasien berduit atau yang tidak menggunakan jasa BPJS Kesehatan di rumah sakit.

Manajemen di RSU St. Gabriel Kewapante, tandas Marianus, menetapkan biaya atau rekening pembayaran kepada pasien, baik yang sudah meninggal dunia ataupun yang sembuh tanpa perincian dan jika ada keluarga pasien yang minta perincian, tidak dilayani kecuali pasien atau keluarga mengamuk baru rincian diberikan.

“Pernah ada pasien yang dirawat  semalam di rumah sakit swasta ini dan meninggal dunia diharuskan membayar 5 juta rupiah tanpa ada perincian biaya perawatan yang dibebankan kepada pasien,” tegasnya.

Pernah juga lanjut Marianus, ada pasien yang dirawat hanya 2 malam dan diharuskan membayar 3,8 juta rupiah tanpa ada perinciannya sehingga pihaknya bertanya apakah untuk menetapkan biaya rawat adalah rahasia dari pemilik atau pengelolah RSU St. Gabriel Kewapante yang tidak perlu diketahui oleh pasien atau keluarga pasien.

“Selaku dinas, teknis apakah yang secara kontinyu sudah dilakukan guna pengawasan terhadap kinerja pelayanan di RSU St. Gabriel Kewapante dan apakah ada sanksi apabila ada pelanggaran yang dilakukan oleh pihak pengelola rumah sakit?” ungkapnya.

Marianus pun menyayangkan ada seorang warga Kewapante yang sakit dan berobat ke rumah sakit ini dua hari lalu jam 2 malam tetapi tidak mendapatkan pelayanan. Jam 9 pagi baru dilayani dan untung saja pasien tidak meninggal dunia sehingga bisa hadir dan mengikuti dialog.

“Pasien dibiarkan saja dan untung nyawanya tidak melayang, alasan dari petugas bahwa sopir ambulance tidak ada dan kami orang miskin tidak tahu siapa yang salah,” paparnya.

Marianus Moa,SH,MH ketua forumpeduli kesehatan orang-orang miskin Kewapante. Foto : Ebed de Rosary

Hal senada juga disampaikan Sekretaris Forum, Marsel Isak, yang juga mempersoalkan pelayan kesehatan yang diberikan pihak rumah sakit bahkan kepada warga sekitar yang mendapat pelayanan kesehatan pun dipersulit.

Marsel juga mempersoalkan adanya pelayanan kesehatan di rumah sakit tersebut yang seolah pilih kasih, lebih mementingkan pasien yang kaya sementara warga sekitar yang nota bene orang miskin tidak dilayani.

“Ada pasien yang diberikan obat tetapi hanya diberi obat sebutir saja setiap kali jadwal minum obat, tanpa diketahui pasien sehingga saya bertanya, apakah nanti pembayarannya dihitung per butir ataukah satu strip atau botol?” tanyanya.

Saat pasien meminta ditunjukkan bungkusan obatnya, kata Marsel, perawat mengatakan kalau diberikan semuanya ke pasien maka pasien akan membuang sehingga pihaknya juga bertanya apakah ini standar pelayan yang baku atau tidak. Sebab di rumah sakit TC. Hillers Maumere tidak seperti itu.

Lihat juga...