Malioboro, Kawasan Publik Fenomenal Yang Tak Pernah Mati
YOGYAKARTA — Sebagai Kota Pariwisata, Kota Budaya, sekaligus Kota Pelajar, keberadaan ruang publik menjadi sangat penting bagi Yogyakarta. Tak sekedar menjadi tempat berkumpul dan berinteraksi bagi masyarakat setempat, keberadaan ruang publik juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk menghabiskan waktu menikmati suasana kota.
Di Yogyakarta sendiri, sejumlah ruang publik tumbuh dan terbentuk sebagai bagian konsep tata kota yang berpusat pada Kraton. Dua area publik terbesar berada di kawasan ini yakni Alun-Alun Utara dan Alun-Alun Selatan yang biasa digunakan sebagai ajang berkumpul sekaligus menyelenggarakan berbagai kegiatan. ko
Tak hanya itu, sejumlah ruang publik lainnya juga tercipta di kawasan ini. Salah satunya adalah kawasan Titik Nol Kilometer dan Jalan Malioboro yang telah menjadi icon wisata sekaligus icon kota Yogyakarta yang melegenda. Berada di jalur Sumbu Imajiner yang menjadi filosofi Kota Yogyakarta, kawasan ini tumbuh sebagai ruang publik yang tak pernah sepi pengunjung.
Hampir setiap hari, mulai sejak pagi hingga tengah malam, kawasan ini selalu dipenuhi oleh warga masyarakat baik wisatawan atau penduduk lokal untuk menghabiskan waktu dan menikmati suasasa. Dinas Pariwisata DIY, sendiri mengakui Malioboro masih menjadi daya tarik terbesar bagi wisatawan untuk berkunjung ke Yogyakarta.
“Hingga saat ini Malioboro masih menjadi daya tarik utama wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Khusunya bagi mereka yang ingin menikmati suasana khas kota Jogja,” ujar Kasi Promosi Pariwisata Dinas Pariwisata DIY, Putu Kertiyasa belum lama ini.
Melihat fakta tersebut, Pemerintah DIY sendiri terus berupaya melalukan berbagai upaya penataan secara bertahap di kawasan Malioboro. Setahun terakhir kawasan Malioboro disulap menjadi kawasan semi pedestrian.
Seluruh area trotoar sisi timur Jalan Malioboro yang sebelumnya digunakan sebagai tempat parkir kendaraan, berhasil ditata dan difungsikan untuk pejalan kaki.
Sejumlah layanan mulai dari bangku tempat beristirahat, air siap minum, layanan WIFi, hingga kendaraan sepeda kayuh gratis disiapkan pengelola guna memberikan kenyamanan bagi setiap pengunjung Malioboro.
Penataan ini, diakui para pengunjung baik itu wisatawan maupun warga setempat, mampu membuat Malioboro sebagai ruang publik sekaligus tempat wisata, menjadi lebih nyaman untuk dikunjungi.
“Tahun lalu, saat berlibur ke Jogja, masih banyak motor yang diparkir di kawasan Malioboro ini. Sekarang sudah tidak ada lagi. Sekarang jauh lebih nyaman. Kita bisa leluasa bersantai sambil duduk-duduk disini,” ujar salah seorang pengunjung Indrati Puji.
Meski mengalami banyak perkembangan positif, bukan berarti tak ada kekurangan yang harus dibenahi. Masih adanya sejumlah pedagang warung lesehan atau kaki lima nakal yang memberikan harga secara tidak wajar pada pengunjung, khususnya saat hari tertentu seperti masa libur Lebaran.
Fenomena menjadi PR tersendiri bagi pengelola. Tak hanya itu, minimnya sarana-prasarana seperti toilet, tempat sampah, pohon peneduh saat siang hari, hingga ketersediaan lahan parkir juga menjadi persoalan yang harus segera diatasi.